NASIONALNEWS.id,BANYUMAS–Upaya penanganan dampak lingkungan pasca-insiden luapan air pada 19 Oktober 2025 di kawasan tambang batu granit PT DBA di Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Gerakan penanaman 3.000 pohon keras jenis balsa dan akar wangi yang digagas Yayasan Alam Wana Nusantara menjadi langkah konkrit untuk mencegah kejadian serupa di masa yang akan datang, sekaligus memperkuat harmoni antara kegiatan pertambangan dan masyarakat sekitar.

Danramil Kedungbanteng, Kapten CBA Budi Priyatno, menyambut baik inisiatif ini sebagai bentuk penanganan dampak lingkungan yang proaktif. “Kami berharap kesepakatan ini mencegah terjadinya hal-hal negatif di kemudian hari. Ke depan, jangan lagi ada peristiwa yang diposting di media sosial semua bisa dirempug. Kami himbau para tokoh masyarakat dan RW untuk berkoordinasi dengan pihak terkait guna mencegahnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mitigasi bencana agar musibah tidak menimpa daerah setempat, dengan harapan pertemuan ini membawa dampak positif jangka panjang.
Fery Yuliadi dari Yayasan Alam Wana Nusantara memuji komunikasi demokratis antara warga dan pihak tambang. “Tambang Batu Dinar Agung ini mengolah batu jenis granit yang sangat keras, sehingga risiko longsor minimal. Bekas galian akan ditanami rumput vetifer atau akar wangi. Tinggi gunung mencapai 100 meter, dengan pemukiman berjarak satu kilometer dan banyak lembah di sekitarnya, menurut kajian ilmiah kondisi ini aman,” jelasnya.
Yayasan tersebut mendukung tambang yang bertanggung jawab, karena dapat berdampak positif bagi ekonomi dan lingkungan.
Nur Faizah, Direktur PT DBA meminta maaf atas luapan air akibat penyumbatan yang memicu protes masyarakat melalui media sosial.
Nur Faizah menambahkan bahwa PT DBA akan membangun tiga bak penampung air berukuran 3×1 meter sejumlah 3 titik di lokasi tambang, serta sistem saluran pengumpul air berbentuk lubang-lubang untuk menangkap air hujan deras agar aliran tidak keruh. Meski reklamasi belum selesai, area tersebut sudah dikelilingi penanaman pohon.

Sementara itu, Kepala Desa Baseh, kecamatan Kedungbanteng, Amin Fauzan, menyebut produk batu DBA ramah lingkungan dengan harga terjangkau, sehingga warga tak perlu mencari material batu dari jauh.
Hamdan selaku pelaksana dari PT DBA menjanjikan perbaikan manajemen CSR lingkungan. “Selama ini, CSR kami sudah disalurkan tapi tidak tercatat karena keterbatasan SDM. Ke depan, kami akan perbaiki dokumentasi untuk keperluan audit,” katanya.
Untuk 7 RT terdampak, perusahaan akan berikan empat kegiatan CSR per tahun dalam bentuk transfer dana untuk kepentingan lingkungan, bukan pribadi. Selain itu, upah khusus 10% diberikan untuk pengurus lingkungan terdampak, dan kompensasi lingkungan Rp25.000 per ritase.
Hamdani juga membantah opini liar bahwa Gunung Jenar akan habis dieksploitasi.
“Estimasi material campur di gunung ini 10 juta kubik, dan kami hanya tambang 25%. Makam religi di sekitar akan kami jaga dan kembangkan menjadi wisata kedepan,” tegasnya.
Warga mengusulkan pengerasan jalan nanjak yang sempit untuk mengakomodasi kendaraan berat pengangkut batu, agar semua pihak nyaman dan aman. Inisiatif ini diharapkan mempererat kolaborasi berkelanjutan di Banyumas.
Penulis: IMAM S











