Nantikan Puisi Berfoto atau Foto Berpuisi dari Roy Genggam

oleh -
oplus 131072
Oplus_131072

NASIONALNEWS.id, JAKARTA — Roy Genggam Nusantoro, salah satu fotografer profesional andal, tengah mempersiapkan penerbitan tiga buah bukunya. Harapan terbesarnya, satu di antara ketiga buku tersebut, bisa terbit secepatnya. “Semoga akhir tahun ini, terutama yang materinya sudah terkumpul,” ungkap Roy, Senin (20/4) di studionya di kawasan Cirendeu, Jaksel.

Ketiga buku tersebut, tentang kehidupan gajah-gajah di Way Kambas, Lampung. Lalu, seri atau edisi kedua dari ‘Memotret Pemotret’. Ketiga, buku foto berpuisi, puisi berfoto.

“Buku tentang gajah-gajah Way Kambas sudah ada alternatif judulnya, yakni Gajah Seto. Saya sering berkunjung ke Way Kambas, nyupir sendiri ke sana, nginep di rumah penduduk,” papar Roy, alumni SMAN IX Bulungan tahun 1980.

Dari beberapa kali kunjungan ke Way Kambas itu, kata Roy, ada sekitar 5000 foto yang dihasilkan. Dari keseluruhan foto tersebut, Oscar Matuloh ‘menyuntingnya’ hingga sekitar 200 foto.

Kata Roy, sekadar membuat buku mungkin mudah. Tetapi, dia tak mau sekadarnya. “Bikin buku tetap harus pakai rasa. Oleh karena itu juga opsi judul buku berubah-ubah. Buku tentang gajah-gajah Way Kambas semula saya kasih judul Gajah Matahari Mahout. Mahout adalah sebutan pawang gajah di seluruh dunia,” jelas Roy.

Tentang buku foto berpuisi, atau puisi berfoto, isinya adalah rangkaian puisi dan foto. “Puisi dulu baru foto, atau sebaliknya, haha. Sekarang lagi rajin menulis puisi, apa pun yang tersirat langsung saya tulis di notes,” kata Roy.

Buku mana yang akan lebih dulu terbit? ‘Memotret Pemotret–Seniman Foto Indonesia’, ‘Gajah Seto’, atau ‘Foto Berpuisi, Puisi Berfoto’?

“Hahaha, belum tahu. Lihat mood-nya saja, yang jelas materinya sudah ada,” ujar alumni sinematografi IKJ 1983 itu.

Di samping menciptakan sejumlah karya fotografi fenomenal dan menjadi rujukan, Roy sudah melahirkan buku ‘Memotret Pemotret–Maestro Fotografi Indonesia’, tahun 2015. Buku ini berisi potret dari 23 fotografer dalam wujud hitam-putih, dari Don Hasman, Darwis Triadi hingga Yudhi Soejoatmodjo, Oscar Matuloh dan Arbain Rambey.

‘Memotret Pemotret–Maestro Fotogragi Indonesia’ sebagai bentuk apresiasinya kepada para pemotret senior. Sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran kepada para pemotret muda atau yunior. Buku yang penerbitannya didukung oleh Nixon Team ini menjadi spirit idealisme Roy, bukan pencarian profit.

“Semua diambil fotonya di sini,” kata Roy, menunjukkan Genggam Studio yang berukuran 8,5 x 15 meter, dengan tinggi studio sekitar tujuh meter.

“Mungkin pada awalnya ini salah satu studio fotografer profesional individu atau perorangan terbaik. Teman-teman fotografer lebih senang diambil fotonya di sini,” cerita Roy, fotografer majalah ASRI (1984-1986) dan majalah LARAS (1987-1988).

Pada 1989, Roy memutuskan menjadi freelance fotografer, dan pada 1990 mendirikan studio kecil Genggal Photography, cikal bakal dari Genggam Studio. Roy membesarkan Genggam Studio di atas lahan seluas 600 meter di kawasan Cirendeu, Jaksel. Genggam Studio bekerja sama dengan banyak biro advertising dan graphic design. Di antara klien tetapnya, Yamaha dan Ajinomoto.

Roy, kelahiran Bandung 3 November 1960, memiliki jiwa sosial tinggi. Roy anak pertama dari empat bersaudara. Di bawahnya persis, ada Gito Gilas Nusantoro, yang masih aktiv tampil di pentas sinetron Indonesia. Dua adiknya yang lain, Dini dan Wicky.

Roy masih kerap melayani permintaan sahabat-sahabat lamanya untuk berfoto di studionya. Pekan lalu, untuk kesekian kalinya dia memanjakan teman-teman sekelasnya di 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan tahun 1978. Sebelumnya juga teman-teman sekelasnya di 3 IPA 1 SMAN IX tahun 1979-1980.

Diakui Roy, dia banyak belajar dari ibunya, yakni Josephine Mononimbar Pua. Perempuan yang kini berusia 91 tahun itu adalah salah satu dari kru grupband perempuan pertama di Indonesia, Saptawati.
Roy pandai memikat hati klien dan para sahabatnya. Ayah dari tiga anak ini, yakni Nisa, Akbar dan Gaffar, senantiasa membuat semua klien dan sahabatnya senang selama berada di studionya. Nuansa persahabatan dan keramah-tamahan dari seluruh stafnya membuat Genggam Studio semakin populer.

“Mau dimasakin apa? Itu yang selalu saya tanyakan kepada klien dan sahabat yang datang,” kata Roy. Di antara tujuh stafnya ada tukang masak khusus.***

No More Posts Available.

No more pages to load.