Inspirator Broadcasting yang Beretika, Berintegritas dan Bersahaja

oleh -
img 20261021 wa0090
Talk Show acara 100 Tahun Sambas, "Inspirasi Generasi Penyiar Indonesia" menghadirkan Tika Bisono sebagai moderator dan tiga narasumber yakni Dr. M. Kabul Budiono selaku tokoh penyiaran & mantan Direktur Utama LPP RRI, Yassir Den Has, S.H. sebagai penyiar senior & tokoh komunikasi / hukum) serta Ir. Brigitta Isworo Laksmi yang mewakili jurnalis senior KOMPAS di Ruang Auditorium RRI Pusat, Senin (19/10) sore. (foto : Abie Mujib)

NASIONALNEWS.id, JAKARTA – ​SUARA emas yang pernah menghiasi ruang keluarga jutaan rakyat Indonesia itu seolah bergema kembali. Memperingati 100 tahun kelahiran sang legenda penyiaran, Sambas Mangundikarta, Auditorium RRI Pusat Jakarta disulap menjadi panggung kenangan penuh kehangatan pada Senin (19/10/2026) malam itu.

Acara peringatan mengenang kiprah Almarhum Sambas terasa makin meriah dan menyentuh ketika penyanyi legendaris Hetty Koes Endang tampil memukau bersama anak dan cucu mendiang yang sengaja dihadirkan. Membawakan lagu ‘Manuk Dadali’ dan ‘Malam Minggu Tanggal Muda” miliknya, suasana acara pun semakin cair merona.

Sebelumnya, kemeriahan suasana panggung dibuka dengan seremonial menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, tarian, sambutan-sambutan serta diskusi 100 Tahun Sambas Mangundikarta dengan tema ” Inspirasi Generasi Penyiar Indonesia”.

“Acara ini diharapkan bisa ditonton live streaming oleh 3,000 viewers dari seluruh Indonesia & Diaspora, khususnya para anak muda dan profesional Indonesia yang menggeluti dunia jurnalistik, penyiaran dan komunikasi,”ujar Tika Bisono, kreator merangkap ketua acara dalam sambutan pembukanya.

Menurut Tika, acara yang dibuatnya merupakan penghormatan dan persembahan tulus ikhlas dan luhur dari keluarga, kerabat dan komunitas penyiar untuk almarhum Sambas yang wafat akibat terkena penyakit paru-paru pada 1999 dalam usia 73 Tahun. Ia juga menyebut acaranya ditonton secara luring dan daring melalui teknologi Live streaming kanal youtube RRIJAKARTA

​”Gue jadi public speaker terinspirasi dari dia juga. Kan dia baca beritaan kita nonton, terus gue yang kayak gitu, ‘seru juga ya ngomong di kaca’. Jad, Sambas bukan hanya menginspirasi orang, gue juga terinspirasi dari dia.” Papar Tika tanpa malu.

img 20261021 wa0091
Kehadiran Penyanyi senior Hetty Koes Endang manggung bareng anak cucu dari alm Sambas membuat suasana meriah dan semarak (Foto : Abie Mujib)

Sejalan dengan tema acara, ” Inspirasi Generasi Penyiar Indonesia”, diskusi menghadirkan tiga narasumber yakni Dr. M. Kabul Budiono selaku tokoh penyiaran & mantan Direktur Utama LPP RRI, Yassir Den Has, S.H. sebagai penyiar senior & tokoh komunikasi / hukum) serta Ir. Brigitta Isworo Laksmi yang mewakili jurnalis senior KOMPAS yang juga merupakan seorang pengamat Kebudayaan.

​Sebagai tokoh yang dibuatkan acara, Sambas dikenal oleh sebagin besar masyarakat Indonesia terutama dalam dunia penyiaran, termasuk di Mancanegara.

Lahir di Bandung pada 21 September 1926. Ia adalah sosok legenda penyiaran dan jurnalistik Indonesia yang mengawali kiprahnya di masa perang kemerdekaan RI lewat Radio Perjuangan Jawa Barat (1946–1949).
​
Bergabung dengan RRI sejak 1952 dan kemudian ditarik TVRI tahun 1962. Dikenal dengan gaya penyampaian yang santai, detail, dan komunikatif, beliau menjadi penyiar ikonik untuk acara olahraga nasional maupun internasional, seperti Thomas Cup 1961 (liputan pertamanya di Indonesia), Asian Games 1962, All England, dan Uber Cup.
​
Selain olahraga, Sambas juga dikenal humble (hangat) dan edukatif saat turun ke lapangan membawakan program TVRI “Dari Desa ke Desa” pada tahun 1983.

Dari pernikahannya dengan Siti Zuhra pada 17 September 1952, mereka dikaruniai 7 orang anak yang memiliki nama yg unik, yakni semua nama anak selalu disandang kata “Kris” (diambil dari kata keris, yang melambangkan ketajaman, kegunaan, dan perlindungan). Mereka adalah Aries Kriswandi, ​Atiek Kriswanti , ​Anan Kriswana , ​Is Kriswara , ​Krisyadi , ​Inge Krisyani dan ​Krisyana. Selain penyiar, Sambas juga piawai menciptakan lagu. “Manuk Dadali” adalah lagu Sunda karyanya yang paling terkenal selain “Ka Huma”, “Sapunyere”, “Pegat Simpay”, “Pepeling”, dan “Peunyem Bandung”.

Jalannya Diskusi Kebudayaan oleh Para Pengagum dan Sahabatnya

Acara satu abad sang penyiar juga dikonsep dalam gaya Talkshow. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu dilakukan pemutaran video coundown suara khas dan icon dari Sambas yang banyak mengingatkan para hadirin ke masa dulu yaitu, “Saudara- Saudara Sebangsa dan Setanah Air…” yang dialih suarakan oleh Yassir Den Has, S.H , rekan seprofesi Sambas saat bertugas di lapangan

“Terus terang saya bangga bisa ditunjuk untuk mengisi suara Sambas seperti saat beliau sedang bertugas,” ungkap Yassir saat Nasionalnews.id men-door stop-nya usai acara.

Dalam diskusi singkatnya, Yassir banyak bercerita tentang kedekatan dan pengaruh Sambas kepada dirinya. Disitu Yassir berbagi ilmu soal dunia penyiaran. Ia juga menjelaskan tentang teknik vokal, artikulasi, serta nilai-nilai legal-etis dalam dunia broadcasting. Yassir bercerita mengenai bagaimana Sambas menguasai kemampuan menyampaikan narasi yang hidup (storytelling), sehingga pendengar radio dapat mengimajinasikan jalannya pertandingan olahraga secara gamblang, hanya dari lontaran suaranya. Ia juga berkomentar tentang sahabatnya itu soal suara, bahasa dan etika.

Ada pesan yang diungkap Yassir buat orang-orang yang tertarik dengan ilmu penyiaran selain hal teknis pada suara.

“Bahasa dan tutur kata Sambas wajib diikuti anak-anak jaman sekarang” Ucap Yassir yang merasa miris melihat tutur kata anak-anak jaman sekarang.

Menurutnya, “sikap Sambas yang santun itu yang musti diperhatikan dan dicontoh oleh para generasi penyiar Indonesia saat ini.”imbuhnya.

Sebetulnya jadi penyiar itu bukan masalah yang gampang, masalah yang mudah. Kita harus bisa menjadi diri kita sendiri. ‘Be yourself’, itu motonya.”

Ada banyak prestasi yang Sambas berikan buat RRO TVRI dan RRI.

​”Banyak sekali sih kontribusi beliau itu terhadap TVRI; reporter bola, reporter Dari Desa ke Desa, Kelompok Capir…” tutur pria yang kini sedang mengerjakan siar keagamaan via medsos Tik Tok.

selain Yassir ada juga Kabul Budiono yang hadir mengulas sejarah, etika, dan keandalan profesionalisme penyiaran RRI. Beliau membedah standar kedisiplinan dan integritas jurnalistik yang diwariskan almarhum Sambas sebagai fondasi penting bagi penyiar era modern agar tetap memegang teguh etika komunikasi publik di tengah arus disrupsi media.

Diskusi makin seru, lantaran ada cerita dari perempuan pengidola Sambas yang sejak pertama kenal Sambas hingga meninggal, Ia terus mengikuti perkembangan kesehatan Sambas hingga mengantarkan sang legend ke tempat peristirahatan terakhir sang legenda. Dia adalah Ir. Brigitta Isworo Laksmi, wartawati Senior KOMPAS yang juga seorang pengamat Kebudayaan

Dalam diskusinya, Brigitta menilai soal dimensi kebudayaan dan seni dalam rekam jejak Sambas. Brigitta menekankan bahwa, seorang penyiar ideal adalah seseorang yang juga memahami serta melestarikan kearifan lokal melalui media.

Soal kedekatannya dengan Sambas Brigitta bercerita bahwa, dirinya memang pernah mengidolakan Sambas tetapi tidak terlalu difokuskan hingga pada suatu even olahraga di Hongkong Ia tanpa sengaja bisa berkenalan dengan Sambas karena satu liputan uang sama yakni Bulutangkis

“Pak Sambas itu bisa perannya sebagai inspirator adalah melalui laporan-laporan yang Pak Sambas lakukan selalu dibuka dengan kata-kata ‘saudara-saudara sebangsa dan setanah air” ujarnya’.

” Ucapan ” saudara-saudara sebangsa dan setanah air'” Sambas adalah menandaskan bahwa, kita itu adalah satu bangsa dan kita sesama saudara” , dan melalui laporan-laporannya itu, menurut Brigitta Sambas menyatukan kita dan memompa rasa kebangsaan kita, terutama ketika melaporkan acara olahraga.” tambah Brigitta ketika menjawab soal peran pak Sambas memupuk Rasa Kebangsaan.

Makin kenal dan dekat Brigitta dengan Sambas, Ia pun sangat terkesan dengan kerendahan Hati sang idolanya itu

​”Saya terkesan sekali karena Pak Sambas adalah pribadi yang sangat rendah hati. Bahkan ketika saya ketemu beliau, berkunjung ke rumah beliau, sama sekali Pak Sambas itu tidak punya tersirat kekecewaan karena saya tidak tahu bahwa Pak Sambas itulah yang menciptakan Manuk Dadali dan sebagainya.” ungkap Brigitta.

Brigitta juga menyebut soal karakter Penyiaran dari seniornya di dunia jurnalistik ini.

“Yang paling mendalam bagi saya adalah pertama dalam laporannya Sambas sangat santun, kedua tegas, ketiga penuh warna. Itu tanda bahwa Sambas menguasai masalah dan wawasan ya luas.” sergahnya.

Brigitta menjawab lugas saat ditanya apa nilai kepenyiaran Sambas dalam menginspirasi Generasi Sekarang yang diharapkan?

​”Ini emang inspirasi nilai-nilai Sambas ya, bukan hanya skill-nya dia, tapi nilai-nilai kepenyiaran, yaitu menyebarkan warta itu beretika, berintegritas, dan dewasa.”

img 20261021 wa0092
Inge Krisyani Sambas menyebut kalau Ayah Sambas adalah figur orang tua yang menginspirasi banyak orang (foto : Abie Mujib)

Soal pujian dan keramahtamahan dari Sambas sendiri sebetulnya diakui oleh salah satu putrinya yang bernama lengkap Inge Krisyani Sambas.

​”Bapak itu kalau di luar kan tokoh, tapi kalau di rumah ya Bapak yang sangat hangat, sangat lucu, dan suka bercanda sama anak-anaknya. Beliau pribadi yang sangat sederhana dan penyayang keluarga.” tuturnya.

Anak ke-6 dari keluarga Sambas – Siti Zuhra ini juga menyebut apa yang Brigitta sebut ayahnya sebagai figur yang rendah hati​ diakuinya.

​”Bapak tidak pernah merasa dirinya orang besar. Walaupun ciptain lagu atau terkenal di TVRI, Bapak tidak pernah tinggi hati. Sikap rendah hati dan apa adanya itu yang selalu ditunjukkan ke kami anak-anaknya.”ungkap Inge
​
Kebersamaan Ayah dan Ibu dalam Keluarga pun menjadi sesuatu yang dijadikan inspirasi buat dirinya dalam menjalani kehidupan berkeluarga selama ini.

​”Ibu selalu mendampingi Bapak dengan setia. Kebersamaan Bapak dan Ibu itu memberi teladan buat kami’ Imbuhnya.

img 20261021 wa0093
Indra Basly, salah seorang cucu ( warisan semangat penyiaran ) alm penyiar Sambas diteruskan olehnya dengan mengemban profesi sebagai produser di TVRI Sport. (foto : Abie Mujib)

Sementara itu, Indra Basly – salah satu cucu dari almarhum Sambas – yang juga malam itu hadir mengakui kalau kakeknya itu merupakan orang yang sangat rendah hati dan disiplin dalam menyayangi semua anak cucunya dengan adil. Pernah situ ketika pas anak dan cucunya sedang menonton pertandingan sepakbola di Televisi, ternyata semuanya tertidur hanya sang kakek saja yang menonton, dan esok harinya semua anak cucunya itu diceritakan tentang pertandingan malam itu” tutur Indra penuh haru.

Disisi lain, sebagai penghormatan atas dedikasi sepanjang hayatnya di dunia penyiaran radio dan televisi Indonesia, Sambas dianugerahi Lifetime Achievement Award oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2022

Sebagai penutup, perayaan satu abad Sambas ini digerakkan dan disponsori oleh tim LPP RRI Jakarta, Bank Indonesia dan kolaborasi dengan Tibis Sinergi Cendekia Consulting Firm.

Ke depan, Tika berharap tahun 2027 nanti Pemda Bandung dan Subang akan melanjutkan acara Tribute 100 Years Sambas Mangundikarta ini dari aspek kebudayaan Sunda. Aamiin.

Semoga gayung bersambut ya mba Tika..,.

​——————————– Abie Mujib

No More Posts Available.

No more pages to load.