Ketika Empat Kalurahan Menjaga Denyut Budaya Bantul

oleh -
gedruk

NASIONALNEWS.ID, BANTUL – Sore perlahan turun di Lapangan Kalurahan Donotirto, Kapanewon Kretek, Bantul, Sabtu (22/8/2026). Namun, suasana justru semakin hidup. Bunyi gamelan bertalu, langkah para penari bergerak mengikuti irama, sementara warga berdatangan, membawa rasa ingin tahu sekaligus kerinduan pada kesenian yang tumbuh dari tanah mereka sendiri.

Di tengah riuh itu, budaya tidak sekadar dipertontonkan. Ia seperti sedang dipanggil kembali untuk hidup.

Jathilan Santri Kalong membuka rangkaian Gelar Potensi Rintisan Desa Budaya dan Atraksi Warisan Budaya Takbenda. Gerak para penari dan hentakan irama segera menyedot perhatian warga yang memadati sekitar lapangan.

Di sisi lain, bazar UMKM dari empat kalurahan ikut menghidupkan suasana. Produk-produk warga berjajar, menawarkan cerita lain tentang desa: bahwa kebudayaan dan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.

Kegiatan tersebut mempertemukan empat kalurahan yang berstatus Rintisan Desa Budaya. Mereka adalah Kalurahan Donotirto dan Tirtohargo dari Kapanewon Kretek, Kalurahan Sumbermulyo dari Kapanewon Bambanglipuro, serta Kalurahan Triharjo dari Kapanewon Pandak.

Malam harinya, panggung budaya semakin semarak. Masing-masing kalurahan membawa kesenian terbaiknya.

Donotirto tampil dengan Jathilan Santri Kalong dan Ande-Ande Lumut. Sumbermulyo menyuguhkan Tari Candramanha dan Toklik. Triharjo menghadirkan Reog Wanita Lembah Progo. Sedangkan Tirtohargo membawa Kethoprak Krina Budaya.

Empat kalurahan, empat warna kesenian, tetapi memiliki satu harapan yang sama: agar warisan budaya tidak berhenti sebagai kenangan.

Dari Panggung Menuju Desa Budaya

Bagi masyarakat Donotirto, panggung malam itu bukan sekadar hiburan. Ada cita-cita yang lebih jauh di balik setiap gerakan tari dan lantunan musik tradisional.

Lurah Donotirto, H. Jurahimi, berharap gelar potensi tersebut dapat menjadi salah satu langkah bagi empat kalurahan untuk meningkatkan status dari Rintisan Desa Budaya menjadi Desa Budaya.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Predikat Desa Budaya diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi seni, tradisi, kreativitas, hingga perekonomian lokal.

“Saya berharap dengan menyandang sebagai Desa Budaya, semoga warga kami semakin sejahtera,” tegas Jurahimi.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan mimpi besar. Sebab bagi masyarakat desa, menjaga budaya bukan hanya tentang mempertahankan apa yang diwariskan leluhur. Lebih dari itu, budaya diharapkan mampu menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Jathilan, ketoprak, reog, tari tradisional hingga kesenian rakyat lainnya menjadi bagian dari identitas yang terus dirawat. Di tangan generasi penerus, kesenian tersebut menemukan panggung baru dan penonton baru.

Di tengah derasnya perubahan zaman, panggung di Donotirto seakan mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus membuat tradisi tersisih.

Sebaliknya, desa dapat tumbuh dengan tetap membawa akar budayanya.

Malam semakin larut ketika pertunjukan berakhir. Namun, denyut kebudayaan itu belum benar-benar padam.

Ia pulang bersama warga, tumbuh dalam ingatan anak-anak yang menyaksikan pertunjukan, menghidupkan harapan para pelaku seni, dan menjadi doa agar suatu hari empat Rintisan Desa Budaya itu benar-benar melangkah menjadi Desa Budaya.

Sebab selama masyarakat masih mau berkumpul, menonton, berkarya, dan mewariskan tradisi, budaya akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup. (Jat/Wag)

No More Posts Available.

No more pages to load.