NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melaksanakan lima program inovasi terkait dengan siklus kehidupan manusia.
Kelima program tersebut adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting-GENTING.
Kemudian, Taman Asuh Sayang Anak-TAMASYA, Gerakan Ayah Teladan-GATI.
Selanjutnya, Lanjut Usia Berdaya-SIDAYA, dan SuperApps KeLuarga Indonesia-SAKINA.
“Kita sudah melakukannya sepanjang tahun 2025 dan sekaligus menunjukkan bahwa negara hadir di tengah masyarakat,” kata Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/BKKBN, Wihaji.
Sederet program yang diampu Kemendukbangga/BKKBN yakni GENTING
Wihaji meluncurkan program GENTING di Dusun Cipule, Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar) pada Kamis (5/12/2024).
GENTING adalah gerakan gotong royong masyarakat untuk mewujudkan generasi sehat, cerdas, kuat dan tidak stunting.
Selain itu meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam pencegahan stunting.
“Kegiatan ini merupakan sebuah gerakan bantuan bagi keluarga berisiko stunting (KRS) melalui kepedulian berbagai pihak, mereka adalah orang tua asuh (OTA),” ujarnya.
Gerakan orang tua asuh ini melibatkan unsur pemerintah daerah, swasta, BUMN, BUMD, individu/perorangan, LSM/komunitas. perguruan tinggi/akademisi serta media.
Difasilitasi oleh Petugas Lapangan KB (PLKB/PKB). Sasarannya adalah ibu hamil, ibu memiliki baduta/menyusui, baduta 0-23 bulan, dan balita 24-59 bulan dari keluarga berisiko stunting miskin.
Bantuan yang diberikan dapat berupa nutrisi, non nutrisi, akses air bersih, edukasi hingga bedah rumah.
Dirancang untuk mendampingi 8,6 juta KRS yang terdata di 2024, Rekap Data Genting Mingguan Provinsi (25 DESEMBER 2025) Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan tentang capaian kinerja GENTING yang tercatat 157,39% — atau dari target 1 juta KRS di 2025 sekitar 1,5 juta KRS telah mendapat intervensi — menempatkannya sebagai salah satu gerakan sosial paling progresif dalam percepatan penurunan stunting.
Sementara mitra orang tua asuh telah mencapai ratusan ribu.
Kinerja GENTING turut diperkuat oleh Tim Pengendali GENTING yang telah dibentuk di Tingkat Provinsi sebanyak 38 Provinsi dan Tim Pengendali GENTING (TPG) di Tingkat Kabupaten/Kota sebanyak 512.
Dukungan pentahelix untuk gizi, air bersih, sanitasi, dan rumah layak huni mencapai lebih dari Rp290 miliar.
Seluruhnya disalurkan langsung kepada keluarga sasaran tanpa melalui mekanisme APBN.
Kontribusi tersebut menunjukkan kuatnya gerakan gotong royong masyarakat dalam membantu keluarga berisiko stunting.
GENTING juga memperkuat edukasi kesehatan keluarga, khususnya pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pendampingan dilakukan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang jumlahnya mencapai 200.000 tim dengan hampir 600.000 kader.
Sementara itu Program Daycare Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) yang diluncurkan Wihaji pada 27 Mei 2025 di Tempat Penitipan Anak (TPA) Tunas Harapan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSN), Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
“Kami yakin kehadiran TAMASYA dapat menjawab isu pemanfaatan bonus demografi dengan meningkatkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan dan isu kerentanan keluarga,” tuturnya.
Sejauh ini banyak perempuan yang memiliki anak terpaksa melepas pekerjaan karena galau di mana mereka harus menitipkan anak-anaknya agar diasuh secara aman dan berkualitas.
“Pemerintah hadir memberikan solusi, salah satunya adalah TAMASYA,” ujarnya.
Program ini diproyeksikan mampu mendongkrak Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan menjadi 70%, Indeks Pembangunan Kualitas Keluarga mencapai 80% dan menekan angka stunting menjadi 5% pada 2045.
Kemendukbangga/BKKBN turut menggandeng enam kementerian dalam program ini.
Kementerian-kementerian yang dimaksud adalah Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial, dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Keenam kementerian ini telah menerbitkan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Pembentukan dan Penyelenggaraan Tempat Penitipan Anak (TPA) di lingkungan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN/D, swasta, dan masyarakat.
TAMASYA dikelola oleh pengasuh bersertifikat memiliki empat layanan, yaitu peningkatan kompetensi pengasuh di tempat penitipan anak.
Selanjutnya, pemantauan tumbuh kembang anak secara periodik, peningkatan keterlibatan orang tua dalam pengasuhan anak, dan layanan rujukan bagi anak.
Berdasarkan pemetaan potensi Tamasya oleh Kemendukbangga/BKKBN, terdapat sekitar 10.026 TPA yang ada di seluruh Indonesia yang berpotensi menjadi TPA berbasis TAMASYA.
Kemendukbangga/BKKBN jufa meluncurkan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) di Gedung Islamic Center, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat pada 21 April 2025.
Program ini sebagai jawaban atas peningkatan fenomena fatherless di Indonesia.
Berdasarkan Pendataan Keluarga Tahun 2025 (PK 25), sekitar 25,8% anak-anak Indonesia kehilangan figur ayah dalam kehidupan mereka.
Sekitar satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia pada tahun 2025 mengalami fatherless.
“Sebagai kementerian yang menangani sumber daya manusia, dari calon pengantin sampai lansia, program GATI menjadi penting,” ujar Wihaji.
GATI merupakan gerakan kolaboratif untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Berikutnya, pendampingan remaja, hingga berbagi peran domestik bersama pasangan.
Fokus Kemendukbangga/BKKBN memastikan ayah hadir dalam pengasuhan untuk anak-anaknya.
Untuk menggerakkan ayah lebih berperan dalam pengasuhan, Wihaji menghadirkan satu program turunan, berupa Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah.
Insiatif ini menjadi gerakan yang cukup masif di bulan Juli 2025, dan mewarnai di banyak media sosial (medsos)dan online.
Kemendukbangga/BKKBN berusaha menggugah emosi para ayah untuk hadir di tengah anak-anaknya.
Bagi remaja, sejak dini mereka dikenalkan bagaimana menjadi sosok ayah teladan dalam keluarga.
Wihaji turut meluncurkan GEMAR atau Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah pada 19 Desember 2025.
Gerakan ini menjadi perhatian publik, karena menyasar langsung perubahan pola pengasuhan di Indonesia, khususnya peran aktif ayah dalam pendidikan dan pengasuhan anak sejak usia dini.
Melalui GEMAR, Kemendukbangga/BKKBN mengajak para ayah untuk hadir langsung ke sekolah saat pembagian rapor, mulai dari jenjang PAUD, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah.
“Kehadiran ayah dinilai memiliki dampak psikologis dan sosial yang kuat bagi perkembangan anak,” ucapnya.
Mempertimbangkan Indonesia telah memasuki fenomena ageing population dengan jumlah lansia sebesar 10% lebih dari populasi, Wihaji juga merilis program Lansia Berdaya (Sidaya).
Program ini dirancang sebagai solusi komprehensif bagi pemberdayaan lansia di Indonesia secara berkelanjutan.
Sidaya diluncurkan secara nasional di Lamongan, Jawa Timur pada 4 Desember 2025.
Wihaji mengemukakan program Lansia Berdaya (Sidaya) diluncurkan untuk memastikan lansia dalam kondisi sehat fisik, sehat mental dan sehat sosial.
“Hal ini dicapai melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan interaktif. Di antaranya melalui sekolah lansia yang diinisiasi oleh Kemendukbangga/BKKBN,” tuturnya.
Tujuan lainnya untuk menambah angka harapan hidup serta indeks kebahagiaan lansia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sekitar 12% atau 29 juta penduduk Indonesia merupakan lansia.
Persentase ini diprediksi akan meningkat signifikan. Angka tersebut diperkirakan akan mencapai hingga 20 persen pada 2045.
Fenomena ini menyoroti urgensi program seperti Sidaya di seluruh negeri.
Sementara itu data Kemendukbangga/BKKBN menyebutkan sebanyak 750 lebih sekolah lansia terdapat di Indonesia.
Jawa Tengah (Jateng) menjadi provinsi dengan sekolah lansia terbanyak yakni 180 lebih sekolah lansia.
Pada sisi lain SuperApps Keluarga Indonesia – SAKINA akan dirilis secara resmi oleb Wihaji pada Januari 2026.
Saat ini sudah dilakukan soft launching.
Keluarga Indonesia adalah platform digital berbasis artificial intelligence/AI (kecerdasan buatan).
Perangkatnya dirancang untuk meningkatkan mutu layanan publik di bidang kependudukan, pembangunan keluarga, dan keluarga berencana.






