NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Upaya menjaga budaya Jawa di tengah derasnya modernisasi terus dilakukan di Kabupaten Sleman. Sebanyak 97 peserta mengikuti Pelatihan Adiwicara Angkatan I yang digelar DPD Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman.
Bupati Sleman Harda Kiswaya membuka kegiatan Sarasehan Ke-3 sekaligus Pelatihan Adiwicara Angkatan I tersebut pada Kamis (1/10).
Harda menilai kemampuan adiwicara atau berbicara di depan umum bukan hanya soal teknik berbicara. Lebih dari itu, kemampuan tersebut mencerminkan karakter, unggah-ungguh, tata krama, dan kesantunan seseorang.
Menurutnya, seorang adiwicara memiliki tanggung jawab moral karena kata-kata yang disampaikan kepada masyarakat dapat memberikan semangat sekaligus memperkuat persatuan.
“Sebagai seorang adiwicara, kita diingatkan pada falsafah ‘Ajining diri saka lathi’, bahwa kehormatan seseorang tercermin dari tutur katanya,” ujar Harda.
Ia menambahkan, semakin tinggi kemampuan seseorang berbicara di depan masyarakat, semakin besar pula tanggung jawab dalam menggunakan kata-kata secara bijak.
Harda juga mendorong PPY Sleman memperluas sinergi dengan Pemkab Sleman, lembaga pendidikan, dan para budayawan. Langkah ini dinilai penting agar bahasa, sastra, seni, serta nilai luhur budaya Jawa tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
3 Bulan, 24 Kali Pertemuan
Ketua DPD PPY Kabupaten Sleman Agus Wiranto mengatakan, pelatihan adiwicara tersebut dirancang secara intensif selama tiga bulan dengan 24 kali pertemuan.
Program tersebut melibatkan 12 narasumber ahli dan diikuti 97 peserta.
Agus menyebut PPY Sleman menjadi satu-satunya kepengurusan PPY di wilayah Yogyakarta yang mampu menyelenggarakan program pawiyatan atau pelatihan secara mandiri.
“Program ini kami harapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara, tetapi juga memperkuat pemahaman peserta terhadap tata krama dan nilai budaya Jawa,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas budaya diharapkan membuat PPY Sleman semakin kuat sebagai ruang belajar dan pengembangan kapasitas masyarakat.
Pelatihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi Jawa agar tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap digunakan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat saat ini. (Jat)











