NASIONALNEWS.id,BANYUMAS-Sejumlah pemilik lahan, di antaranya, Joko, Parto, Mukro, dan Dul, menyatakan bahwa lahan milik mereka kini jauh lebih siap tanam setelah dikelola. Melalui perjanjian sejak 2021, PT DBA mengambil batu-batu granit besar yang menghambat pertanian untuk diolah menjadi material konstruksi.
“Lahan kami ini tanah pribadi, bukan milik negara. Kami ingin segera tanam palawija karena hasilnya lebih cepat dan nyata manfaatnya dibanding tanaman kayu,” ujar Suyatno tegas. Ia menambahkan bahwa setelah reklamasi, saya melihat lahan saudara-saudara kami kini lebih rata dan subur dibandingkan kondisi sebelumnya yang dipenuhi batuan besar. Kamis (1/01/2026)
Senada dengan Suyatno, Parto mengungkapkan bahwa proses ini memberikan keuntungan ekonomi ganda.
“Kami dapat persentase dari penjualan batunya, dan lahan kami jadi rata tanpa kami keluar biaya sendiri. Manfaatnya buat kami sangat besar,” kata Parto.
Ia juga menepis isu miring yang menyebut aktivitas tersebut merusak alam. “Apa yang dikatakan merusak alam itu tidak benar. Ini jauh dari fakta yang digembar-gemborkan. Lahan kami justru jadi lebih maksimal untuk pertanian sekarang,” imbuhnya.
Solusi Krisis Air Bersih Selama 8 Tahun
Selain manfaat lahan, warga Karang Pelem juga merayakan terwujudnya bak penampung dan penyaring air bersih yang dikelola oleh BP-SPAM Batur Makmur. Bak yang dibangun di atas lahan hibah dari PT DBA dan Pak Priyo ini menjadi jawaban atas penantian warga selama 8 tahun yang kesulitan mengakses air jernih.
“Alhamdulillah, dulu kami bergantung pada pamsimas milik saudara yang terdekat ketika air dari gunung Dinar keruh. Sekarang dengan adanya bak penampung dan penyaring ini, kedepan kami tenang,” ungkap Warkim, salah satu warga terdampak.
Novi, perwakilan PT DBA, menjelaskan bahwa pembangunan bak berukuran 3X 2 meter ini merupakan komitmen penuh perusahaan untuk kebutuhan warga RW 4 Desa Baseh. Seluruh biaya tambahan akibat penyesuaian ukuran bak ditanggung sepenuhnya oleh pihak perusahaan.
Jeritan Pekerja dan Harapan Pembukaan Kembali
Namun, di balik keberhasilan reklamasi dan penyediaan air, terdapat mendung ekonomi bagi para pekerja tambang manual. Penutupan sementara operasional PT DBA membuat banyak warga kehilangan penghasilan utama.
“Kami sangat terpojok. Tanpa penghasilan, sulit membiayai keluarga, terutama untuk anak sekolah. Kami hanya bisa pecah batu,” keluh salah satu pekerja manual.
Para pemilik lahan dan pekerja berharap pemerintah bersikap objektif melihat fakta di lapangan. Bagi mereka, kolaborasi dengan perusahaan bukan sekadar aktivitas tambang, melainkan upaya normalisasi lahan agar bisa digunakan untuk bercocok tanam demi kelangsungan hidup jangka panjang.
Penulis: IMAM S






