Selat Malaka Jadi Andalan, Riau Pesisir Kembali Diperjuangkan

oleh -
img 20261010 105125

NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA — Potensi besar Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional dinilai bisa menjadi modal utama bagi pengembangan Provinsi Riau Pesisir. Namun, peluang ekonomi maritim tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Gagasan itu mengemuka dalam acara silaturahmi dan diskusi bertema “Memaknai Peradaban Bahari di Pesisir Riau” yang digelar tokoh masyarakat dan mahasiswa asal Provinsi Riau di Erdine Coffee Space, Yogyakarta, Jumat malam (9/10/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan Mahmuzin Taher, perantau asal Kepulauan Meranti yang dikenal sukses di perantauan sekaligus pemerhati ekonomi maritim, serta budayawan Riau, Norhamsyah Wahab.

Keduanya mengajak peserta melihat masa depan kawasan pesisir Riau dari berbagai sudut pandang, mulai dari potensi ekonomi maritim hingga pentingnya peran generasi muda dalam memperjuangkan pembangunan daerah.

Mahmuzin Taher menilai, posisi geografis kawasan pesisir Riau yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka merupakan modal strategis untuk mengembangkan ekonomi maritim.

Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungkan Samudra Hindia dengan kawasan Asia Timur. Posisi ini membuat kawasan pesisir Riau memiliki peluang besar untuk terhubung dengan jaringan perdagangan regional maupun global.

Menurut Mahmuzin, peluang tersebut seharusnya bisa memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat setempat.

“Coba lihat Segitiga Emas, itu adanya di Riau. Kita benar-benar berada di jantung pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara yang sampai saat ini belum kita nikmati,” ujarnya kepada NasionalNews.id sebelum diskusi berlangsung.

Ia menilai, aktivitas ekonomi di kawasan strategis tersebut selama ini belum sepenuhnya memberikan dampak yang diharapkan bagi masyarakat lokal. Di sisi lain, pelaku UMKM justru menghadapi berbagai tantangan untuk berkembang.

Mahmuzin berharap, potensi geografis kawasan pesisir Riau tidak hanya menjadi keuntungan bagi korporasi besar, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.

“Sampai saat ini kita belum menjemput peluang ini. Padahal, kita berada di garis pantai premium. Peluang itu nantinya akan kita jemput dengan terwujudnya Provinsi Riau Pesisir,” katanya.

Ia berharap provinsi baru tersebut kelak mampu mengembangkan potensi kelautan dan perdagangan, sekaligus memperkuat posisi masyarakat lokal dalam rantai ekonomi maritim.

Mahasiswa Riau di Yogyakarta Diajak Bergerak

Sementara itu, budayawan Riau, Norhamsyah Wahab, mengajak mahasiswa asal Riau yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta untuk ikut berperan aktif dalam memperjuangkan pembentukan Provinsi Riau Pesisir.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting dalam menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengawal gagasan pemekaran wilayah yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.

“Dari Kota Yogyakarta ini, saya minta perjuangan pembentukan Provinsi Riau Pesisir yang sudah berlangsung 12 tahun ini ikut kita perjuangkan,” kata Norhamsyah.

Ia juga menyebut dukungan dari sejumlah kepala daerah dan anggota legislatif terhadap gagasan pembentukan provinsi baru tersebut telah muncul.

Meski demikian, perjuangan pemekaran wilayah masih membutuhkan proses dan langkah konkret agar dapat diwujudkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Wacana pembentukan Provinsi Riau Pesisir melibatkan lima kabupaten dan satu kota di kawasan pesisir Riau.

Daerah yang masuk dalam gagasan pemekaran tersebut adalah Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pembentukan provinsi baru diharapkan dapat memperkuat pengelolaan potensi daerah, terutama sektor maritim, perdagangan, dan ekonomi pesisir.

Namun, rencana tersebut juga menghadapi tantangan, termasuk kondisi fiskal Provinsi Riau yang disebut masih mengalami defisit anggaran.

Karena itu, pembentukan daerah otonom baru tidak cukup hanya mengandalkan potensi geografis. Kesiapan fiskal, tata kelola pemerintahan, kemampuan pelayanan publik, serta manfaat nyata bagi masyarakat juga menjadi aspek penting yang perlu diperhitungkan.

Diskusi di Yogyakarta tersebut menjadi ruang bagi tokoh masyarakat, budayawan, dan mahasiswa asal Riau untuk bertukar gagasan mengenai masa depan daerah mereka.

Bagi Mahmuzin, Selat Malaka bukan sekadar jalur pelayaran internasional. Kawasan itu juga menyimpan peluang besar bagi masyarakat pesisir Riau untuk membangun ekonomi yang lebih kuat.

Tantangannya kini adalah bagaimana mengubah keunggulan geografis tersebut menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk jika gagasan pembentukan Provinsi Riau Pesisir kelak dapat diwujudkan. (Ridar)

No More Posts Available.

No more pages to load.