NASIONALNEWS.ID TANGERANG – Masalah perundungan (bullying) masih menjadi isu serius di banyak sekolah di Indonesia. Menyadari pentingnya pencegahan sejak dini dan perlunya bekal hukum serta keterampilan manajemen konflik untuk Siswa, maka tim dosen dari Program Studi Manajemen, Fakultas Teknik, Bisnis, dan Humaniora, Yarsi Pratama University, mengadakan penyuluhan yang bertema “Peningkatan Pemahaman Hukum Anti-Bullying dan Keterampilan Manajemen Konflik Sosial” yang diikuti138 siswa kelas XII di SMKN 1 Curug, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/12/2024).
Penyuluhan dilakukan Ikhsan Nurahman, S.E., M.M., bersama rekannya Imam Solihin, S.E., M.M., serta beberapa mahasiswa yang ikut mendampingi kegiatan tersebut.
Ikhsan mengatakan, bahwa penyuluhan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Perlunya bekal hukum dan keterampilan manajemen konflik untuk Siswa.
“Kami ingin membekali para siswa bukan hanya dengan pemahaman tentang apa itu bullying, tetapi juga keterampilan untuk mencegah dan mengatasinya. Penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa tindakan bullying memiliki konsekuensi hukum, dan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan secara damai,” jelas Ikhsan.
Pre-test dan Post-test: Ukur Tingkat Pemahaman
Kegiatan penyuluhan dimulai dengan pemberian pre-test yang mengukur pemahaman awal siswa mengenai definisi, jenis, dan dampak bullying. Hasil awal menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa mengetahui istilah bullying, masih banyak yang belum memahami bentuk-bentuknya secara detail, apalagi konsekuensi hukum yang dapat ditimbulkan.
Materi penyuluhan disampaikan secara interaktif menggunakan presentasi PowerPoint. Peserta diajak mengenal berbagai istilah bullying, mulai dari verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying. Selain itu, siswa juga diperkenalkan pada pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tindak pidana terkait bullying di lingkungan sekolah.
“Banyak siswa yang baru tahu bahwa perundungan bisa dipidana dan bisa berdampak pada masa depan mereka. Edukasi hukum seperti ini penting agar mereka lebih berhati-hati dalam berinteraksi,” jelas Imam Solihin.
Diskusi Interaktif dan Tips Manajemen Konflik
Setelah pemaparan materi selama sekitar 30 menit, sesi dilanjutkan dengan diskusi dan tanya-jawab. Siswa terlihat antusias, banyak yang bertanya mengenai contoh kasus bullying yang pernah mereka lihat di sekolah. Konselor memberikan tanggapan sekaligus tips praktis, seperti cara berkomunikasi asertif, teknik menenangkan diri saat menghadapi konflik, serta strategi menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Kegiatan diakhiri dengan post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Jika sebelumnya hanya sebagian siswa yang memahami dampak hukum dan cara penyelesaian konflik, kini hampir seluruhnya merasa lebih siap menghadapi permasalahan bullying.
Dampak Positif dan Harapan ke Depan
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan ini dan berharap dapat terus berlanjut. Guru BK SMKN 1 Curug menyampaikan apresiasinya.
“Kegiatan ini sangat membantu kami dalam membangun budaya sekolah yang sehat. Siswa jadi lebih sadar bahwa bullying bukan hanya soal bercanda berlebihan, tetapi bisa merugikan orang lain dan berkonsekuensi hukum,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini diharapkan dapat mengurangi angka perundungan di sekolah-sekolah. Yarsi Pratama University berkomitmen untuk terus melaksanakan program serupa di sekolah-sekolah lain di wilayah Tangerang agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. (red)










