NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Pelaku UMKM tak cukup hanya punya produk yang enak dan laku di pasaran. Usaha juga perlu ditata dari sisi legalitas, keuangan, keterampilan hingga akses perbankan agar bisa berkembang lebih jauh.
Hal itu menjadi fokus pertemuan rutin Forum Komunikasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Forkom UMKM) Condongcatur, Rabu (16/9/2026).
Ketua Forkom UMKM Condongcatur, Lien Setyawati, mengatakan pertemuan rutin menjadi ruang bagi anggota untuk saling berbagi pengalaman sekaligus mendapatkan pengetahuan baru yang bisa langsung diterapkan dalam usaha.
“Melalui pertemuan ini, kami berharap anggota memperoleh tambahan ilmu dan pengalaman yang bisa diterapkan dalam menjalankan usaha. Dengan belajar bersama, anggota Forkom UMKM Condongcatur diharapkan semakin berkembang, meningkatkan daya saing, dan mampu naik kelas,” ujar Lien.
Pertemuan berlangsung pukul 08.30 hingga 13.00 WIB dengan menghadirkan sejumlah narasumber. Materinya cukup lengkap, mulai dari pengalaman mengembangkan produk, pelatihan keterampilan, legalitas usaha hingga layanan perbankan.
Pemilik Legit Naturally, Shanti Trisnawati, misalnya, membagikan perjalanan bisnisnya yang bermula dari pengalaman pribadi.
Shanti awalnya ingin membuat makanan bebas gluten untuk anaknya yang menyandang autisme. Dari kebutuhan tersebut, ia kemudian tergerak merintis usaha pangan.
Usahanya terus berkembang. Ragam produk pun diperluas agar bisa dinikmati masyarakat umum.
Salah satu produk unggulannya adalah keripik gudeg, yang membawa cita rasa khas Yogyakarta ke dalam bentuk camilan.
Menurut Shanti, produk Legit Naturally kini sudah masuk ke sejumlah toko oleh-oleh dan hotel. Pengalaman tersebut menjadi gambaran bagi anggota Forkom tentang pentingnya mengembangkan produk sekaligus memperluas pasar.
Tak hanya bicara bisnis, peserta juga diajak mengasah keterampilan melalui praktik membuat bunga dari tisu bersama Dwi Lestari.
Para peserta mengikuti tahapan pembuatan hingga menghasilkan kreasi bunga dari bahan sederhana. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
Materi berikutnya menyentuh persoalan yang sering dihadapi pelaku usaha kecil, yakni legalitas.
Elisabet dan Herlambang dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum DIY memperkenalkan perseroan perorangan sebagai salah satu pilihan badan hukum bagi pelaku usaha mikro dan kecil.
“Perseroan perorangan memberikan kesempatan bagi pelaku usaha mikro dan kecil untuk memiliki usaha berbadan hukum, dengan pemisahan aset pribadi dan perseroan,” ujar Elisabet.
Menurutnya, pelaku usaha yang membutuhkan pendampingan pendaftaran bisa datang langsung ke Kanwil Kementerian Hukum DIY di Jalan Gedongkuning Nomor 146, Yogyakarta, pada Senin hingga Kamis selama jam kerja.
Dalam pemaparan tersebut dijelaskan, perseroan perorangan dapat didirikan oleh satu orang warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan. Pendiri juga dapat bertindak sebagai direktur sekaligus pemegang saham dan membuka rekening atas nama perseroan.
Data Kanwil Kementerian Hukum DIY mencatat terdapat 7.332 perseroan perorangan aktif di DIY per 11 Mei 2026.
Peserta juga mendapat pemahaman mengenai pentingnya pencatatan dan pelaporan keuangan. Pembukuan diperlukan untuk mengetahui kinerja bisnis, memantau arus kas sekaligus menjaga administrasi usaha tetap tertib.
Sesi berikutnya diisi Bank Sleman. Hadir Didik Budiantoro dari bagian penghimpunan dana atau funding serta Latif Dwi Nur Cahyanto dari bagian kredit UMKM.
Keduanya memperkenalkan profil Bank Sleman, titik layanan pembayaran dan kantor kas, sekaligus berbagai layanan perbankan yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha.
“Kami ingin anggota Forkom UMKM Condongcatur semakin mengenal layanan perbankan yang dapat mendukung pengelolaan usahanya. Selain produk simpanan dan kredit, kami memperkenalkan layanan mobil kas keliling, ATM, notifikasi WhatsApp, serta Virtual Account untuk memudahkan transaksi,” jelas Didik.
Sejumlah produk yang diperkenalkan antara lain Tabungan Mutiara, Deposito Berlian, Kredit UMKM, Kredit Sembada, Kredit Kepisan, serta Kredit Angsuran Emas atau KangMas Sembada.
Untuk kredit UMKM, peserta mendapat penjelasan mengenai fasilitas pembiayaan untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi sesuai kebutuhan dan kemampuan usaha.
Proses pengajuan dilakukan melalui tahapan kelengkapan berkas, verifikasi data, survei dan analisis sebelum pencairan apabila persyaratan terpenuhi.
Pertemuan juga berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Sejumlah peserta yang aktif mengajukan pertanyaan mendapatkan hadiah berupa payung dan jam dinding pada akhir sesi perbankan.
Melalui pertemuan tersebut, Forkom UMKM Condongcatur tidak hanya mendorong anggotanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun fondasi usaha yang lebih kuat.
Mulai dari meningkatkan kualitas produk, menambah keterampilan, mengurus legalitas, mencatat keuangan hingga mengenal akses pembiayaan. Semua diarahkan agar UMKM di Condongcatur bisa berkembang dan naik kelas. (Jat)









