Guru RA Kaltim Perkuat Pembelajaran Berbasis Cinta

oleh -
img 20261109 wa0000

NASIONALNEWS.ID, SAMARINDA – Guru Raudhatul Athfal (RA) di Kalimantan Timur didorong menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membuat anak pintar, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian, dan akhlak mulia.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Peningkatan Kompetensi Guru melalui Pembelajaran Mendalam Berbasis Cinta yang digelar Kelompok Kerja Guru Raudhatul Athfal (KKG RA) Kalimantan Timur di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, Selasa (3/11/2026).

Workshop ini menjadi ruang bagi para guru untuk memperkuat kemampuan merancang pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini di era pendidikan abad ke-21.

Kegiatan dibuka Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Dr. H. Abdul Khaliq, M.Pd. Ia mengapresiasi langkah KKG RA yang terus mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru.

Menurutnya, dunia pendidikan terus berkembang sehingga guru harus mampu beradaptasi, berinovasi, dan menghadirkan metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Workshop menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Kaltim H. Sabransyah, S.IP., S.HI., akademisi UINSI Dr. Hj. Ity Rukuyah, M.Si., Setiawati, serta Master Trainer BNSP dari Yogyakarta, Saiful Haq atau yang akrab disapa Kak Sha.

Ketua KKG RA Kalimantan Timur, Masyitah, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen para guru RA untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.

“Kegiatan seperti ini menunjukkan komitmen RA untuk terus bergerak maju dan responsif terhadap tantangan pendidikan masa kini. Guru harus terus belajar, berinovasi, dan meningkatkan kualitas pembelajaran agar mampu memberikan pengalaman terbaik bagi anak-anak,” ungkapnya.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah pemaparan materi Pembelajaran Mendalam Berbasis Panca Cinta oleh Saiful Haq, M.Pd., CH., CHt., C.NLP., CT.GP., C.MMH., yang akrab disapa Kak Sha, penulis buku Deep Learning sekaligus Master Trainer BNSP.

Dengan pendekatan interaktif, Kak Sha mengajak para guru memahami bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar menyampaikan materi kepada anak. Lebih dari itu, guru harus mampu membangun kesadaran, kepedulian, kecintaan, dan pengalaman belajar yang membekas.

Ia kemudian mengupas konsep Panca Cinta sebagai jiwa madrasah yang perlu ditanamkan sejak usia dini.

Lima pilar tersebut meliputi cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta alam dan lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.

Melalui lima nilai tersebut, anak-anak diharapkan tumbuh dengan keimanan, rasa ingin tahu, kepedulian terhadap lingkungan, empati kepada sesama, serta semangat kebangsaan.

Tidak hanya menerima materi teori, peserta juga diajak mempraktikkan penyusunan tiga alternatif Tujuan Pembelajaran (TP) berbasis Taksonomi Bloom.

Para guru juga mendapatkan pendampingan dalam menyusun Rencana Pembelajaran atau Modul Ajar yang sesuai dengan prinsip pembelajaran mendalam.

Melalui praktik dan diskusi, guru didorong mengubah pola pembelajaran yang hanya berorientasi pada penyampaian materi menjadi pengalaman belajar yang sadar, bermakna, menggembirakan, dan berpusat pada anak.

Workshop Jadi Awal Perubahan

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Kalimantan Timur, H. Sabransyah, menegaskan workshop tersebut bukan akhir dari proses peningkatan kompetensi guru.

Sebaliknya, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membuka wawasan dan memperluas cara pandang para pendidik RA melalui kolaborasi dengan narasumber yang kompeten.

Ia berharap para guru semakin percaya diri mengembangkan pembelajaran sehingga lembaga pendidikan RA mampu terus tumbuh, berinovasi, dan memiliki daya saing dengan lembaga pendidikan lainnya.

Workshop tersebut juga dihadiri Ketua PW Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kalimantan Timur, Musyarofah, serta peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Menutup kegiatan Kak Sha mengingatkan, perubahan pendidikan harus dimulai dari perubahan pola pikir dan praktik para pendidiknya.

“Workshop ini bukan sekadar pelatihan, tetapi merupakan tonggak awal dalam menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, humanis, dan menyenangkan bagi anak-anak di era Alpha. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menghadirkan cinta, menginspirasi, dan menumbuhkan potensi terbaik setiap anak,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, KKG RA Kalimantan Timur diharapkan semakin kuat menjadi wadah kolaborasi, berbagi pengalaman, dan pengembangan profesionalisme guru.

Sebab, pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membangun pribadi yang berkarakter, berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan tumbuh dengan cinta. (Sha/*)

No More Posts Available.

No more pages to load.