Tazbir: Pers Harus Dorong Kebangkitan Budaya dan Pariwisata Yogyakarta

oleh -
tazbir

NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA — Pers memiliki peran strategis dalam mendorong kebangkitan budaya yang pada akhirnya dapat memperkuat pariwisata Yogyakarta.

Media tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga dapat menjadi penggerak dalam mengenalkan, merawat, sekaligus menghidupkan berbagai potensi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Tazbir Abdullah, Komisaris Jogja Expo Center (JEC), saat berbincang dengan nasionalnews.id di Narasa Resto&Coffee, Selasa (4/8/2026).

Menurut Tazbir, kekuatan pariwisata Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari budaya yang telah mengakar dan menjadi identitas masyarakat. Karena itu, kebangkitan budaya membutuhkan dukungan berbagai elemen, termasuk insan pers.

“Peran insan pers harus menjadi pendorong bangkitnya budaya yang akan mendorong pariwisata di Yogyakarta,” ujar Tazbir.

Ia mengatakan, sinergi antara pemerintah, seniman, budayawan, komunitas, pelaku pariwisata, masyarakat, dan media perlu terus diperkuat. Masing-masing memiliki peran dalam menjaga agar kebudayaan Yogyakarta tetap hidup sekaligus mampu menjawab perkembangan zaman.

trio

Jogja Semesta Jadi Ruang Pertemuan Budaya

Tazbir mencontohkan Jogja Semesta sebagai salah satu ruang yang dapat menyatukan berbagai elemen seni dan budaya yang berkembang di Yogyakarta.

“Kita di Jogjakarta punya acara Jogja Semesta. Semua elemen dari berbagai seni budaya yang berkembang dihimpun dalam acara itu. Dalam hal ini peranan insan pers memegang peranan dan juga menjadi ajang silaturahmi, sehingga bisa saling mengenal dengan berbagai kalangan,” katanya.

Jogja Semesta merupakan forum dialog budaya sekaligus gelar seni yang rutin digelar di Yogyakarta setiap malam Selasa Wage. Kegiatan ini memadukan sarasehan, diskusi mengenai isu-isu mutakhir, serta pementasan kesenian tradisional dan kontemporer.

Bagi Tazbir, keberadaan forum seperti Jogja Semesta penting karena budaya tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Budaya harus terus dibicarakan, dikembangkan, dan diberi ruang agar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di sinilah pers dapat mengambil peran lebih besar. Media tidak sekadar memberitakan kegiatan, tetapi juga dapat mengangkat gagasan, proses kreatif, karya seniman, komunitas, tradisi, dan berbagai persoalan kebudayaan kepada publik.

Dengan pemberitaan yang berkelanjutan, berbagai potensi tersebut dapat dikenal lebih luas sekaligus membuka peluang kolaborasi antara pelaku budaya, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan sektor pariwisata.

Merefleksikan 13 Tahun Keistimewaan DIY

Menurut Tazbir, Jogja Semesta juga dapat menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tiga belas tahun setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, Yogyakarta dinilai perlu kembali merenungkan sejauh mana status istimewa tersebut telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat dan memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan.

Refleksi tersebut bukan sekadar perayaan, melainkan kesempatan untuk melihat kembali fondasi, tantangan, dan harapan terhadap Keistimewaan DIY.

Dalam dialog budaya yang digelar melalui Jogja Semesta, para pegiat seni dan budaya, birokrat, hingga tokoh masyarakat dapat berkumpul dan berdiskusi mengenai perjalanan serta masa depan keistimewaan Yogyakarta.

Menurut Tazbir, ruang dialog semacam itu penting agar keistimewaan tidak hanya dipahami dari perspektif pemerintahan, tetapi juga dari sisi kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

Pers kemudian memiliki posisi penting untuk membawa gagasan tersebut kepada masyarakat luas.

Budaya sebagai Penggerak Pariwisata

Tazbir melihat budaya dan pariwisata Yogyakarta sebagai dua hal yang saling berkaitan. Kekayaan tradisi, kesenian, sejarah, kuliner, hingga kehidupan masyarakat merupakan modal penting yang membuat Yogyakarta memiliki karakter sebagai destinasi wisata.

Karena itu, kebangkitan budaya harus diikuti dengan strategi komunikasi yang kuat. Pers dapat membantu memperkenalkan berbagai potensi tersebut sekaligus memberikan ruang kepada para pelaku budaya untuk menyampaikan gagasan dan karya mereka.

Pemberitaan budaya, kata Tazbir, juga tidak semestinya hanya muncul ketika berlangsung festival atau kegiatan seremonial. Media perlu secara konsisten mengangkat tokoh, komunitas, karya, tradisi, kesenian tradisional dan kontemporer, serta inovasi budaya yang lahir dari masyarakat.

Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi menjadi kekuatan yang terus hidup dan berkembang. Pada saat yang sama, pariwisata memperoleh daya tarik dari kebudayaan yang tumbuh secara autentik di tengah masyarakat.

“Budaya harus hidup di masyarakat. Ketika budaya bergerak dan mendapatkan ruang, pariwisata juga akan ikut bergerak,” ujar Tazbir.

Ia berharap sinergi antara pers, pemerintah, pelaku budaya, komunitas, dan sektor pariwisata semakin kuat. Yogyakarta memiliki modal budaya yang besar dan membutuhkan ekosistem bersama agar kekuatan tersebut dapat terus berkembang.

Dalam konteks itu, pers bukan hanya menjadi pencatat berbagai peristiwa kebudayaan, tetapi juga dapat mengambil posisi sebagai bagian dari ekosistem yang mendorong budaya tetap hidup, berkembang, dan menjadi kekuatan bagi pariwisata serta kesejahteraan masyarakat Yogyakarta. (Ridar/Jat)

No More Posts Available.

No more pages to load.