Korban Banjir Meninggal, Warga Keluhkan Posko Bencana Cengkareng

oleh -
Korban Banjir Meninggal
M. Yunus (kaos biru) Salahsatu anak Suhanda korban banjir meninggal dunia.

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Suhanda. Korban yang diduga meninggal lantaran kelelahan dan kedinginan saat bencana banjir melanda kawasan ibu kota dan sekitarnya.

Diduga minimnya bantuan dari pemerintah setempat, Suhanda akhirnya meninggal dunia, Kamis (2/1/2020) siang, disalahsatu Mushola yang dijadikan tempat pengungsian korban bencana banjir yang berada di RT 011/01 Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Hal itu dituturkan M Yunus, salahseorang anak korban kepada wartawan. Menurutnya sebelum orangtuanya meninggal, sempat mengeluh kedinginan disekujur tubuhnya. Posko bencana banjir tidak jauh dari pengungsian, tapi nihil bantuan dari pemerintah setempat.

“Boro boro ada bantuan dari pemerintah, melongok kamipun tidak,” kata Yunus di rumahnya, Jumat (3/1/2010).

Ia menilai, minimnya perhatian dari pemerintah kelurahan dan kecamatan Cengkareng, disinyalir lantaran kurang sigapnya para petugas yang bersiaga disekitar posko bencana banjir yang tidak jauh dari tempat meninggalnya almarhum.

“Saya tidak habis pikir, kenapa orangtua saya dan warga sekitar kami, bisa diabaikan dan seolah diterlantarkan, padahal posko siaga bencana tidak jauh dari tempat kami,” jelas Yunus.

Menurut dia, kejadian tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan, khususnya aparatur Kelurahan dan Kecamatan Cengkareng harus lebih peduli, agar kedepannya tidak lagi ada korban jiwa saat bencana banjir kembali melanda ibu kota.

“Ngapain buat posko kalau cuma buat foto-foto doang, terus dikirim ke pimpinan mereka. Sedangkan masyarakat disekitar posko itu tidak secuilpun merasakan manfaat dari didirikannya posko tersebut,” keluhnya.

Tidak berbeda dengan Yunus yang kehilangan orangtuanya, Aris salahseorang warga RT 011/01 juga mengeluhkan hal senada, Ia menilai dia posko bencana yang didirikan tidak jauh dari lokasi banjir, didirikan hanya untuk menggugurkan kewajiban dari apartur pemerintah Kecamatan Cengkareng.

“Mending ngga usah ada posko bantuan, Air Aqua segelas aja ngga ada,” ungkapnya.

Sementara Camat Cengkareng, A Faqih saat dihubungi wartawan via selulernya berkilah, pada saat kejadian bencana pihaknya telah melakukan prediksi sebelumnya, namun curah hujan yang tinggi diluar dugaan.

“Kita sudah membuat SOP tanggap bencana, kita prediksi hujan ditahun ini akan sama seperti ditahun kemarin perkiraannya hanya sekitar 100mm perjam ternyata kejadiannya itu sampai 375mm per jam,” kata Faqih.

Saat disinggung terkait gagalnya penanganan bencana banjir yang menelan korban jiwa di Cengkareng, Camat menampik yang bisa menilai gagal tidaknya penetapan tanggap bencana, adalah kewenangan Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan.

“Silahkan anda tanyakan itu kepada gubernur, kita melayani masyarakat bagaimana melakukan pertolongan,” pungkasnya. (Ceng/SL)