Pisah Sambut Bapas Purwokerto: Kepemimpinan Berganti, Agenda Pembinaan Berlanjut

oleh -
oleh
img 20260814 wa0042

NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO – Pergantian kepemimpinan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Purwokerto bukan sekadar seremoni administratif. Di tengah perubahan lanskap hukum nasional melalui pemberlakuan KUHP baru, estafet kepemimpinan menjadi momentum untuk memastikan agenda pembimbingan dan pemberdayaan klien pemasyarakatan terus bergerak.

 

Hal itu mengemuka dalam acara Pisah Sambut dan Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Bapas Kelas II Purwokerto, Jumat (14/8/2026), di Aula Bapas Purwokerto. Jabatan Kepala Bapas secara resmi beralih dari Nasirudin, S.H., M.H. kepada Unggul Sumekto, S.H.

 

Nasirudin, yang menjalankan tugas di Bapas Purwokerto selama tiga bulan, selanjutnya dipercaya memimpin Bapas Kelas II Ciangir, Provinsi Banten. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi terhadap jajaran Bapas Purwokerto sekaligus seluruh mitra yang selama ini menopang pelaksanaan tugas pemasyarakatan.

 

Menurut Nasirudin, kekuatan Bapas Purwokerto tidak hanya terletak pada kapasitas internal organisasi, tetapi juga pada jejaring kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, dunia usaha, kelompok masyarakat, dan insan pers.

 

Ia menilai posisi Bapas semakin strategis seiring perubahan paradigma pemidanaan dalam KUHP baru. Peran Bapas tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi bersentuhan langsung dengan proses pembimbingan dan reintegrasi sosial.

 

“Balai Pemasyarakatan memiliki peran yang sangat strategis, khususnya dalam transformasi hukum nasional dengan berlakunya KUHP baru. Bapas berperan penting dalam pembimbingan terpidana bersyarat, pidana pengawasan, pidana kerja sosial, hingga pembebasan bersyarat,” ujar Nasirudin.

 

Selama masa tugasnya, sejumlah program pemberdayaan turut diperkuat. Di antaranya pemanfaatan lahan untuk produksi minyak sereh dan pelatihan kemandirian bersama Pokmas di Griya Abipraya Kota Lama Banyumas.

 

Bapas Purwokerto juga mendorong produk hasil pembinaan klien pemasyarakatan agar tidak berhenti sebagai karya pelatihan. Produk pangan berupa gula semut, minyak sereh hingga jasa perbengkelan sepeda motor dikembangkan dan diperkenalkan melalui katalog produk sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi.

 

Estafet kepemimpinan kini berada di tangan Unggul Sumekto, yang sebelumnya bertugas di Bapas Pasir Putih Nusakambangan. Ia memastikan pergantian pimpinan tidak akan memutus program yang telah berjalan, melainkan menjadi pijakan untuk memperluas dan meningkatkan kualitas pembinaan.

 

Salah satu agenda yang akan diperkuat adalah dukungan terhadap program nasional ketahanan pangan. Meski Bapas tidak memiliki narapidana pekerja sebagaimana lembaga pemasyarakatan, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang untuk mengembangkan kegiatan produktif.

 

“Kami akan terus mendukung program nasional terkait ketahanan pangan sesuai instruksi Presiden dan Menteri. Meskipun di Bapas tidak ada narapidana pekerja, kami mengoptimalkan program seperti penanaman melon, budidaya ikan sistem bioflok, serta memanfaatkan lahan non-produktif untuk tanaman pangan lainnya seperti cabai,” jelas Unggul.

 

Bagi Unggul, program ketahanan pangan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Kegiatan produktif diarahkan menjadi laboratorium keterampilan bagi klien pemasyarakatan, sehingga proses pembimbingan tidak hanya berbicara tentang kepatuhan terhadap hukum, tetapi juga kesiapan menghadapi kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.

 

Di titik inilah pergantian kepemimpinan Bapas Purwokerto memperoleh makna substantif. Sertijab bukan sekadar perpindahan jabatan dari satu pejabat kepada pejabat berikutnya, melainkan momentum kesinambungan kebijakan: menjaga program yang telah terbukti, memperbaiki yang masih lemah, dan menciptakan inovasi baru yang lebih relevan dengan kebutuhan klien.

 

Dengan penguatan kemitraan bersama masyarakat dan berbagai instansi, Bapas Purwokerto diarahkan untuk semakin memperluas ekosistem pembinaan. Tujuannya jelas: membekali klien dengan keterampilan, membuka peluang produktif, dan memastikan reintegrasi sosial tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi proses nyata yang memberi manfaat bagi individu sekaligus masyarakat.

 

(Widhiantoro)

No More Posts Available.

No more pages to load.