Museum Memorial Soeharto di Bantul Jadi Ikon Pendidikan Kebangsaan, Ribuan Siswa Kunjungi untuk Rayakan Hari Pahlawan

oleh -
patung soeharto yang dipajang dipelataran monumen jogja kembali
patung soeharto yang dipajang dipelataran monumen jogja kembali

NASIONALNEWS.id,BANTUL DIY–Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus menjadi pusat pendidikan karakter bangsa. Museum ini sering menggelar kegiatan “Sekolah Kebangsaan” yang dirancang untuk mengedukasi siswa tentang wawasan kebangsaan, cinta tanah air, karakter Pancasila, serta sejarah perjuangan bangsa dan perjalanan hidup Jenderal HM Soeharto. Program ini tidak hanya membangkitkan semangat nasionalisme, tapi juga memupuk rasa hormat dan terima kasih kepada para guru.

 

“Sekolah kebangsaan inilah ikonnya museum Pak Harto yang bertujuan membangkitkan kembali apa arti cinta tanah air yang hakiki itu,” ujar Gatot Nugroho, Kepala Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, saat ditemui NasionalNews.id di Kemusuk pada Selasa (18/11/2025).

 

Menurut Gatot, materi edukasi difokuskan pada sejarah bangsa dan sosok Soeharto sebagai Presiden Kedua Republik Indonesia. Kegiatan ini ideal untuk kunjungan sekolah dari jenjang SD hingga SMA, termasuk program khusus seperti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Gatot Nugroho berbagi cerita emosional tentang dampak kegiatan tersebut.

 

“Anda dapat bayangkan bagaimana hati kita akan teriris, tak terasa air mata mengalir manakala ratusan siswa menyanyikan lagu kebangsaan, membuat hati kita merinding,” katanya.

 

Museum ini menyimpan sekitar 450 koleksi berharga, termasuk di pendopo, rumah, dan masjid, dilengkapi ilustrasi grafis seperti foto-foto, pesan-pesan Soeharto, diorama, serta multimedia modern yang menggambarkan perjalanan hidupnya. Salah satu koleksi menarik adalah patung “Soeharto Ngguyang Kebo” yang mengisahkan masa kecilnya.Menyambut Hari Pahlawan sekaligus penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, museum ini ramai dikunjungi ratusan pelajar pada Senin (10/11/2025).

Gatot Nugroho menyebut lebih dari 600 siswa TK dan SD datang untuk belajar nilai-nilai kebangsaan dan mengenang jasa presiden kedua RI tersebut. Dalam sebulan terakhir, museum telah dikunjungi lebih dari 6.000 pengunjung, dengan puncaknya pada peringatan hari besar seperti Hari Kartini atau MPLS.Sebagai wujud syukur atas gelar Pahlawan Nasional untuk HM Soeharto, karyawan museum dan masyarakat Desa Kemusuk menggelar doa bersama serta kegiatan khusus di area museum.

potong tumpeng atas anugrah penghargaan pahlawan nasional untuk hm soeharto
Acara potong tumpeng, atas anugrah penghargaan gelar Pahlawan Nasional untuk H. M Soeharto.

 

Para ibu dari Grup Senam Happy Mom bahkan memotong nasi tumpeng dalam acara tersebut. “Gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Pak Harto itu merupakan anugrah yang pada hakikatnya hadiah untuk seluruh bangsa Indonesia,” pungkas Gatot.

 

 

Ungkapan syukur serupa juga terlihat di Monumen Jogja Kembali (Monjali). Selain doa bersama dan pameran patung serta lukisan, patung raksasa HM Soeharto setinggi lebih dari tujuh meter—dibuat oleh pematung Kusuma Yusman, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dihiasi kalung bunga.

Patung fiberglass ini berdiri bersama patung lima presiden RI lainnya di pelataran Monjali. “Hanya inilah yang dapat kami perbuat dengan mengalungkan bunga melingkar di leher patung Pak Harto,” kata Yudi Pranowo (66),

 

Kepala Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali), saat ditemui NasionalNews.id pada Sabtu (15/11/2025).Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 juga dirayakan dengan video mapping di dua lokasi: kawasan Taman Embung Giwangan dan area Monjali.

 

Tayangan ini menceritakan perjuangan bangsa Indonesia, dimulai dari Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, hingga peristiwa heroik Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Serangan militer TNI bersama masyarakat ini, yang dipimpin Letkol Suharto, berhasil merebut kembali ibu kota negara dari Belanda. Video mapping serupa juga digelar untuk memperingati Serangan Umum 1 Maret 2025, menekankan warisan sejarah yang abadi.

(Penulis: Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.