Yusri Yunus: Minuman Bermerek Dijual Murah di Medsos itu Palsu

oleh -
Img 20200130 Wa0056

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Minuman oplosan yang ber merk, yang dijual di media sosial (Medsos) seharga Rp150-300 ribu itu palsu, dan anehnya meskipun merk minuman beda, namun rasanya sama. Hal tersebut diungkapkan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus didampingi Kapolres Bandara, Kombes Adi Ferdian Saputra saat konferensi pers di Polres Metro Bandara Soekarno Hatta, Kamis (30/1/2020).

Yusri juga mengatakan, empat tersangka sudah diamankan, mereka mempunyai peran yang berbeda-beda, dari pemodal, pemasaran lewat media sosial, pengoplos minuman dan pencari botol bekas.

“Mereka mempunyai tugas masing-masing dari penjualan sampai pengumpul botol bekas minuman yang berkelas,” ujarnya.

Lanjut Yusri, untuk tersangka penanam modal HS (61) dari pensiunan TNI, tersangka AR (27) penjual miras oplosan, pemasaranya melalui media sosial, untuk RA (24) pencari botol bekas yang ber-merk, sedangkan yang berperan meracik minuman tersebut S perempuan (34).

“Kasus ini masih kita kembangkan,” tambahnya.

Masih dikatakanya, minuman oplosan tersebut sangat membahayakan karena pengoplos tersebut tanpa menggunakan takaran, banyak alkoholnya.

“Bahan yang digunakan Alkohol, minuman berenergi, serta minuman bersoda,,” jelasnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Bandara Kompol Alexander menjelaskan, pengungkapan adanya miras oplosan tersebut berdasarkan temuan salahsatu timnya melihat ada pekerja di kawasan bandara Soekarno-Hatta sedang asik minum-minuman keras.

“Kita curiga dengan sekelas pekerja biasa bisa mengkonsumsi minuman mahal, lalu kita tangkap dan kita kembangkan, ternyata mereka membeli minuman dari media sosial dengan harga murah,” ucapnya.

Aleksander juga menjelaskan, minuman yang dibeli para pekerja se harga Rp 150-300 ribu, sedangkan minuman yang asli dan bermerk tersebut harganya bisa mencapai Rp 1 -1.5 juta.

“Untuk pekerja sudah kita proses dan kita kenakan Tindak Pidana Miring (Tipiring), Sementara untuk empat tersangka kita kenakan Pasal 137 dan atau Pasal 138 dan Pasal 142 Jo Pasal 90 Ayat (1) Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2012 Pidana penjara 5 tahun atau pidana denda 2 milyar rupiah, dan ini masih terus kita kembangkan,” tegasnya. (BB)