Aktivis Minta APH Usut Tuntas Kebakaran Sampah TPA Rawa Kucing

oleh -
oleh
dinas lingkungan hidup kota tangerang
Kabut asap menyeliputi Kota Tangerang selama beberapa hari akibat kebakaran sampah TPA Rawa Kucing.

NASIONALNEWS.ID KOTA TANGERANG – Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang dinilai sengaja membiarkan potensi terjadinya kebakaran dan diduga tidak sesuai dengan prosedur teknis pengelolaan sampah. Aktivis meminta aparat penegak hukum (APH) mengusut tuntas kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, beberapa hari yang lalu.

Aktivis Kota Tangerang, Akhwil mengatakan, apa yang menjadi penyebab kebakaran TPA Rawa kucing perlu diselidiki Aparat Penegak Hukum (APH) dengan melibatkan dan para ahli yang menguasai tentang persampahan. Sebab pengelolaan sampah yang tidak sesuai prosedur teknis berpotensi terjadinya kebakaran.

“Menurut saya perlu dicari penyebab dari kebakaran tersebut, tapi itu tugas APH dan orang yang ahli dibidangnya,” terang Akhwil kepada NasionalNews.id melalui telepon selularnya, Kamis (26/10/2023).

Akhwil menegaskan, bahwa perlu adanya pembuktian penyebab terbakarnya TPA Rawa Kucing, apakah ada unsur kelalaian atau kesengajaan yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam pengelolaan sampah.

“Perlu dibuktikan, apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian. Pembakaran sampah yang tidak sesuai dengan prosedur teknis termasuk kepada kegiatan melanggar hukum. Jadi pelakunya bisa dipidana dan dikenakan denda. Untuk lebih jelasnya lihat dalam pasal 29 UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Biasanya turunan dari UU Pengelolaan Sampah tersebut diatur oleh Perda pemerintah setempat,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Saba Alam Desa Hijau (SAIH), Pahroel Roji mempertanyakan apakah pengelolaan sampah yang dilakukan 0leh DLH Kota Tangerang sudah sesuai dengan aturan dan mempertanyakan kenapa TPA Rawa Kucing mengalami kebakaran .

“Apakah dengan pola pembuangan akhir hari ini sudah sesuai UU bang Akhwil? Mengapa saat ini TPA mengalami kebakaran? Kesengajaan?,” kata pria yang kerap disapa Arul melalui pesan singkat .

Arul menjelaskan tatacara pengelolaan sampah untuk meminimalisir potensi api yang bisa menimbulkan api, dan apabila DLH Kota Tangerang tidak menerapkan tatacara pengelolaan sampah sesuai dengan standar, maka disinyalir pengelola dengan sengaja merusak lapisan ozon dan membiarkan potensi terjadinya kebakaran.

“Pengamanan landfill dari potensi kebakaran atau ada juga potensi ledakan gas methan, disaat musim kemarau adalah meminimalisir kontak percikan api, gas methan dan oksigen. Gas methan ditangani dengann cara pembakaran (flaring) dengan tujuan mengurangi pelepasan gas methan yg berdampak pada kerusakan ozon,” terangnya.

Menurutnya, adanya potensi percikan api dapat dari gesekan logam yang tergilas alat berat, air pada plastik bening dan pantat botol kaca yang dapat memfokuskan sinar matahari pada sampah mudah terbakar. Dua kombinasi tersebut diatas akan akan menjadi potensi kebakaran saat disuplai oleh oksigen.Disinilah manfaat penutupan harian setebal 10 cm dan penutupan akhir 30 cm landfill.

“Gas methan lebih mudah dijebak, serta mengurangi potensi kontak antara percikan api dan oksigen. Dengan tidak melaksanakan sistem sanitary landfill atau minimal control landfill, maka pengelola TPA secara sengaja merusak ozon dan membiarkan potensi kebakaran landfill. Kelihatannya ekstrim sekali ya, namun itulah fakta,” tandas Arul. (Yuyu)

No More Posts Available.

No more pages to load.