NASIONALNEWS.id,YOGYAKARTA– Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat baru saja menggelar upacara sugengan, sebuah ritual tradisional permohonan keselamatan, guna memastikan kelancaran proses penebangan pohon beringin raksasa bernama Ringin Sepuh di halaman Masjid Gede Mataram, Kotagede, serta makam Panembahan Senopati. Pohon legendaris ini, yang diduga ditanam oleh Sunan Kalijaga sekitar enam abad silam—sebelum Kerajaan Mataram lahir—kini menjadi sorotan setelah roboh berulang akibat angin kencang belakangan ini. Ritual tersebut digelar pada Jumat, 13 Februari 2026, sebagai lanjutan instruksi kraton untuk menjaga harmoni antara warisan budaya dan keamanan publik.
Upacara sugengan dipimpin oleh para tokoh adat dan kerabat dekat Kraton Yogyakarta, dengan tujuan utama mendapatkan restu ilahi agar penebangan bisa dilakukan tanpa risiko. “Kami hanya melanjutkan *dawuh* dari kraton untuk mempersiapkan upacara sugengan yang bertujuan agar memperoleh kelancaran menebang pohon beringin raksasa yang berusia ratusan tahun ini,” ungkap E. Nanang, salah satu kerabat dekat Kraton, kepada reporter NasionalNews.id sebelum ritual dimulai. Namun, keputusan apakah pohon akan ditebang sepenuhnya atau hanya sebagian masih menunggu evaluasi situasi terkini. “Masih belum tahu ditebang seluruhnya atau sebagian saja, kita lihat yang jelas keberadaan pohon beringin raksasa itu tidak mengganggu,” tambahnya, menekankan bahwa meski sering runtuh, pohon ini tetap dianggap netral bagi lingkungan sekitar.
Ringin Sepuh, yang telah menjadi simbol pengayoman, kekuatan, dan penjaga mata air sejak masa penataan wilayah Mataram Islam oleh Ki Ageng Pamanahan, kini menghadapi tantangan besar pasca-robohannya. Peristiwa pertama terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, di mana cabang-cabangnya merobohkan beberapa kendaraan seperti sepeda motor dan mobil, plus bangunan sederhana. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. “Beberapa buah sepeda motor dan mobil termasuk bangsal rusak. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” cerita Bambang, abdi dalem Makam Panembahan Senopati, yang menyaksikan langsung insiden tersebut. Insiden kedua lebih mengejutkan: pada Kamis, 11 Februari 2026, batang pohon roboh tanpa angin tiba-tiba, meninggalkan kerusakan luas di area masjid dan makam. Widodo, anggota takmir Masjid Gede Mataram dan muazin setempat, mengaku sempat absen saat peristiwa terbaru karena sedang bersiap salat Maghrib di masjid. “Sa’at itu tidak berada di tempat tapi di masjid persiapan menunggu tibanya shalat magrib,” tuturnya. Pengalaman traumatis lainnya datang pada 2016, ketika pohon ini juga roboh tepat saat persiapan pernikahan putrinya, sehingga acara harus dialihkan ke serambi masjid demi alasan keamanan.

Ridar







