POLRI Lakukan Inovasi Strategi Rekrutmen Intercultural in Human Resources

oleh -
Img 20210128 175925

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA -Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) senantiasa membuka kesempatan yang merata bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk menjadi anggota Polri. Melalui kesatuan kerja Staf Sumber Daya Manusia (SSDM), Polri terus melakukan inovasi strategi rekrutmen agar dapat memilih dan melatih calon terbaik untuk mendapatkan anggota Polri yang ideal baik dari jalur affirmative action, talent scouting, maupun penghargaan.

Rekrutmen Polri ini dilakukan di seluruh daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Akan tetapi, penempatan anggota Polri tidak selalu sesuai dengan asal daerahnya masing-masing, tergantung kebutuhan dari instansi Polri itu sendiri.

Salah satu anggota Polri yang menjadi perhatian khusus adalah anggota yang berasal dari daerah Papua. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 11.984 anggota Polri berasal dari Papua terdampak dari program afirmasi untuk pemuda-pemudi yang tinggal di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal) yang ada di Indonesia.

Anggota Polri asal Papua tersebut tidak selalu ditempatkan di daerahnya sendiri. Bagi anggota yang tinggal dan bekerja di kota lain seringkali harus menghadapi perbedaan-perbedaan budaya yang menuntutnya untuk berubah sehingga kerap kali menimbulkan stress bagi mereka.

Perbedaan yang dihadapi mulai dari bahasa, gaya hidup, dan nilai moral. Disisi lain, setiap anggota Polri dituntut untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat dimanapun ia ditempatkan, khususnya di Pulau Jawa sebagai tempat yang etnis warganya cenderung heterogen.

Sesuai dengan tugas pokok Polisi yang tercantum di dalam pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, diharapkan setiap anggota dapat bekerja secara optimal tanpa adanya hambatan yang disebabkan oleh perbedaan budaya di lingkungan sosialnya.

Bintara remaja asal Papua yang terpilih penempatan di pulau Jawa atau Daerah Ibukota Jakarta diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Namun perbedaan bahasa, nilai, dan kebiasaan dapat menjadi hambatan utama dan membutuhkan proses adaptasi dengan lingkungan barunya.

Berbagai kendala yang dihadapi oleh anggota yang di tugaskan di pulau Jawa tersebut seperti dalam memahami bahasa, beradaptasi dengan makanan, perbedaan budaya dengan daerah asal, serta atmosfer akademik yang berbeda. Beberapa diantaranya ada yang mengalami kesulitan saat mengikuti kegiatan luar di masyarakat dikarenakan tidak dapat bergaul dengan teman sebayanya dan masyarakat sekitarnya.

Interaksi merupakan langkah awal dalam proses beradaptasi di lingkungan sosial. Diharapkan bintara remaja mampu berinteraksi dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Dalam proses interaksi diharapkan mempunyai makna bagi bintara remaja terhadap dirinya sendiri dan untuk diarahkan pada orang lain. Ia mampu menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya melalui simbol-simbol yang muncul. Diharapkan setelah melewati masa adaptasi, mereka sudah memiliki kompetensi dalam berkomunikasi dalam bertugas.

Selama proses adaptasi ini, anggota tersebut dapat membangun sikap, pengetahuan dan keterampilannya berkomunikasi. Dengan mengetahui realitas interaksi dan kompetensi komunikasinya, diharapkan dapat membantu untuk mengetahui kekurangan dan hambatan mereka dalam bertugas. Selain itu dapat memberikan masukan dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang multicultural pada Polri.

Lebih jauh, rasa ingin tahu menjadi dasar untuk cara-cara yang lebih kreatif untuk mengubah perbedaan menjadi peluang sementara keterbukaan memungkinkan seseorang dapat melihat lebih dari satu perspektif, yang sangat berharga saat menegosiasikan dan menengahi perbedaan budaya serta proses perkembangan menjadi penting melalui refleksi diri dan perhatian penuh. Pengetahuan saja, seperti belajar bahasa, tidak cukup untuk kompetensi antar budaya tetapi harus dikombinasikan dengan elemen lain seperti sikap keterbukaan, rasa ingin tahu, dan rasa hormat yang diperlukan.

Menurut survey ECA Internasional pada tahun 2017 diperoleh hasil bahwa aspek budaya menjadi salah satu penyebab utama kegagalan beradaptasi dengan kehidupan penugasan asing, namun hanya 18% organisasi yang memberikan intercultural training. Dalam konteks organisasi ditujukan untuk orang-orang yang berhubungan dengan budaya lain, misalnya anggota tim multikultural, atau ekspatriat yang akan bekerja ke negara lain. Apalagi intercultural training dianggap sebagai cara paling efektif untuk menyebarkan pengetahuan budaya dan mengembangkan kepekaan di organisasi multinasional.

Apabila dikaitkan dengan tugas anggota Polri yang dapat ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Indonesia tanpa melihat budaya yang dimiliki individu dan budaya tempat bertugas, maka pelatihan ini dapat diberikan kepada anggota agar lebih mudah dan efektif saat beradaptasi di tempat tugas.

Personel Polri sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia (SDM) Polri saat ini tersebar di seluruh pelosok tanah air. SDM ini tentunya perlu dikelola secara strategis dan profesional sejalan dengan salah satu sasaran program penting Polri membangun manusia unggul di lingkungan kepolisian.

Polri terus melakukan inovasi strategi rekrutmen untuk mendapatkan anggota Polri yang ideal melalui berbagai jalur rekrutmen. Setiap anggota Polri diharapkan memiliki kemampuan adaptasi yang baik dimanapun tempat mereka berdinas, karena penempatan anggota Polri tidak selalu sesuai dengan asal daerahnya masing-masing, tergantung kebutuhan dari instansi Polri itu sendiri.

Bagi anggota ditugaskan di kota yang bukan asalnya seringkali harus menghadapi perbedaan- budaya sehingga kerap kali menimbulkan stres bagi mereka yang disebut dengan culture shock. Perbedaan yang dihadapi mulai dari bahasa, gaya hidup, dan nilai moral.

Sesuai dengan tugas pokok polisi diharapkan setiap anggota diharapkan memiliki kompetensi antar budaya agar dapat bekerja secara optimal tanpa adanya hambatan yang disebabkan oleh perbedaan budaya di lingkungan sosial tempat mereka ditugaskan.

Dinamika kompetensi antarbudaya yang diharapkan dari anggota Polri yang berasal dari Papua ini dapat dilihat dari Model of Intercultural Competence yang dicetuskan oleh Deardorff (2006). Melalui model ini, maka direkomendasikan program Cross-Cultural Training (CCT).

CCT umumnya didefinisikan sebagai intervensi yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi seseorang untuk membantu mereka beroperasi secara efektif dalam lingkungan yang tidak dikenal (Harris & Brewster, 1999).

Dua metode dalam program CCT yang dianggap paling sesuai untuk diaplikasikan adalah interaction training dan cultural awareness. Program CCT ini bermaksud untuk membentuk sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan agar dirinya mampu beradapatasi di lingkungan baru atau budaya baru.

Secara internal, anggota secara ideal diharapkan dapat melihat perspektif orang lain dan menanggapi orang lain sesuai dengan cara yang dinginkan oleh orang tersebut, sehingga muncul rasa empati. Secara eksternal, seorang anggota idealnya dapat bersikap dan berkomunikasi secara efektif untuk menjalin interaksi yang baik.

No More Posts Available.

No more pages to load.