Hardi Presiden Pelukis Penyampai Kebenaran

oleh -
img 20240104 wa0195
Narasumber diskusi kebudayaan di TIM ; Fanny J Poyk, Aidil Usman, Yusuf Susilo Hartono,Bambang Arsini Widjanarko, dan Moderator Amien Kamil

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Sudah satu pekan lebih pelukis Hardi tiada. Ia sudah meninggalkan dunia ini pada tanggal 28 Desember 2023 lalu di Jakarta. Tepatnya dari kediamannya di Komplek DKI Joglo Jakarta Barat. Namun, jejak rekam aktifitas dan kemahirannya dalam mengolah karya seni lukis membuat banyak orang tak lekas mudah melupakan sepak terjangnya. Apalagi dengan sederet pemikiran, karya dan kreatifitas dirinya dalam memadukan element gambar dan ide-ide pemikiran cemerlangnya menjadi sebuah ornamen yang bernilai artistik, humanis bahkan sarkastik (kritik). Bahkan giat aktifitas diluar melukisnya pun menjadi point lebih dimata banyak penyuka hasil karya dan pemikirannya itu.

img 20240104 192528
Deddy, salah seorang kolektor lukisan penyuka karya dari pelukis Hardi

Seorang kolektor lukisan Hardi bernama Dedy menyebut bahwa dirinya tertarik untuk mengoleksi karya Hardi lantaran nama besar sang pelukis. Waktu itu Dedy mengetahui karya Hardi lewat keterkenalan nama sang pelukis sebagai ‘pendobrak’ gerakan baru.

“Yang pertama nama dan karyanya yang sudah branding dan punya value (nilai),” aku Dedy saat ditemui NasionalNews.id perihal ketertarikan dirinya membeli lukisan.

Meski enggan menyebut jumlah koleksi dan nominal harga lukisan yang sudah dibelinya tersebut namun, pria asal Pondok Gede Jaktim ini juga memiliki alasan lain soal kesukaannya pada karya pelukis beraliran ekspresionis tersebut.

“Saya juga tertarik memiliki lukisan dia (Hardi) karena saya menilai Hardi ini sebagai ‘pendobrak’ maka, ketertarikan saya pada lukisan Hardi adalah yg memiliki jiwa pendobrak juga,” imbuhnya. Ketertarikan pada tema pendobrak yang Dedy maksudkan bisa didapatkannya pada lukisan Hardi tentang demonstrasi.

Dengan latar belakang sebagai pelukis dan penulis jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tentu tak mengherankan kalau karya Hardi banyak diminati kolektor lukisan. Selain itu Hardi juga aktif di Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Jadi wajar saja dalam adrenalin Hardi tumbuh beragam kemampuan berekspresi dan pergolakan jiwa pada seni lukis dan aktifitasnya.

img 20240104 192547
Narasumber Yusuf Susilo Hartono, “Hardi pandai mencari jaringan (link) dalam memasarkan karya-karyanya”

Selain Dedy dan beberapa orang kolektor lukisan, acara diskusi bertema Hardi, presiden pelukis penyampai kebenaran yang diadakan pada Rabu (3/1/2024) di Taman Ismail Marzuki (TIM) itu menghadirkan banyak narasumber. Sebut saja Aidil Usman dari komite senirupa DKI selaku pembicara pertama, Bambang Asrini Widjanarko mewakili Kurator senirupa, Fanny Jonathans Poyk (Novelis) serta Yusuf Susilo Hartono sebagai kritikus seni. Namun Yusuf mengaku tak mau disebut kritikus seni. Ia yang sudah kenal dengan Hardi sejak tahun 1980-an hanya ingin dianggap sebagai orang yang pernah dekat dengan sang pendobrak saja dan tak ingin mengkritisi karya dari Hardi.

Saat memberikan pandangannya terhadap pelukis yang memiliki nama asli R. Soehardi itu, Yusuf membeberkan kedekatannya dengan Hardi dalam 4 bagian. Pertama tentang pertemuan pertamanya dengan Hardi pada tahun 1980 di TIM dan Balai Budaya. Lalu mengamati Hardi saat Reformasi, mencermati situasi pasar seni lukis era seni rupa kontemporer berbasis galeri serta soal Hardi dalam berkebangsaan. Disitu terlihat sekali kedekatan Yusuf dan Hardi yang saling teposeliro soal pergaulan dan persahabatan.

img 20240104 192712
Foto para pembicara dan kolektor lukisan dari Diskusi Kebudayaan; Hardi, presiden pelukis penyampai kebenaran

Dalam penuturannya, Yusuf juga menyebut tentang bagaimana Hardi bergerak independent mencari dan menemukan para penikmat hasil karyanya. Yusuf juga menyebut beragam usaha dilakukan Hardi di era seni rupa kontemporer berbasis galeri itu.
Kata Yusuf, “Hardi pandai mencari jaringan (link) dan punya hubungan baik juga dengan penguasa,”
Dengan begitu Hardi selalu berusaha menciptakan ‘pasar’ dari buah karyanya tersebut. “Itu merupakan bagian dari marketingnya untuk survival (bertahan hidup),” jelasnya.

Lain halnya dengan apa yang diungkap Aidil Usman dalam menyampaikan pandangannya tentang Hardi. Selaku Komite Seni Rupa Jakarta, Aidil menilai Hardi bukan hanya mahir melukis saja namun Hardi merupakan pembicara ulung saat diundang berdialog dan berdiskusi.

“Dalam forum diskusi, bila dia berbicara, akan membuat orang lain bergetar. Karena dia memang berani dan pandai berbicara,” ungkap Aidil.

Menurut Aidil, kehadiran Hardi bukan saja mampu melahirkan sebuah bentuk lukisan atau giat saja namun, apa yang dihasilkan Hardi sebagai seorang seniman tentunya perlu juga memiliki dampak sosial. Disini Aidil menyebut bahwa Hardi layaknya model pelukis yang kritis terhadap ketidakadilan.

img 20240104 192614
Amien Kamil, Moderator acara Diskusi Kebudayaan; Hardi, presiden pelukis penyampai kebenaran

Acara yang dipandu moderator Amien Kamil ini didukung juga oleh Arif dari Teater Kecil dan Iwan dari Sudin Kebudayaan DKI.

“Pada intinya saya membuat diskusi kebudayaan ini karena atmosfir realitas sosial politik yg terjadi di negeri ini, yang buat saya sangat memperhatikan,” ujar Amien.

“Kita mencoba untuk melihat sisi lain dari Hardi. Selain pelukis, Hardi juga cukup peduli pada lingkungan. Sisi-sisi Kreatifitasnya juga menyoroti pada soal sosial politik,” kata Amien tentang diangkatnya tema yang ada.

img 20240104 192635
Novelis Fanny Jonathans Poyk; “Diperlukan juga Seniman Frontal yang Tegas dan Tak Munafik pada Kata”

Sementara itu Novelis Fanny J. Poyk melihat bahwa sosok orang seperti Hardi memang harus ada. Terlepas dari kepandaian dirinya dalam membuat karya lukis sehingga bisa menjual lukisan-lukisannya dengan harga mahal. Menurut Fanny, sosok Hardi ternyata orang yang prinsipil. Fany menceritakan pro dan kontra atas karakter diri hardi yang diketahuinya pada masa itu.

“Saya kenal, ya Hardi itu yang frontal dan kalau kritik orang itu to the point. Dan itu yang buat saya tertarik dengan Hardi yang jujur,” ungkap Fanny. Karena menurut Fanny, pada saat itu banyak orang yang sering memanipulasi kata dalam pergaulan untuk menjaga rasa tapi, kalau Hardi, “Ucapan dan tindakannya itu banyak disalah artikan orang dan kadang Hardi dianggap jahat,” ungkap Fanny lagi.

“Memang kita harus ada orang seperti itu, tegas dan tidak munafik,” kata pelaku sastra dan penulis beragam novel ini atas kekagumannya pada sosok Hardi.

Fanny kenal Hardi sejak usianya 6 tahunan, saat dimana Hardi sering menemui sastrawan Gerson Poyk, ayah Fanny dan ibu Fanny yang juga seorang pelukis di Sanur, Bali.

Soal lukisan Hardi, Fanny mengaku banyak tahu tetapi tidak menganggapnya sebagai sesuatu hal yang spesial. Fanny lebih menyukai lukisan bergaya Realis seperti milik Basuki Abdulah, Sujoyono, dan lain lain yang menurutnya suka akan keindahan. Sementara Hardi lebih kepada aliran yang berbeda.

“Tak mudah dan perlu pemahaman yang kuat untuk bisa tahu maksud dari arti sebuah karya pelukis beraliran ekspresionisme seperti karya Hardi ini,” jelas Fanny.

——————————————————————— Amex

No More Posts Available.

No more pages to load.