NASIONALNEWS.ID, LAMONGAN – Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI)–PGRI Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, sukses menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru melalui Workshop Pembelajaran Menyenangkan bagi guru TK, berlangsung di Laboratorium SMA Mazra’atul Ulum, Lamongan, pada Selasa, (13/1/2026).
Workshop ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat kapasitas guru TK agar mampu merancang pembelajaran abad ke-21 yang lebih bermakna, kontekstual, dan mendalam, sejalan dengan kebutuhan peserta didik di era transformasi pendidikan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Chafid Farqun, S.Pd., M.Pd., selaku Koordinator Wilayah Kecamatan Paciran. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif para guru yang dinilai progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kegiatan seperti ini menunjukkan komitmen guru TK untuk terus bergerak maju dan responsif terhadap tantangan pendidikan masa kini. Guru perlu memiliki Pola Pikir Bertumbuh agar senantiasa belajar dan beradaptasi,” ujarnya.
Sementara itu, Faizah, selaku Ketua Panitia sekaligus Ketua IGTKI–PGRI Paciran, menyampaikan, bahwa workshop ini diikuti oleh lebih dari 102 peserta dengan pendanaan swadaya mandiri. Para peserta tampak antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian sesi yang dikemas secara interaktif, menyenangkan, dan aplikatif.
Sesi utama Pembelajaran Menyenangkan menghadirkan narasumber inovatif dari Yogyakarta, Kak Sha (Saiful Haq, M.Pd., CH., CHt., C.NLP., CT.GP., C.MMH.), seorang Master Trainer BNSP, penulis buku Pembelajaran Menyenangkan, Coding, serta berbagai buku praktis pendidikan lainnya. Kak Sha juga dikenal sebagai peraih penghargaan Kepala Sekolah Berprestasi dan Guru Kreatif.
Didampingi fasilitator energik Kak Je, kegiatan berlangsung interaktif melalui diskusi, praktik langsung, dan fun game inovatif. Dalam suasana penuh semangat dan mengasyikkan, Kak Sha membekali peserta dengan lima jurus praktis dan aplikatif, meliputi:
1. Konsep Pembelajaran Menyenangkan
2. Strategi Mengelola Kelas dan Metode Pembelajaran Menyenangkan
3. Strategi Komunikasi dan Pengenalan Gaya Belajar
4. Media Kreatif dalam Pembelajaran Inklusif
5. Membangun Budaya Kelas yang Positif dan Inklusif
“Workshop ini bukan sekadar teori, tetapi langkah nyata untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan bagi Generasi Alpha. Guru diajak berlatih komunikasi, fun game, dan strategi pembelajaran yang mampu mengasah kreativitas, logika, serta kemampuan problem solving anak,” ujar Kak Sha.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir guru-guru berorientasi HOTS yang mampu menyalakan cahaya masa depan pendidikan, serta menjadikan teknologi sebagai mitra dan sahabat dalam mendidik, bukan sekadar alat.
(Sha)






