Ingin Bebaskan Bos Panti Pijat, Oknum Satpol PP Jakbar Diduga Markus

oleh -
Img 20201023 134618

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Mencoreng instansi, Oknum Satpol PP Kota Administrasi Jakarta Barat diduga Makelar Kasus (Markus). Sebelumnya bos Panti Pijat Wijaya bersama karyawanya tertangkap Tiga Pilar Kecamatan Kebon Jeruk saat menggelar Operasi Yustisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat di wilayahnya.

Bos panti pijat bersama anak buahnya ditangkap dan dikirim ke Panti Sosial Bina Karya Wanita Harapan Kedoya, Jakarta Barat karena membandel tetap membuka usahanya di saat PSBB. Namun Oknum Satpol PP tersebut meminta Keamanan mengeluarkan dengan memberikan imbalan.

Sebelumnya Bos Panti Pijat bersama anak buahnya dinyatakan terpapar virus Covid-19 setelah dilakukan tes Swab oleh Panti Sosial Bina Karya Wanita Harapan Kedoya, Jakarta Barat.

Salah satu keamanan Panti Sosial Bina Karya Wanita Harapan Kedoya mengatakan, kedatangan oknum Satpol PP yang berisinial W berusaha melobi dirinya agar bisa mengeluarkan Bos Panti Pijat beserta karyawannya.

“Oknum W meminta saya untuk mengeluarkan warga binaan, yang ditangkap Tiga Pilar disaat melakukan penggerebekan Panti Pijat Wijaya karena melanggar PSBB,” kata Keamanan tersebut saat dikonfirmasi awak media di Panti Sosial Bina Karya Wanita Harapan Kedoya, Senin (19/10/2020).

Keamanan tersebut juga menerangkan, W juga menawarkan sejumlah uang sebesar Rp 500 ribu sampai angka terakhir Rp 2 juta per kepala.

“W menawarkan ke saya, Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta perkepala. Namun saya tatap menolaknya, Walaupun nilainya sangat lumayan, dan oknum Satpol PP berkata, payah kamu,” jelas Keamanan.

Sementara W saat dikonfirmasi mengungkapkan, dirinya awalnya ingin membantu seorang pria yang datang sama anaknya.

“Awalnya datang seorang pria bersama anaknya, meminta tolong agar istrinya bisa dikeluarkan dari Panti Sosial,” ucap W saat dikonfirmasi di Walikota Jakarta Barat, Kamis (22/10/2020).

W sendiri membenarkan, bahwa dirinya mengatakan angka tersebut, namun tidak seperti yang diucapkan kemananan itu.

“Saya hanya meneruskan kata-katanya bapak itu, dan sampai saat ini bapak itu tidak ada kabarnya lagi,” ucapnya. (Budi Beler)