NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO-Dinamika pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni SMA Negeri 1 (Ikasmansa) Purwokerto kian menghangat menjelang pelaksanaan Rembug Ageng (RA) ke-2 yang dijadwalkan berlangsung pada 16 Mei 2026. Sejumlah angkatan mulai mendaftarkan delegasi, sementara bursa calon ketua umum disebut semakin mengerucut, menandai meningkatnya antusiasme lintas generasi.
Di tengah menguatnya konsolidasi alumni, Djoko Susanto, alumni SMAN 1 Purwokerto angkatan 1991, turut menyampaikan gagasan dan harapannya terhadap sosok ketua umum yang akan datang. Ia menilai, pemimpin Ikasmansa ke depan harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang sejalan dengan simbol “Ganesha” yang selama ini lekat dengan identitas sekolah.
Menurut Djoko, Ganesha yang dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, sekaligus penghalau rintangan, menyimpan makna filosofis yang relevan untuk diterjemahkan dalam kepemimpinan organisasi alumni. Ia menyebut simbol kepala gajah, telinga lebar, mata kecil, belalai panjang, hingga tangan banyak menggambarkan karakter pemimpin yang mendengar luas, bertindak bijak, serta mampu menjangkau persoalan alumni secara nyata.
“Ketua alumni ke depan harus menjadi pengayom, pelindung, dan pelayan bagi seluruh alumni lintas angkatan tanpa membedakan suku, ras, dan agama,” kata Djoko.
Ia juga menyoroti kondisi sosial ekonomi alumni yang menurutnya belum sepenuhnya merata. Djoko menyampaikan masih ada alumni yang belum mandiri secara finansial, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi alasan mengapa organisasi alumni seharusnya hadir sebagai wadah solidaritas dan kebermanfaatan, bukan sekadar ruang seremoni.
Djoko kemudian mengusulkan sejumlah kriteria bagi calon Ketua Umum Ikasmansa. Di antaranya berdomisili tidak jauh dari Purwokerto, bukan pejabat publik yang masih aktif, tidak menjadi pengurus maupun simpatisan partai politik, serta memiliki kesiapan melayani kebutuhan alumni kapan pun diperlukan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya ketua yang mampu menyatukan semua golongan serta tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kegiatan alumni. Ia menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga marwah organisasi agar tidak berubah menjadi ajang pamer kekuasaan, harta, maupun nepotisme.
“Organisasi alumni bukan kendaraan politik menuju jabatan tertentu. Ikasmansa harus menjadi wadah yang memberi kenyamanan bagi alumni sampai akhir hayat,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Djoko berharap Rembug Ageng II Ikasmansa dapat berjalan produktif dan menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan serta manfaat bagi alumni, baik di dunia maupun di akhirat.
(Widhiantoro)







