Tender Jalan Keliling Stadion Benteng Hilang, LSM GP2B: Skenario atau Sulap

oleh -
Stadion Benteng
Ketua LSM GP2B Umar Atmaja, yang juga merupakan aktivis Kota Tangerang.

NASIONALNEWS.ID, KOTA TANGERANG – Hilangnya tender pembangunan jalan keliling Stadion Benteng dengan nilai HPS Rp11.282.662.376,01 dalam situs LPSE Kota Tangerang pasca pengumuman pertama pada tanggal 21 Agustus 2020 lalu kembali menjadi perbincangan publik. Sabtu (17/10/2020).

Salah satunya muncul dari Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Pemuda Peduli Bangsa (LSM GP2B), yang menduga bahwa Skenario tidak sempurna atau karena banyaknya tukang Sulap yang berkepentingan dalam tender tersebut.

“Kok tiba-tiba tendernya hilang dalam LPSE Kota Tangerang, apa mungkin karena skenarionya tidak sempurna membuat aktor tidak mampu dalam proses pengadaan, atau bisa juga karena banyaknya tukang sulap. Sehingga sampai saat ini, hasil penetapan pemenang lelang tersebut tidak ada,” ujar Ketua LSM GP2B Umar Atmaja dalam siaran persnya.

Umar mengungkapkan bahwa, seharusnya tender tersebut dapat dilaksanakan dan menghasilkan pemenang lelang sesuai dengan persyaratan dan kualifikasi yang telah ditetapkan, mengingkat tender tersebut dalam rangka percepatan rehabilitasi Stadion Benteng.

“Sekarang sudah masuk bulan Oktober, sangat tidak mungkin tender ulang dilaksanakan lagi. Jadi saya sanksi kalo pembangunan jalan keliling stadion itu selesai sampai akhir tahun ini. Buktinya, tender hilang tidak jelas dan belum ada tender ulang,” tegasnya.

Pria yang juga Aktivis ini mengaku terus mengawal dan mengawasi tender yang menurutnya itu ada beberapa persoalan sejak pertama diumumkan di situs LPSE hingga saat ini.

“Dari awal sudah ada persoalan, salah satunya terkait penyusunan dan pemeriksaan dokumen pemilihan oleh PPK dan Pokja tidak sempurna. Masa untuk tender bernilai diatas 10 Milyar tidak dipersyaratkan jaminan penawaran oleh pokja,” bebernya.

“Ini jelas ada yang salah dalam proses pemilihan dan bertentangan dengan ketentuan. Seolah-olah ini hanya main-main saja, tidak serius. Makanya tendernya gagal alias menghilang,” tambahnya lagi.

Selain persoalan itu kata Umar, proses tender juga diduganya sarat kepentingan pihak-pihak tertentu untuk mengejar keuntungan dengqn menabrak aturan yang sudah ada.

“Pejabat pengadaan yang ada di Dinas Pekerjaan Umum dan penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang jangan mau dijadikan boneka. Bisa diatur oleh oknum-oknum yang hanya mengejar keuntungan semata dengan menabrak banyak aturan dalam proses tender. Alih-alih untuk percepatan rehabilitasi Stadion Benteng, tapi ujungnya timbul banyak persoalan,” imbuhnya.

Untuk itu, pengawalan dan pengawasan untuk tender-tender pekerjaan yang ada di Dinas PUPR Kota Tangerang dapqt dilakukan secara Profesional.

“Lakukan dengan profesional, jangan main-main, jangan ada tukang sulap dan aktor-aktor intelektual yang hanya mementingkan keuntungan pribadi semata. Kalau ada indikasi dugaan pelanggaran, saya tidak segan-segan membuat laporan dan meminta pihak terkait melakukan pemeriksaan dan pendalaman,” tukasnya. (Iwan)