NASIONALNEWS.id YOGYAKARTA — Perayaan malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa Be 1960 di Yogyakarta tahun ini akan menghadirkan suasana berbeda. Tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng yang rutin digelar setiap malam 1 Suro akan diawali dengan pementasan Wayang Kulit Gedhog, kesenian langka yang kini jarang dipentaskan di Yogyakarta.
Hampir di seluruh pelosok wilayah di Jogjakarta menyambut antusiasnya seperti yang diselenggarakan warga masyarakat yang mengakar sejak lama. Salah satu seperti yang digelar di Dusun Calukan dan Taraman Kalurahan Sinduharjo Kapanewon Ngaglik Sleman Yogyakarta. Senin (15/6/2026).
Kemeriahan malam 1 Suro yang merupakan gagasan cemerlang pemuda Dusun Calukan yang berhimpun dalam wadah Unit Karang Taruna MEXICANA itu sudah berlangsung selama kurun waktu beberapa tahun belakangan dan setiap tahun menggelar acara dengan nuansa berbeda yang tetap mempertahankan khasanah kekayaan budaya.
Peringatan yang digelar di lapangan terbuka yang ditata apik bernuansa Jawa itu semua tamu dan undangan mayoritas berpakaian khas (surjan dan blankon) termasuk penganan yang disuguhkan dan permainan tradisional Jawa diantaranya dakon, bas badan dan mainan jadul itu secara resmi dibuka Lurah Sinduharjo, Sudarja.
“Saya mengapresiasi ide cemerlang para disini yang memberikan nuansa khas budaya Jawa yang melibatkan kawula muda dan orang tua ini.Inierupakan wujud guyub rukun dan kebersamaan dengan harapan dapat ditiru warga dusun yang lain,” kata Sudarja dalam sambutan singkatnya. Sebelum puncak acara kirab dua gunungan besar yang diarak keliling dusun dan kampung diwilayah Kalurahan Sinduharjo Kapanewon Ngaglik Sleman Yogyakarta.
Tausyiah dan doa bersama yang disampaikan Kiai Mujiborrohman yang mengupas tentang makna yang terkandung dalam budaya dengan Agama Islam.
Pakaian surjan sarat akan filosofi Islam, yang digagas oleh Sunan Kalijaga. Secara bahasa, kata “surjan” berasal dari kata Arab siraajan (pelita/penerang), atau sang sunan yang bermakna pemisah antara kebaikan dan keburukan.
Tak banyak yang mengetahui bahwa surjan, baju khas Jawa, merupakan representasi dari baju Muslim sesungguhnya. Banyak yang menganggap surjan sekadar tradisi adat istiadat. Enam kancingnya melambangkan rukun iman yang enam, sedang dua kancing mengartikan dua kalimah syahadat, demikian isi tausyiahnya. (Ridar)









