Lokakarya Nasional, Perlu Pendidikan Profesi Pertambangan

oleh -
oleh
img 20260214 225851

NASIONALNEWS.ID YOGYAKARTA – Dunia industri pertambangan saat ini kian memprihatinkan. Pasalnya, semakin hari ke depan penambangan secara terbuka, mulai sulit dilakukan.

Menyikapi hal ini, Ikatan Alumni Tambang (IKATA) UPN Veteran Yogyakarta bersama praktisi pertambangan menggelar Lokakarya Nasional, usulan pendirian pendidikan profesi pertambangan di Grand Diamond Hotel Yogyakarta, Sabtu (14/2/2026).

Forum bergengsi ini, panitia pelaksana lokakarya nasional tersebut menghadirkan unsur dari akademisi, pelaku usaha, asosiasi, pemerintah, praktisi hingga media. Forum ini menjadi spesial karena dihadiri langsung oleh Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si dan menghadirkan Dirjen Minerba Kementerian ESDM RI, Dr. Ing. Tri Winarno,ST, MT sebagai narasumber.

Ketua Panitia Pelaksana Lokakarya Nasional, usulan pendirian pendidikan profesi pertambangan, Ir. Herry Susanto mengatakan bahwa sebagai praktisi pertambangan menilai akan pentingnya memiliki pendidikan tinggi yang berkualitas dalam rangka menghadapi tantangan zaman di industri pertambangan.

Pasalnya, dewasa ini industri pertambangan global semakin ketat sehingga tantangan ini harus dihadapi. Berawal dari inilah, pihaknya bersama IKATA menggagas akan pentingnya peningkatan kompetensi penambang.

“Kompetensi ini perlu, karena saat ini dunia industri tambang kita sudah tidak lagi dilakukan secara terbuka. Kita tahu endapan bahan galian saat ini yang gampang ditambang sudah sulit didapat,” ujarnya disela acara lokakarya Nasional, Sabtu (14/2/2026).

Dikatakan oleh Herry, yang telah malang-melintang di dunia praktisi tambang selama 32 tahun mengatakan bahwa industri tambang ke depan yang bisa dilakukan adalah metode tambang bawah tanah.

“Jadi endapan-endapan tambang yang bisa dilakukan, mau tidak mau harus dengan cara under ground. Nah, menghadapi tantangan kita harus menyiapkan tenaga yang kompetensi. Dari itulah, kita diskusi agar bisa melahirkan ide-ide ke arah itu,” jelas Herry Susanto.

Bicara soal tambang bawah tanah, Herry ingin mengubah pola pikir stakeholder yang bergerak di sektor pertambangan. Dimana dalam melakukan tata kelola tambang metode under ground tidak mudah. Dalam menata tambang tersebut diperlukan tenaga kompetensi.

Ide-ide yang pihaknya gagas sebagai praktisi bersama IKATA UPN Veteran Yogyakarta bisa direspon lembaga pendidikan tinggi.

“Tinggal bagaimana nanti pihak pendidikan tinggi dalam menyikapi hasil diskusi kami melalui lokakarya ini,” kata Herry.

Herry juga bersyukur karena Dirjen Minerba ESDM turut memberi lampu hijau atas gagasan para praktisi tambang yang telah ikut memberikan sumbangsih pemikiran kepada bangsa dan negara di sektor pertambangan.

Tidak hanya itu, Dirjen Minerba ESDM juga didaulat sebagai salah satu narasumber di acara ini dan telah memberikan arahan secara vicon.

Hal serupa dengan Rektor UPN Veteran Yogyakarta. Dimana Rektor UPN Veteran Yogyakarta menyambut baik lokakarya nasional tentang usulan pendirian pendidikan kompetensi pertambangan.

“Kami disambut baik oleh Pak Dirjen  Minerba ESDM dan Pak Rektor UPN Veteran Yogyakarta. Dan arahan agar diletakkan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang membidangi pertambangan,” tandas Herry Susanto.

Ketua IKATA UPN Veteran Yogyakarta, Andriyan Harizona, ST mengatakan, bahwa melalui lokakarya Nasional ini IKATA hanya memfasilitasi sebanyak 7.000 anggotanya dalam menyalurkan ide-ide dan gagasannya terutama di sektor pertambangan.

“Kami kan memiliki sebanyak 7.000 anggota termasuk Dirjen Minerba ESDM. Dari ribuan anggota IKATA UPN Veteran Yogyakarta ini memiliki disiplin berbeda-beda sehingga perlu diwadahi agar bisa melahirkan gagasan yang baik untuk negeri,” kata Andriyan seraya menegaskan bahwa salah satu gagasan alumni UPN Veteran Yogyakarta ini yakni lokakarya nasional disektor tambang tersebut.     (PA)

No More Posts Available.

No more pages to load.