Pengosongan Lahan di Benda Sisakan Trauma Untuk Anak-anak

oleh -
Pembangunan Tol Jorr II Jakarta-Kuncira-Cengkareng
Anak-anak di Kampung Baru Kecamatan Benda yang tengah mencari barang berharga dibalik puing reruntuhan rumahnya Usai di bongkar, Selasa (2/9/2020).

NASIONALNEWS.ID, KOTA TANGERANG – Sejumlah anak-anak di RT 02/01 Kampung Baru Kecamatan Benda Kota Tangerang, nampak trauma melihat puing reruntuhan rumah mereka sambil sibuk mencari barang-barang yang masih bisa diselamatkan usai dilakukan eksekusi pengosongan lahan dilintasan pembangunan Tol Jorr II (Jakarta-Kunciran-Cengkareng) yang merupakan proyek strategis Nasional, Rabu (2/9/2020).

Kendati ditengah terik matahari dan beratnya reruntuhan yang menimbun barang yang dicari, dari raut muka seolah mereka tak ada kata menyerah. Meskipun hanya menggunakan kayu yang ada, anak-anak itu begitu semangat menggali satu persatu tembok yang telah dirobohkan.

“Kemarin bapa belum sempet mindah-mindahin buku Aa, kali aja masih bisa dipake buat sekolah. Abis kalo nanti disuruh beli, takutnya bapa ngga punya duit,” ujar sang bocah yang mengaku akrab disapa Aa tersebut.

Berbeda dengan Aa, Arfan bocah lainnya berada dilokasi yang tinggal reruntuhan itu mengaku tengah mencari barang-barang bekas yang nantinya bisa ditukar dengan uang (dijual).

“Cari plastik, besi, apa aja om yang bisa buat dikiloin. Kan lumayan buat jajan ama beli es,” tutur Arfan.

Ia mengaku, pasca penertiban kemarin, orangtuanya bersama warga lainnya yang bernasib sama sempat mengadukan nasibnya ke pemerintah Kota Tangerang.

“Kemarin cuma disuruh jagain dede aja, katanya bapa sama mama mau ke puspem dulu,” terangnya.

Dampak pembangunan Toll Jorr II Jakarta-Kunciran-Cengkareng

Berbeda dengan keduanya yang masih dapat bersosialisasi, Lita (bukan nama sebenarnya) mengaku trauma dengan kehadiran aparat yang saat itu mengosongkan paksa rumahnya.

“Takut, nanti mau tinggal dimana bekonya gede, takut sama polisi takut rumahnya diambil,” ujarnya dengan polos.

Ditempat eksekusi, Kiki salahseorang warga saat ditemui wartawan membenarkan hal tersebut, ia mengaku pasca penertiban yang dilakukan oleh juru sita Pengadilan Negeri Kota Tangerang beberapa anak-anak usia sekolah mengalami trauma.

Hal tersebut menurutnya lantaran eksekusi yang dilakukan oleh aparat gabungan dinilai terkesan arogan.

“Namanya anak-anak pasti trauma dengan segala bentuk intimidasi, baik sebelum penertiban hingga rumah kami rata dengan tanah. Ngga usah jauh-jauh, anak saya yang mencoba mempertahankan rumah kami sempat menghalau beko dan diperlakukan seperti binatang, ditarik sana ditarik sini sampai baju yang dipakai robek,” tukasnya. (Wan/Ceng)