NASIONALNEWS.ID SLEMAN – Dulu, promosi produk UMKM mungkin cukup dengan memasang spanduk di depan rumah, membagikan brosur, atau mengandalkan cerita dari mulut ke mulut. Kini, cara itu mulai berubah.
Di tengah derasnya arus digital, sebuah video singkat yang menarik bisa membawa produk rumahan melintasi batas kampung, kota, bahkan menjangkau calon pembeli di berbagai daerah.
Perubahan itulah yang sedang dicoba ditangkap para pelaku UMKM di Kalurahan Donoharjo. Puluhan pelaku usaha berkumpul di Aula Kalurahan Donoharjo, Senin (7/9/2026), untuk belajar membuat video promosi dengan bantuan Akal Imitasi (AI).
Bagi sebagian peserta, AI mungkin masih terdengar rumit dan jauh dari keseharian mereka. Namun dalam pelatihan yang digelar Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kalurahan Donoharjo itu, teknologi justru diperkenalkan sebagai teman baru bagi pelaku usaha.
Bukan untuk menggantikan manusia, melainkan membantu mereka bekerja lebih cepat dan kreatif.
Pelatihan menghadirkan narasumber Hesti Tri Widyastuti. Peserta diajak mengenal pemanfaatan AI mulai dari mencari ide konten, menyusun naskah promosi, membuat visual, hingga menghasilkan video dalam waktu yang relatif singkat.
Ketua Forkom UMKM Kalurahan Donoharjo, Upik Wahyuni, menyadari betul perkembangan teknologi tidak bisa dihentikan. Pilihannya hanya dua, ikut belajar atau tertinggal.
“Saat ini perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Mau tidak mau kita harus ikut berkembang. Jika tidak mau belajar, maka kita akan tertinggal,” ujar Upik.
Karena itu, Forkom UMKM Donoharjo berupaya menghadirkan pelatihan yang benar-benar dibutuhkan pelaku usaha saat ini.
Menurut Upik, belajar AI bukan sekadar ikut-ikutan tren. Teknologi ini bisa menjadi jalan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing tanpa harus terbebani biaya promosi yang besar.
Sebab persoalan pelaku UMKM selama ini tidak selalu terletak pada kualitas produknya.
Banyak produk sebenarnya bagus. Rasanya enak, kualitasnya terjaga, dan punya keunikan tersendiri. Namun, produk itu belum tentu dikenal luas karena pemilik usaha masih kesulitan mengemas promosi yang menarik.
Di titik inilah AI mulai menawarkan kemudahan.
“Kami ingin para pelaku UMKM memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan tentang pemanfaatan Artificial Intelligence dalam membuat video promosi,” kata Upik.
Harapannya, produk lokal tak hanya berhenti dikenal di lingkungan sekitar. Video promosi yang menarik diharapkan mampu membuka pintu pasar yang lebih luas, meningkatkan penjualan, hingga memberi dampak pada kesejahteraan keluarga pelaku usaha.
Cukup Ponsel dan Ide
Hesti Tri Widyastuti mengatakan, perkembangan AI telah mengubah proses pembuatan konten promosi.
Jika dulu membuat video membutuhkan kamera mahal, komputer dengan spesifikasi tinggi, aplikasi editing yang rumit, hingga melibatkan banyak orang, kini sebagian pekerjaan itu bisa dibantu teknologi.
“AI dapat membantu mencari ide, menyusun konsep, membuat naskah, menghasilkan gambar, membuat animasi, hingga suara narasi,” ujarnya.
Bagi UMKM dengan modal terbatas, hal ini tentu menjadi peluang menarik.
Tak perlu selalu menyewa studio. Tak harus membeli kamera mahal. Bahkan tidak harus menggunakan model profesional.
Dengan telepon genggam, ide yang matang, dan aplikasi AI yang tepat, pelaku usaha sudah bisa mulai membuat materi promosi yang lebih menarik.
Teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih cepat. Biaya produksi konten pun bisa ditekan.
Namun, Hesti mengingatkan satu hal penting. Semudah apa pun teknologi bekerja, manusia tetap memegang kendali.
“AI hanyalah alat bantu. AI tidak mempunyai rasa, pengalaman, maupun tanggung jawab. Yang menentukan kualitas hasil akhirnya tetap manusia,” tegasnya.
Pesan itu menjadi penting di tengah kemampuan AI yang bisa menghasilkan gambar dan video sangat menarik, bahkan terkadang terlalu sempurna.
Visual produk bisa dibuat tampak mewah. Makanan terlihat jauh lebih menggoda. Ruangan sederhana bisa berubah seperti studio profesional.
Tetapi ada garis yang tidak boleh dilanggar: kejujuran.
Menurut Hesti, jangan sampai promosi yang terlalu bombastis justru membuat konsumen kecewa ketika menerima produk yang tidak sesuai dengan video.
“Biarkan AI membantu mempercantik penyajian produk, tetapi jangan sampai mengubah fakta mengenai produk itu sendiri,” katanya.
Kepercayaan konsumen, lanjutnya, jauh lebih berharga daripada penjualan sesaat.
Sebab konsumen yang kecewa mungkin tidak hanya berhenti membeli. Mereka juga bisa membagikan pengalaman buruk kepada orang lain.
Sebaliknya, promosi yang jujur dan sesuai kenyataan bisa melahirkan kepuasan. Konsumen datang kembali, membeli lagi, bahkan merekomendasikan produk kepada orang lain.
Teknologi Bukan untuk Ditakuti
Bagi Upik Wahyuni, ketakutan terhadap teknologi justru harus mulai diubah menjadi keberanian untuk belajar.
“Jangan pernah takut dengan teknologi. Justru kita harus berteman dengan teknologi,” tegasnya.
Pelatihan di Donoharjo ini menjadi gambaran bagaimana UMKM mulai mencoba membuka pintu menuju cara baru dalam berjualan.
AI memang tidak bisa menggantikan cerita di balik sebuah produk. Tidak bisa menggantikan ketulusan pelayanan. Tidak pula bisa menggantikan kreativitas manusia.
Namun, teknologi bisa membantu cerita itu sampai kepada lebih banyak orang.
Setelah pelatihan selesai, tantangan sebenarnya justru dimulai. Peserta diharapkan tidak sekadar membawa pulang materi, tetapi langsung mencoba membuat video promosi untuk produk masing-masing.
Semakin sering mencoba, semakin terasah pula kemampuan mereka.
Dari Aula Kalurahan Donoharjo, puluhan pelaku UMKM kini membawa bekal baru. Bukan hanya tentang cara membuat video dengan AI, tetapi juga pemahaman bahwa teknologi tak selalu harus ditakuti.
Dengan kreativitas, etika, dan kejujuran, AI bisa menjadi teman bagi UMKM untuk memperluas pasar dan menjemput peluang baru.
Dan mungkin, dari sebuah telepon genggam di tangan pelaku usaha kecil, sebuah produk lokal Donoharjo akan menemukan pembelinya di tempat yang jauh. (Jat)











