Analisa Dampak Virus Corona Terhadap Semua Efek

oleh -
Img 20200318 053546

Oleh : Syech Rifani Juhri, SH. MM.

Mulai awal tahun 2020, Dunia diguncangkan dengan kabar munculnya wabah penyakit baru dari Virus Corona yang cukup meresahkan karena penyebarannya yang begitu cepat dan mematikan.

Virus Corona telah diberi nama resmi Covid-19 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelum statusnya dinaikan menjadi Pademi.

Secara global virus Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 168.000 orang, dan menewaskan sedikitnya 6.610 orang. Angka yang cukup fantastis mengingat hanya dalam waktu kurang lebih 3 bulan sejak awal tahun 2020 penyebarannya sudah sangat mendunia.

Bahkan saat ini WHO telah menaikkan status Virus Corona menjadi Pandemi atau emergency, seperti yang disampaikan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom, bahwa Pandemi bukanlah kata yang digunakan untuk sesuatu hal yang ringan atau gegabah. Artinya dalam pandangan WHO dalam kasus Virus Corona sudah menginjak level yang sangat membahayakan dan mengancam keselamatan dunia. Meski sudah memiliki nama resminya, nampaknya masyarakat Indonesia lebih familiar dengan istilah Corona dari pada Covid-19.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Pada tanggal 2 Maret 2020, akhirnya Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan kasus pertama yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia. Kemarin pada tanggal 17 Maret 2020, pukul 19.00 WIB, Pemerintah telah mengonfirmasi bahwa yang terinfeksi virus corona ini telah mencapai 174 orang. Angka yang cukup tinggi untuk ukuran Indonesia.

Panik

Sejak kemunculan pertama Covid-19 sampai dengan penyebarannya yang sangat luas, berhasil menciptakan kepanikan di seluruh dunia khususnya di seluruh negara terjangkit, tanpa terkecuali di Indonesia. Sejak pengumuman kasus positif pertamanya, terjadi panic buying di beberapa kota tempat korban terjangkit. Bagaimana masyarakat berbondong-bondong untuk membeli keperluan bahan-bahan pokok di supermarket dan bahkan sampai yang paling ekstrim adalah menjadi langkanya masker dan melangitnya harga masker karena semua orang memburunya. Tak berhenti sampai di situ, kemunculan stigma negatif di masyarakat terhadap para korban Virus Corona pun turut meresahkan.

Bagaimana tidak?

Kita ingat betul ketika terdengar berita kasus positif pertama kali yang menyerang seorang Ibu dan anaknya di wilayah Depok, Provinsi Jawa Barat. Sontak ini menghebohkan, identitas para korban dicari-cari, bahkan sampai rumahnya didatangi dan diburu seakan para korban ini adalah pelaku kejahatan yang harus segera dihukum mati hanya karena mereka terjangkit Virus Corona.

Akhirnya, virus corona ini seakan menjadi sebuah aib yang sangat besar seperti melebihi aib manapun. Yang ditakutkan adalah justru orang-orang menjadi takut memeriksakan dirinya ketika terjadi gejala-gejala. Orang-orang menjadi lebih menutup diri karena takut dirinya benar-benar terjangkit dan tidak ingin melapor. Dia tetap melakukan banyak aktivitas seperti biasanya dengan membawa virus ini ke mana-mana.

Jadi, manakah yang lebih berbahaya?

Sebenarnya, bukan karena virus pertamanya yang terkonfimasi positif yang membuat kita panik dan was-was. Tetapi karena reaksi dan efek yang timbul setelahnya yang justru membuat kita panik. Reaksi kepanikan, efek ketakutannya yang membuat was-was, dan bahkan indikasi surutnya rasa kemanusiaan yang lebih berbahaya.

Kabar baiknya, pada Senin (16/3/2020) Pasien 01, 02, dan 03 telah dinyatakan sembuh dan sehat oleh Juru Bicara Pemerintah Khusus Covid-19. Kemudian mempersilahkan ketiganya untuk berbicara dan bercerita di depan publik dan barangkali pernyataan mereka cukup menampar kita semua.

Menyedihkan sekali bukan ?

Akhirnya setelah mendengar pernyataan mereka itu, kita benar-benar terpukul dan tergerak untuk menulis tulisan ini. Bagaimana stigma negatif ini menjalar di masyarakat. Padahal virus corana ini tidak pandang bulu, siapa pun bisa tertular dan menularkan. Maka mulai dari diri kita masing-masing, mari kita tanggalkan stigma negatif itu dan senantiasa mendukung secara moral kepada seluruh “korban” yang terjangkit dan tidak perlu panik. Ini harus menjadi perhatian bersama, dan tentunya bersama melawannya dengan melakukan hal-hal sesuai arahan dari Pemerintah Republik Indonesia.
Terakhir, Conner Reed seorang pria berkewarganegaraan Inggris yang berhasil selamat dari Covid-19 menyatakan, “Jangan Panik, karena panik tidak akan membantu siapapun. Jika proses isolasi dilakukan di mana semua orang harus diisolasi, mereka seharusnya tidak memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan orang lain. kalau kalian terinfeksi Virus Corona, jangan keluar dan berinteraksi dengan orang lain. tetaplah di rumah. Bukan karena kalian merasa tidak nyaman, tetapi untuk melindungi orang-orang di sekitarmu”.

Bagaimana dampak semua aspek ?

Dampak virus corona diperkirakan akan berimbas cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto menyebut, “kondisi itu dapat muncul karena Tiongkok menjadi salah satu negara tujuan ekspor Tanah Air”. Kami melihat pertumbuhan ekonomi China dapat melambat signifikan tahun ini. Imbasnya ke Indonesia terutama pada ekspor barang mentah, seperti batu bara dan sawit.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah Redjalam berpendapat pandemi virus corona akan berimbas sangat cepat ke sektor keuangan dan pariwisata. IHSG (indeks harga saham gabungan) sudah turun drastis dan rupiah terdepresiasi akibat sentimen negatif yang muncul. Di sektor pariwisata diperkirakan jumlah wisatawan dari Tiongkok akan menurun drastis.
Apalagi saat ini pemerintah Beijing menerapkan karantina kepada puluhan juta warganya untuk menghindari penyebaran penyakit pernapasan yang awalnya muncul di kota Wuhan tersebut.
Penurunan jumlah turis otomatis berdampak ke bisnis lainnya, seperti transportasi, hotel, restoran, tempat wisata, dan lainnya. Di sisi lain, kebijakan menghentikan impor barang dari China akan menghantam sektor industri.
Ada potensi berkurangnya ketersediaan bahan baku untuk industri manufaktur kita, Dampak negatif virus corona ke perekonomian mulai berkurang. Pasalnya, para ahli sedang mengembangkan vaksin untuk menghambat pertumbuhan virus itu. Tiongkok juga sudah memiliki rumah sakit khusus penanganan virus tersebut di Wuhan.
Pelaku pasar akan lebih memperhatikan kondisi makro ekonomi domestik, seperti defisit neraca dagang dan perkembangan rencana penerbitan omnibus law.
Berbagai sektor ekonomi tergerus akan ketidakpastian global beberapa waktu belakangan ini. Semua bisa terjadi karena mewabahnya pandemi Covid-19 atau virus Corona memperparah keadaan. Pemerintah pun gelimpungan mencari cara agar masyarakat tetap sehat namun kegiatan ekonomi tetap harus berjalan seperti biasanya dan tidak boleh berhenti.
Namun jika datangnya virus Corona memaksa masyarakat Indonesia untuk “beristirahat”, mau tak mau, akan ada beragam kejutan dalam kegiatan ekonomi, baik dari kebiasaan kultural hingga kebijakan-kebijakan yang digelontorkan oleh Pemerintah.

Lockdown ?

Opsi lockdown langsung terbesit di benak semua pihak, mengingat negara-negara yang juga terpapar Virus Corona seperti Spanyol dan Italia sudah menerapkan hal ini. Namun, apakah Jakarta perlu benar-benar di-lockdown ?
Sebagai salah satu opsi antisipasi perluasan penyebaran virus Corona, lockdown ini mesti disikapi dengan sangat hati-hati. Ada baiknya tidak mengambil kebijakan yang justru memantik kontraksi ekonomi.
Pemerintah harus ingat bahwa Jakarta adalah nadi ekonomi nasional, yang jika aktivitas ekonominya berhenti, diisolasi dan dikunci, pasti ekonomi akan mengalami kontraksi serta inflasi. Dan secara langsung, imbas lockdown juga akan memukul rakyat baik kalangan pengusaha maupun kaum menengah ke bawah.
Lockdown bagi sebagian besar masyarakat menengah ke bawah dan UMKM, memiliki arti berhenti mencari makan. Untuk pengusaha, lockdown berarti berhenti berproduksi, namun tetap harus membayar gaji.
Sehingga, yang harus Pemerintah lakukan ialah menetapkan protokol darurat Virus Corona secara komprehensif dan mendetail, menentukan lembaga yang bertanggung jawab secara umum dan sektoral, menentukan sumber pembiayaannya dan memastikan aksesibilitas kinerjanya secara transparan.
Kebijakan tersebut akan memperjelas kapasitas dan fungsi masing-masing lembaga, yang bisa diupdate setiap waktu hasilnya. Opsi ini jauh lebih baik daripada mendelegasikan wewenang penentuan sikap ke daerah-daerah.

Solusi / Work From Home ?

Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah telah mengeluarkan intruksi bekerja dirumah kepada setiap warga, bahkan pemerintah sendiri sudah meliburkan sekolah dan memerintahkan ASN untuk bekerja dari rumah mereka masing – masing, kebijakan ini di ambil untuk mencegah penyebaran Virus Corona yang makin mengkhawatirkan di tanah air.
Kebijakan Work From Home tidak hanya diambil oleh Pemerintah Indonesia, banyak negara lain melakukan hal yang sama untuk mencegah Virus Corona, China menutup seluruh Kota Wuhan untuk melawan virus tersebut, Korea Selatan menutup Kota Degu, Italia sampai sekarang seluruh kotanya masih lockdown.
Begitu juga dengan Iran, malah di Negara para mualaf tersebut membebaskan 70 ribu tahanan setelah virus corona ditemukan didalam penjara.
Melihat cara negara lain memerangi virus Corona tidak ada yang salah dengan kebijakan Presiden dan Kepala Daerah kita membatasi tempat – tempat keramaian dan transformasi umum demi menjaga keselamatan warga negara.
Menumpuknya penumpang di stasiun Kereta Api dan Busway di akibatkan intruksi Presiden bukan tidak jalan, tapi para kapitalis yang menguasai kehidupan masyarakat kota tidak mau kehilangan keuntungannya, sehingga para pekerja tidak berani mengikuti intruksi Pemerintah Pusat, karena takut dipecat, Pemerintah Pusat harus menggunakan seluruh kekuasaannya memaksa para kapitalis untuk memberlakukan Work From Home.
Pemerintah juga harus menjamin para pekerja serta mencarikan solusi pada usaha-usaha yang berdampak langsung dengan kebijakan tersebut, sehingga dunia usaha tidak bangkrut.
Inilah fungsi Pemerintah Pusat diberikan kekuasaan yang besar dan uang yang banyak agar bisa menyelesaikan permasalah yang rumit.
Semua solusi ada ditangan Pemerintah Pusat, masyarakat hanya bisa mengikuti keinginan Pemerintah Pusat bila kehidupan mereka terjamin, bila kehidupan mereka terancam maka kebijakan Pemerintah Pusat tidak akan pernah di dengar, lebih baik mati karena virus corona dari pada anak istri mereka tidak makan, begitulah kira-kira pemikiran masyarakat kita.

Salah satunya poinnya, Kami menghimbau kepada semuanya untuk mendukung secara moral pasien yang terjangkit Covid-19. Untuk orang-orang di luar sana, jangan biarkan menghakimi pasien yang positif terjangkit Covid-19 ini dengan berbagai stigma negatif.