Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih Besuk Briptu Christian di RSUD Nabire

oleh -
Camera720 20200519 123031

NASIONALNEWS.ID, NABIRE – Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw bersama Pangdam TNI XVII/Cenderawasih Mayjend. Herman Asaribab didampingi Bupati Paniai Meki Nawipa, Bupati Nabire Isaias Douw serta Kapolres Paniai, Kapolres Nabire, Dandim 1705/Paniai membesuk Briptu Christian Paliling Anggota Polres Paniai sebagai korban kekerasan akibat dianiaya sekelompok warga Kampung Ndeotadi 99, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai. Senin, (18/05/20).

Perlu diketahui, bahwa Christian mengalami beberapa luka sabetan akibat benda tajam pada bagian Kepala, punggung, Lengan. Selain itu, para pelaku juga melakukan perampasan senjata api milik inventaris Pospol Ndeotadi 99, Polres Paniai Sebanyak tiga (3) Pucuk.

Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw mengatakan, bahwa sesuai keterangan yang diterima, saat ini kondisi Briptu. Christian semakin membaik. Korban masih menjalani perawatan Intensif oleh tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire Papua.

“Kami datang untuk melihat keadaanya, dan syukur kondisi terakhir yang bersangkutan (Briptu. Christian Paliling), bahwa menurut keterangan dokter ahli yang menangani proses pengobatan dan pemulihan terhadap korban, dimana kondisinya berangsur membaik,” ungkap Kapolda Papua.

Camera720 20200519 125924

“Korban telah mengalami beberapa luka yang cukup parah sehingga hal tersebut membuat korban mengalami pendarahan. Meski begitu, Ia (korban) optimis akan segera sehat seperti sedia kala,” sambungnya.

Pihaknya sangat prihatin dengan kejadian tersebut, sebab jarak Pos Polisi (Pospol) dengan rumah para pelaku ternyata tidak jauh, dan hanya berjarak dua rumah. Diduga pelaku tersebut keseharianya saling kenal diantara mereka, tapi kenapa bisa demikian. “Mereka saling kenal, rumah antara mereka jaraknya hanya dua rumah, tapi mengapa bisa terjadi penganiayaan yang sangat serius, hal ini menjadi pertanyaan sekaligus keprihatinan kami,” tutur Kapolda.

Terkait adanya persoalan pribadi Kapolda yakin tidak. Namun dirinya mengantongi beberapa keterangan dari warga di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Saya menduga ada akar masalah. Apakah pelaku merupakan kelompok yang suka buat onar dan kekacauan di kawasan itu, kemudian sering mendapatkan teguran keras oleh anggota di Pospol 99 hingga terjadi pelampiasan dendam hingga nekat melakukan pengoroyokan, dan perampasan tiga pucuk senjata, namun semua itu butuh kepastian”. Kata Kapolda.

Dalam hal ini, pihaknya tetap melakukan penyelidikan atau penyidikan untuk membuktikan latarbelakang terjadinya kekerasan dan termasuk perampasan tiga pucuk senjata api milik Polres Paniai.

“Kami baru memulai dengan keterangan awal di TKP, maka semuanya belum bisa dipastikan asal usul kejadiaan naas itu. Karena memang kejadian tersebut terjadi pada malam hari sekitar pukul 21.30 wit. Saat itu dalam kondisi gelap, dan tiba-tiba ada penyerangan di Pospol Ndeotadi 99,” bebernya.

Guna mengungkap kejadian naas dan upaya pengembalian perampasan tiga pucuk senjata, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan para Bupati Meepago Deiyai, Dogiyai, Nabire, Paniai dan Intan Jaya dan para tokoh masyarakat.

“Kami juga berharap masyarakat suku Mee dan suku Wolani untuk membantu Kepolisian guna mengembalikan senjata yang telah dirampas tersebut, ” harap Kapolda Papua. (YERI TARIMA)