Menjaga Tradisi Islami dalam Membangun Peradaban Bangsa lewat HSBI

oleh -
img 20250811 wa0032
Mentri Kebudayaan RI Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc saat memberikan sambutan dalam rangka pengukuhan pengurus Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI)periode 2024-2029 di ruang H.N.Jassin TIM, Jaktim Sabtu (9/8) siang

Nasionalnews.id, Jakarta – Menteri Kebudayaan RI Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc Sabtu (9/8) sore hadir di ruang H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Kehadiran Fadli Zon dimaksudkan dalam rangka mengukuhkan susunan kepengurusan organisasi Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang telah dibentuk untuk periode 2024–2029 mendatang. Selain itu sang Mentri hadir karena mantan wakil ketua DPR-RI era presiden ini merupakan ketua umum dari perkumpulan para seniman dan budayawan yang terkumpul dalam wadah tersebut.

Dalam sambutannya sebelum dilakukan pengukuhan dewan pengurus, Fadli Zon meminta para pengurus untuk berkiprah memajukan kebudayaan di tanah air khususnya kebudayaan Islam.

Fadli juga menegaskan bahwa seni dan budaya Islam memiliki peran penting sebagai wahana dakwah dan identitas kebangsaan.

“HSBI bukan sekadar organisasi seni, melainkan juga penjaga tradisi Islami yang membangun peradaban bangsa melalui karya seni yang mencerminkan nilai-nilai luhur agama dan budaya lokal

Dalam pengukuhan pengurus HSBI ini, Menbud Fadli juga menegaskan bahwa pelantikan ini merupakan awal dari tugas besar. Para pengurus baru diharapkan mampu menjadikan HSBI sebagai ruang yang kreatif, inklusif, dan relevan dengan zaman.

“Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan mendukung penuh upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Islam, termasuk program pembinaan, pelatihan, dan promosi karya para seniman,” ucapnya.

“Acara pengukuhan ini juga menjadi momen penting bagi pengurus HSBI periode 2024–2029.” Imbuhnya lagi.

Di acara yang mengusung tema “seni yang inklusif” membangun ekosistem kebudayaan Islam yang harmonis dan inklusif ini HSBI juga menghadirkan kolaborasi unik antar penyair, penyanyi, pemusik, dan penyandang disabilitas netra, daksa, serta tuli.

Sesuai dengan tema acara, ditampilkan tarian khas asal Papua “Yamko Rambe Yamko” yang dibawakan oleh lima (5) orang penyandang disabilitas serta satu puisi dan musikalisasi karya dari Taufiq Ismail berjudul “Ketika Kami dan Tanganku Berkata” yang turut dibacakan bersama para seniman difabel dan diiringi musik Uyung Mahagenta dalam kegiatan tersebut.

Menurut Menbud Fadli yang juga seorang politikus, sejarawan dan mantan aktivis ini, “Seni adalah bahasa universal yang mempersatukan umat dan bangsa”

Dengan kegiatan Seni yang Inklusif, HSBI ingin menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan budaya.

HSBI berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi dunia seni untuk membuka ruang kolaborasi yang setara dan memberdayakan semua kalangan.

Harapan ini sesuai dengan keinginan sang inisiator dan pendiri HSBI yakni H. Abdullah Aidid – seorang pejabat Kepala Djawatan Penerangan Agama, Kementerian Agama RI – agar Ket yg yang menginginkan organisasi Islam yang aktif dibidang seni dan budaya.

Sebagai Ketua Umum HSBI, Fadli Zon menegaskan dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama menjaga dan mengembangkan warisan seni budaya Islam yang kaya dan beragam sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.

“Dahulu pernah digelar Festival Istiqlal pada tahun 1991 dan 1995. Mari kita merancang festival budaya Islam yang lebih besar. Kita kerjasama dengan berbagai pihak seperti Kementerian Agama dan lain-lain,” Ungkap Fadli.

“Sehingga ekspresi budaya Islam kita angkat kembali. Kebudayaan itu luas bukan hanya seni. Semua karya manusia itu juga masuk dalam unsur kebudayaan,”Papar pria kelahiran 1 Juni 1971 ini mengenang kebesaran nama HSBI pada masanya.

img 20250811 wa0038
foto bersama pengurus HSBI periode 2024-2029 yg juga dihadiri oleh beberapa tokoh dan artis seperti anggota DPD RI Alfiansyah Bustami alias Komeng, Adi Bing Slamet, Jose Rizal Manua yg mengisi beberapa posisi penting di organisasi itu

Dari pantauan Nasionalnews.id, hadir di kursi tamu undangan anggota Dewan Perwakilan Daerah Alfiansyah Bustami alias Komeng uhuuy, komedian Rudy Sipit, bang Madit, artis Adi Bing Slamet, Hj.Neno Warisman, Dik Dik Kusnadi ( eks BNN), sastrawan Jose Rizal Manua, pegiat seni Putra Gara, Helvy Tiana Rosa, Megawati Nurdin, Ati Cancer serta penyair senior H.Taufiq Ismail. Nampak pula dari jajaran Kementerian Kebudayaan, antara lain Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik M. Asrian Mirza, yang juga merupakan Bendahara Umum Pengurus Pusat HSBI

Sore itu sebagian dari tetamu ada yang didaulat panitia untuk tampil membacakan puisi dan bernyanyi.

Jalannya acara pengukuhan ramai dan lancar.

Acara dimulai dengan penampilan dari Megawati Nurdin yang membacakan puisi tentang palestina. Suasana terlihat senyap saat puisi karya Helvy Tiana Rosa tersebut lantang disuarakan.

Suasana menjadi haru terbungkam oleh intonasi suara Megawati yang turun melandai dengan gerak dan tubuh yang mengikuti alur puisinya. Penampilan Megawati sempurna.

Lalu budayawan Putra Gara menyusul tampil lewat puisi karya Fadli Zon dan karyanya sendiri.

Suasana santai sebelum acara dimulai pada pukul 16.00 wib itu juga dihias oleh lagu “Sajadah Panjang” bernuansa religius ciptaan Taufik Ismail.

Selain Putra Gara, sastrawan wanita Helvy Tiana Rosa juga turut tampil membacakan puisi yang baru dibuatnya dalam perjalanan menuju acara. Lalu disusul Sekjen Abrory Djabbar, S.H memberikan kata sambutan.

Dipertengahan acara, Nike selaku Master of ceremony (MC) membacakan profil HSBI.

img 20250811 wa0045
Senior dan sesepuh HSBI Aty Cancer dan Ana satriana Lubis bangga dan turut hadir menyaksikan pengukuhan pengurus baru organisasi yang telah ada sejak tahun 1956 ini

Setelah itu para senior HSBI seperti Aty Cancer bercerita tentang keterlibatannya sejak awal bergabung di HSBI. Aty menceritakan pengalamannya dari SMP hingga SMA dan bisa sukses bermain film di TVRI. Aty sangat terharu biru saat bercerita di depan ratusan hadirin yg memadati bangku undangan.

“Dengan dihidupkannya kembali HSBI saya sangat terharu. semoga HSBI diakui dimana-mana”Imbuh Aty sambil mengajak sesepuh HSBI lain bernama Ana satriana Lubis yang sore itu hadir duduk menggunakan kursi roda.

Menurut Aty, Ana waktu itu adalah ⁸primadona-nya HSBI dari awal terbentuk. Keduanya sangat bangga HSBI sampai hari ini masih ada bahkan masih terus menjaga eksistensinya dengan memunculkan pengurus-pengurus baru yang akan meneruskan perjuangan visi dan misi dari HSBI.

“Apakah saat ini HSBI bisa bangkit kembali..?” Tanya Ana pada yang hadir. Meski begitu Ana mendoakan agar HSBI bisa bangkit lagi. Ana juga menyebut kalau kejadian yang sudah terjadi dulu jadikan sebagai gambaran dan cambuk agar HSBI bisa terus jalan dan berkiprah..

Ana juga memberikan kiat dengan selalu bergembira dalam berorganisasi agar HSBI terus dan bisa seperti dulu.

Selain Ana ada juga Dik Dik Kusnadi yang dengan adanya pengukuhan pengurus baru dirinya berharap HSBI bisa berkarya serta mensosialisasikan tentang narkoba.
Mantan kepala BNN Jaksel ini juga ingin HSBI ikut serta dalam membangun kesadaran .

Menurut Dik-dik ada satu lagu dari band Ungu yang bisa menginspirasi agar terhindar dari narkoba yang berjudul “Dengan Nafas Mu”.

Dik Dik pun mengajak semua yang hadir di acara itu untuk menyanyikan bersama lagu ungu tersebut. Suasana pun cair saat lagu didendangkan.

Acara break sesaat dilakukan untuk ishoma saat mendengar azan ashar. Setelah itu sambutan dari ketua acara yang bercerita tentang kepengurusan HSBI dan penyerahan plakat acara

Acara dilanjut dengan menghadirkan penyanyi Neno Warisman yang tampil trio berkolaborasi musik dan lagu dengan dua putrinya membawakan lagu ciptaan Fadli Zon berjudul “Hujan Bulan Juni”

Sebagai penutup kegiatan HSBI tersebut, sastrawan Taufik Ismail dan penyair Jose Rizal Manua didaulat membacakan karyanya.

Penampilan penyair Jose yang nyentrik memang banyak ditunggu para penggemarnya di acara HSBI itu. Tampil dengan aksen bahasa jelas dan penuh penekanan, Jose memang sangat apik memainkan kata-kata kocak dan menggelitik.

Membawakan materi keren kedua berjudul “perbedaan budaya orang Indonesia dan Jepang, sajian puisi penuh humor sang senior ini selalu penuh ‘ger’ dan endingnya ditutup dengan aplous puas dari semua hadirin.

Sebagai informasi, Kepengurusan HSBI
periode 2024–2029 diisi oleh sejumlah tokoh terkemuka dari berbagai latar belakang yang diharapkan dapat membawa HSBI ke arah yang lebih maju dan inovatif.

Pengurus baru HSBI terdiri dari berbagai tokoh, termasuk Sekretaris Jenderal Abrory Djabbar, S.H., Wakil Sekretaris Jenderal Budi Sumarno, dan Bendahara H.M. Asrian Mirza, M.Si.

Sementara beberapa nama penting juga tercatat yak i Alfiansyah “Komeng” – Anggota Dewan Perwakilan Daerah atau DPD RI 2024-2029 duduk sebagai Dewan Penasehat HSBI, Artis Adi Bing Slamet menjabat sebagai Ketua Bidang Film dan Sinetron, Rudi Sipit – komedian – sebagai Ketua Bidang Komedian, Syarifuddin Husein sebagai Ketua Dewan Pengawas, dan penulis Asma Nadia menjadi Anggota Dewan Pakar.

Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat visi dan misi HSBI dalam memajukan seni dan budaya Islam di Indonesia.

Usai menyebut dan mengukuhkan nama-nama pengurus HSBI periode 2024-2029 Fadli Zon menyematkan pin kepada perwakilan ketua dan divisi sekaligus dilakukan foto bersama engurus.

img 20250811 wa0048
salah satu penampilan tari ondel-ondel yang dilakukan oleh anak berkebutuhan khusus hadir bersama para penyair, penyanyi, pemusik, dan penyandang disabilitas netra, daksa, serta tuli di acara HSBI tersebut

Sejarah HSBI

HSBI didirikan pada 24 September 1956 atas inisiatif H. Abdullah Aidid, pejabat Kepala Djawatan Penerangan Agama, Kementerian Agama RI yang menginginkan organisasi Islam yang aktif dibidang seni dan budaya. HSBI menjadi wadah kelompok muslim reformis, termasuk warga Muhammadiyah.

Desember 1961, melalui Majelis Seniman Budajawan Islam (MASBI), HSBI mengadakan musyawarah kebudayaan yang hasilnya menyebut bahwa seni adalah aktivitas yang halal dalam pandangan hukum Islam dan melakukan aktivitasnya menghindari hal-hal yang haram.

Di luar internal organisasi, HSBI telah menyelenggarakan berbagai kegiatan seni Islami yang hebat. Dalam sebuah perayaan Maulid nabi Muhammad saw HSBI mementaskan sebuah drama kolosal“Titik Terang” tahun 1961. Acara ini ditonton puluhan ribu orang. HSBI juga spat menggelar “Pesta Penjair Islam” pada tahun 1963 yang diikuti berbagai organisasi Islam, seperti PMII, HMI, GPII, PNU, PII, Pemuda Anshor, dan Pemuda Muhammadiyah dll. Hal ini menandai adanya kolaborasi pemuda lintas keagamaan..

Oke deh…Sukses terus HSBI dalam menyiarkan, mengembangkan, melestarikan, dan mempromosikan seni dan budaya, baik secara lokal maupun globa….Aamiin

—————————— Abie Mujib

No More Posts Available.

No more pages to load.