Sekda Nabire Klarifikasi Video Viral Soal Tempat Karantina Tak Layak

oleh -
Camera720 20200505 093415

NASIONALNEWS.ID, NABIRE – Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Plt Sekretaris Daerah (Sekda), Daniel Maipon mengklarifikasi pengaduan video pasien Covid-19 Umar terkait kondisi tak layak tempat karantina Pondok Pesantren. Pengaduannya itu diunggah di media sosial dalam bentuk video dan sempat viral di beberapa grup media sosial.

Video itu merekam salah satu pasien yang merasa kecewa kepada Pemerintah karena kondisi tak layak sebuah tempat karantina Covid-19 di Kabupaten Nabire.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nabire, Daniel Maipon mengatakan, bahwa pihaknya tidak pernah membiarkan 13 pasien Covid-19 terlantar di Pondok Pesantren seperti pada video yang beredar.

“Kami melakukan sesuai pedoman penanganan Covid-19 di indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan melakukan pencegahan, pengendalian dan penanganan Covid-19 di Kabupaten Nabire,” kata Daniel Maipon dalam Jumpa Pers di Aula Sekda Nabire, Senin (4/5/2020).

Daniel menerangkan, terkait dengan kasur yang juga sempat viral, pihaknya sebenarnya tidak mau memberikan kasur sebab status pasien positif Covid-19 dalam status mandiri, yang mana status mereka Orang Tanpa Gejala (OTG) dengan kondisi ringan.

“Sesuai pedoman mereka yang dalam status karantina mandiri itu harusnya dibiaya sendiri baik itu makan, tempat tinggalnya. Tetapi makannya kami siapkan dari awal mereka masuk di pondok pesantren bahkan tim medis tiap hari datang mengecek mereka,” ujarnya.

“Kalau kami mau tidak ingin memberikan kasur, mereka bisa ambil dari rumah sebab mereka ini hanya dipindahkan dari karantina mandiri dirumah ke pondok pesantren. Mengingat karna kami tahu ada ancaman dari warga ingin membakar rumah mereka, sehingga Pemerintah tidak mau mereka berbenturan dengan masyarakat yang tidak kena Covid-19,” sambungnya.

Daniel mengaku, Pemerintah Daerah agak kesulitan dalam menangani pasien Covid-19 dari jamaah Tabligh, sebab dalam keagamaan mereka berbeda dengan umat islam lain. bahkan tidak sejalan dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Kemenkes.

“Salah satu contoh, mereka kalau makan itu mereka tidak bisa makan terpisah pake piring masing-masing, melainkan mereka harus makan bersama-sama dalam satu tempat ini yang membuat Pemerintah kesulitan,” pungkasnya.

Selain itu, Dirinya meminta agar masyarakat tidak cepat percaya dengan berita yang dapat menyesatkan, “kepada semua pihak yang ada agar bersama-sama memberikan informasi-informasi yang pasti, dan tidak memicu kepanikan masyarakat, dari sumber sumber yang tidak dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Juru Bicara (Jubir) Tim Gugus Tugas Covid-19 Nabire, dr Frans Sayori mengatakan sesuai pedoman 13 pasien positif Covid-19 yang berada di Pondok Pesantren, mereka mengikuti karantina mandiri dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) dalam kondisi ringan.

“karena itu mereka seharusnya menjalani karantina mandiri, tempatnya dirumah sendiri, fasilitas sendiri, biayanya pun mandiri alias diluar tanggungan Pemerintah,” bebernya.

Dikatakan Sayori, bahwa pasien Covid-19 bernama umar yang mengupload video merupakan pasien yang sulit diatur selama masa karantina.

“Umar orangnya bandel, keluar dari tempat isolasi ketemu keluarga, buktinya adalah pemeriksaan rapid test kemarin dua anaknya reaktif. Bahkan jika ditarik kebelakang Umar adalah pembawa sial di Nabire dan dengan bangganya menyampaikan melalui video dan diulpoad di Sosmed,” tegas Sayori. (TRM).