Tewasnya Balita, Polisi Tetapkan Ibu Kandung Jadi Tersangka

oleh -98 views

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Seorang Ibu yang tega menganiaya anak balitanya sendiri hingga tewas. Hal tersebut terjadi di Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

“Kemarin, Ibu Kandung dari korban sudah ditetapkan sebagai tersangka” ujar Kapolsek Kebon Jeruk AKP Erick Sitepu saat press release di depan awak media, Jumat (25/10/2019).

AKP Erick Sitepu juga menjelaskan, berdasarkan dari hasil pemeriksaan didapati bahwa, ibu kandung dari balita, terbukti membunuh anaknya sendiri.

“Dari pemeriksaan ibu kandung korban mengakui membunuh anak kandungnya sendiri”, ujar Erick.

Kapolsek menerangkan, balita tersebut merupakan salah satu anak kembar dan balita yang meninggal dengan sejumlah luka lebam pada, Jumat (18/10/2019).

“Tersangka mengaku nekat membunuh bayinya lantaran sering mendapat tekanan dalam rumah tangga atau bertengkar dengan sang suami,” ucapnya.

Perlakuan sadis tersangka, lanjut Kapolsek, dengan cara mencekoki air galon yang berlebihan sambil menutup lubang hidung, hingga korban lemas dan mengeluarkan air dari hidung dan mulut.

“Pelaku sempat berpura-pura minta pertolongan kepada tetanganya untuk membawa korban ke salah satu klinik, namun bidannya tidak ada, kemudian pelaku dan tetangga membawa ke rumah sakit, nahasnya nyawa korban tidak dapat tertolong setelah tiba di lokasi,” sambungnya.

Sementara Kanit Reskrim Kebon Jeruk, AKP Irwandhy Idrus menjelaskan, tersangka berhasil di tangkap kurang dari 1 x 24 jam.

“Saat diinterogasi tersangka sempat tidak mengakui perbuatannya, kemudian penyidik melakukan upaya mencari alat bukti, alhasil, tersangka mengakui perbuatannya usai ditemukan alat bukti,” kata AKP Irwandhy.

Dari kejadian itu, selain tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa, 1 buah galon merk aqua, 1 buah cangkir warna pink, 1 potong celana pendek, 1 potong kaos warna pink.

“Akibat perbuatanya, kini pelaku kita jerat dengan pasal 80 (4) UURI No. 35 Tahun 2014 atau pasal 338 dan atau pasal 351 (3) KUHP,” pungkasnya.

Sebelumnya keluarga kecil tersebut sering bertengkar, hingga para tetangga membenarkan karena sering mendengar keributan. (BB)