NASIOANLNEWS.id,BANYUMAS-Pesta budaya yang meriah kembali menggema di tanah Banyumas saat Pemerintah Kabupaten setempat menggelar kirab pusaka dalam rangka Hari Jadi ke-455. Prosesi sakral ini bukan hanya parade visual yang memukau, tapi juga simbol pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya leluhur yang tak ternilai. Dimulai dari Pendopo Wakil Bupati menuju Pendopo Si Panji, barisan kirab melibatkan empat pusaka kebesaran ikonik: Tombak Kiai Genjring, Keris Kiai Gajah Endro, Keris Kiai Nalapraja, dan Keris Kiai Sempana Bener. Setiap langkah mereka dibarengi doa dan hormat, seperti arwah para pendiri bangsa yang hidup kembali. Minggu (15/02/26)
Kirab ini dirancang untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini, di mana lambang daerah dikawal ketat oleh peserta yang dipimpin Suba Manggala—tahun ini digantikan oleh Camat Baturraden, Bangkit Angga Barokah. Di belakangnya, para pembawa pusaka berjalan serentak, membawa beban spiritual yang penuh makna. Tak ketinggalan, rombongan figur legendaris seperti Bupati Banyumas pertama, Raden Joko Kahiman beserta istri (diperankan Kakang Mbekayu Banyumas), serta joli foto berturut-turut dari Bupati kedua hingga ke-31, menambah nuansa nostalgia yang mendalam. Antrean panjang penonton di tepi jalan menunjukkan betapa kuat daya tarik budaya ini bagi masyarakat lokal.
Di tengah gemerlap acara, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan visinya yang visioner. “Usia 455 tahun adalah titik balik kita untuk bangkit bersama demi Banyumas PAS—Produktif, Adil, dan Sejahtera,” katanya dengan mata berbinar. Ia optimistis bahwa solidaritas rakyat yang guyub rukun akan menarik investor, sehingga pembangunan tak lagi statis tapi dinamis, berdampak langsung pada kesejahteraan semua. Lebih lanjut, kirab ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah daerah, mulai dari pusaka hingga silsilah kepemimpinan yang panjang.

Tidak hanya itu, antusiasme publik terlihat nyata. Salah satunya datang dari Titi, warga Kelurahan Teluk yang hadir bersama cucunya. “Ini bukan cuma tontonan, tapi pelajaran berharga tentang siapa kita,” ujarnya sambil tersenyum. Baginya, momen seperti ini memastikan warisan budaya tak pudar, melainkan terus dilestarikan untuk anak-anak yang lahir di era digital. Kirab pusaka Banyumas hari ini adalah bukti bahwa tradisi bisa menjadi roda penggerak modernitas, menjaga identitas daerah di tengah derasnya zaman.
Sumber: Humas/Pemda
Editor: IMAM S






