NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Kabupaten Sleman memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kota film. Potensi tersebut terlihat dari ekosistem perfilman yang mulai tumbuh, keberadaan komunitas, studio produksi, hingga banyaknya lokasi yang telah digunakan sebagai latar berbagai film populer.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Abu Bakar menyampaikan, Sleman memiliki jumlah penduduk sekitar 1,19 juta jiwa dengan ekosistem film yang cukup kuat. Hal itu disampaikannya dalam jumpa pers tentang potensi Sleman menuju Kota Film, Jumat (21/8), di Ruang Sembada, Sleman.
Menurut Abu Bakar, saat ini terdapat sedikitnya 16 komunitas film yang berkembang di Sleman. Selain itu, terdapat lebih dari sembilan studio animasi dan film yang telah terdaftar.
“Studio yang terdaftar ada lebih dari sembilan. Belum termasuk anak-anak yang bekerja secara freelance dan memproduksi film maupun animasi dari kos-kosan,” ujar Abu Bakar.
Ia menyebut kawasan Depok khususnya Condongcatur menjadi salah satu wilayah yang memiliki aktivitas produksi film dan animasi cukup besar. Bahkan, ekosistem perfilman tersebut tidak hanya bertumpu pada studio formal, tetapi juga tumbuh dari kreativitas anak-anak muda.
Sleman juga memiliki sekitar 20 tempat produksi film dan lima gedung film, termasuk tiga televisi lokal. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun ekosistem industri film yang lebih kuat.
Selain sumber daya manusia dan fasilitas produksi, Sleman mempunyai keunggulan lain berupa kekayaan lokasi yang menarik bagi industri perfilman.
Sejumlah kawasan di Sleman telah menjadi lokasi pengambilan gambar film. Di antaranya Gunung Merapi, kawasan Keraton sebagai bagian dari Sumbu Filosofi, Ratu Boko, serta Plunyon.
Abu Bakar menyebut film Ada Apa dengan Cinta (AADC) pernah menggunakan kawasan Ratu Boko sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar. Sementara Plunyon juga dikenal sebagai lokasi yang digunakan dalam film KKN di Desa Penari.
“Dulu anak-anak muda mengambil lokasi di Ratu Boko dan Plunyon. AADC itu di pelataran Ratu Boko, kemudian ada juga Sate Klatak dan Kopi Filosofi sebagai bagian dari lokasi yang dikenal melalui film,” katanya.
Keberadaan lokasi ikonik, komunitas kreatif, studio produksi, serta sumber daya manusia tersebut menjadi modal Sleman untuk mengembangkan industri film secara lebih serius.
Menurut Abu Bakar, potensi tersebut perlu dikonsolidasikan agar tidak berhenti sebagai aktivitas produksi film semata, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri yang mampu memberikan dampak ekonomi dan membuka peluang bagi talenta lokal.
Dengan kekayaan lokasi dan tumbuhnya komunitas kreatif, Sleman dinilai memiliki peluang untuk memperkuat identitasnya sebagai daerah yang ramah terhadap industri film sekaligus mendorong lahirnya karya-karya dari talenta lokal. (Jat)






