IPW Sesalkan Polisi Belum Tangkap Ali Kalora Cs

oleh -
Img 20201203 130511

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Sudah seminggu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kolara yang membunuh empat warga Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah dan membakar enam rumah serta satu gereja belum juga berhasil ditangkap aparatur kepolisian. Padahal jumlah teroris Poso itu hanya sekitar 20 orang. Hal tersebut dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane saat memberikan keteranganya melalui siaran persnya, Kamis (3/12/2020).

Informasi yang diperoleh IPW, setelah melakukan aksi teror, kelompok Ali Kolara kembali bersembunyi di hutan lebat Sulteng, sementara aparatur kepolisian yang ditugaskan memburu tidak berpengalaman di medan tempur hutan belantara.

“Dalam Medan tempur ada tiga katagori, hutan, gunung, dan perkotaan. Masing masing medan berbeda situasi dan karakteristiknya, sehingga strategi, stamina fisik personil, mental, dan peralatan yang harus dimiliki aparat juga harus berbeda. Personil kepolisian yang tidak punya pengalaman di Medan hutan, pasti takut untuk masuk hutan memburu Ali Kolara cs. Mereka hanya berada di luar hutan hingga waktu penempatannya di Poso berakhir dan akhirnya pulang ke Jawa. Akibatnya, Ali Kolara cs yang 20 orang itu tidak akan pernah tertangkap. Sejak 2016 mereka bebas menebar teror di Sulteng,” jelasnya.

IPW meminta, dengan apa yang diungkapkan diatas, untuk itu Mabes Polri perlu mengkonsolidasikan Brimob dan TNI yang memang punya pengalaman di Medan tempur hutan, untuk memburu teroris MTI itu. Densus 88 sekali pun tidak punya pengalaman di Medan tempur hutan. Mereka hanya piawai di perkotaan.

Syarat lain yang harus dipenuhi Mabes Polri adalah biaya operasional harus memadai dan tidak dipotong oknum pimpinan, begitu juga insentif bisa diperoleh utuh untuk ditinggal di rumah, peralatannya dipenuhi agar memadai, dan ada reward yang jelas ketika mereka berhasil menghabisi kelompok MTI, misalnya bisa mengikuti pendidikan atau memegang posisi jabatan.

“Jangan kosong kosong bae, sementara mereka harus menyambung nyawa di hutan. Jika tidak ada jaminan soal keempat hal itu jangan harap Ali Kolara cs bisa dihabisi. Strategi inilah yang perlu diperhatikan, sehingga Mabes Polri tidak hanya sekadar perintah kosong, sementara mereka melihat teman-temannya yang bertugas di belakang meja, di kota-kota di Jawa bisa sekolah dan gampang dapat jabatan empuk,” ucapnya.

Neta juga menerangkan, kasus Sigi semakin menunjukkan bahwa kelompok radikal dan garis keras keagamaan yang bersekutu dengan terorisme makin bercokol kuat di Indonesia. Sekecil apapun celah, mereka gunakan untuk membuat teror yang menakutkan masyarakat.

“Untuk itu Polri perlu bekerja cepat dan membuat strategi taktis untuk menangkap dan membongkar jaringan MTI di hutan maupun di luar hutan Sulteng. Sebab apa yg mereka lakukan di Sigi seperti sebuah sinyal bahwa kelompok radikal terorisme itu akan kembali menebar teror di berbagai tempat,” pungkasnya. (Budi Beler)