Korban Dugaan Malpraktik Tolak Tawaran Umroh RS Mulya

oleh -
oleh
Keluarga pasien didampingi kuasa hukum temui Dirut RS Mulya, Rabu (6/2/2019). Poto: dokist

NASIONALNEWS.ID, KOTA TANGERANG – Keluarga pasien korban dugaan malpraktik operasi katarak, menolak diberangkatkan Umroh oleh pihak RS Mulya. Hal tersebut diungkapkan keluarga pasien saat menyambangi RS Mulya, pada Rabu (20/2/2019) kemarin.

Mamay salah satunya anak dari Maryam yang juga menjadi korban dalam operasi tersebut, menolak upaya rumah sakit mengajak pasien ke tanah suci dengan tujuan umroh. Menurut dia hal tersebut bukanlah keinginan pihak keluarga korban.

Menurutnya, hal tersebut bukanlah keinginan dari keluarga korban yang sudah melakukan operasi pengangkatan mata akibat gagalnya operasi katarak tersebut. Mamay mengaku hanya ingin memberikan yang terbaik buat ibunda tercinta.

“Kami mau ada transparansi hasil audit yang dilakukan. Kemudian kami hanya mau ada perjanjian diatas hitam dan putih kalo pihak rumah sakit mau bertanggung jawab sepenuhnya menanggung biaya ibu saya sampai nanti jika ada keluhan. Bukannya malah mau biayai umroh,” ujarnya.

Baca : Diduga Malpraktik, Pasien Alami Kebutaan

Baca : Dua Kali Bertemu, Keluarga Pasien Belum Juga Dapat Jawaban Pasti

Baca : Dugaan Malpraktik, Dirut RS Mulya Janji Temui Keluarga Pasien

Baca : RS Mulya Bantah Belasan Pasien Gagal Operasi

Baca : Hika: RS Mulya Sadar Ada Kegagalan Pasca Operasi Katarak

Baca : Diduga Malpraktik, Pemkot Akan Panggil Manajemen RS Mulya

Baca : Dinkes Belum Tentukan Pemanggilan Terhadap Managemen RS Mulya

Baca : DPR-RI Minta Pihak Terkait Periksa Dokter dan RS Mulya

Sementara itu Tim Kuasa Hukum, Hika Putra mengatakan pada pertemuan terakhir pihak rumah sakit masih belum bisa menjelaskan hasil investigasi.

“Pihak RS masih belum bisa memberikan hasil investigasi kejadian luar biasa atas apa yang terjadi. Tetapi pihak RS berkomitmen untuk tetap akan memberikan perhatian dan pelayanan terhadap pasien sampai dengan sembuh terkait kesehatan mata yang di operasi,” terang Hika.

Namun demikian Hika mengaku dalam hal ini pihak rumah sakit berjanji akan transparan dan membuka hasil investigasi yang sudah berjalan.

“Pihak RS berjanji akan memberikan Resume Medis pasien pada hari senin 25 Febuari 2019. Dan kemarin pihak RS mempunyai itikad untuk memberikan semacam santunan atau upaya menghibur menenangkan pasien dengan memberangkatkan umroh atau dana senilai umroh, tetapi sementara ditolak oleh pasien,” jelas Hika.

Hika mengaku jika tidak ada transparansi dari pihak rumah sakit maka warga meminta tim kuasa hukum untuk melayangkan somasi.

“Apabila tidak ada kejelasan investigasi atau informasi terkait penyebab terjadi nya kejadian tidak biasa ini, dan tidak ada bentuk pertanggungjawaban secara materil dan immateril maka melalui kuasa Hukum keluarga pasien dari kantor Hukum indonesia muda akan mengajukan Somasi dan Langkah Langkah Hukum. Sementara keluarga masih menerima upaya upaya persuasif dari pihak RS Mulya, tetapi kalau tidak ada kejelasan terpaksa menempuh Jalur Hukum,” tukasnya.

Di tempat terpisah, Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah mengaku belum mengetahui insiden yang menyebabkan 10 orang mengalami komplikasi akibat operasi katarak yang dilakukan pada 27 Januari 2019 lalu.

“Ada apa dengan RS Mulya? Saya belum tau itu. Coba nanti saya tanyakan ke Dinas Kesehatan, mungkin mereka tau,” tegas Arief menandaskan. (aput)

No More Posts Available.

No more pages to load.