Pidato Kebudayaan: Merawat Kewarasan dan Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat Indonesia

oleh -
img 20240205 085354
Pidato Kebudayaan di BBJ Menteng menghadirkan narasumber Dr. Mohamad Sobary, Okky Madasari, Sujiwo Tejo dan penyair Amien Kamil.

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Bisa tampil beberapa kali dalam satu gelaran event tentu sangat menyenangkan. Apalagi di hadapan para senior dari kalangan sastrawan, budayawan, penyanyi dan awak media. Hal itu dialami penyair Amien Kamil saat didapuk untuk membaca puisi di acara Pidato Kebudayaan Bentara Budaya Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (2/2) lalu.

Acara yang menghadirkan tiga penutur kata dari lintas generasi seperti Dr. Mohamad Sobary, Sujiwo Tejo dan Sosiolog Okky Madasari ini juga dihadiri seniman Butet Kertaredjasa. Meski di luar gedung curah hujan terus mengiringi sedari sore namun acara berjalan cukup meriah.

“Acara ini sangat penting sebagai bekal arahan dan referensi untuk bagaimana kita bertahan hidup di era pemerintahan saat ini,” ujar Dimas sang master of ceremony saat memulai acara bertema “Merawat Kewarasan dan Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat Indonesia” tersebut.

img 20240205 085508
Penyair Amien Kamil

Penempatan penyair Amien sebagai pembuka acara memang tepat karena, isi dari puisi yang dibaca penyair berjuluk president of republic performing arts tersebut sangat sepadan dengan tema acara. Termasuk kehadiran dari para narasumbernya.

Tampil dengan dandanan rambut gondrong gimbal songket, Amien tampil cukup ciamik. Kemampuan dirinya mengolah vokal dan memainkan ritme disetiap nada kerap mendapat applaus penonton. Satu karya berjudul “Peluru tak terkendali” yang dikumandangkannya malam itu mendapat respon positif dari ratusan penonton.

img 20240205 085449
Okky Madasari Sastrawati yang juga seorang sosiolog

Usai pembacaan puisi, acara disusul dengan pembacaan pidato Kebudayaan oleh Okky Madasari. Sastrawan yang juga sosiolog ini mengambil tema “Martabak Politik dan Intelektual Martabak”

“Kekuasaan selalu bekerja untuk mengontrol pikiran. Mereka mengatur mana yang buruk dibaca dan mana yg harus dimusnahkan. Mana yang perlu dikondisikan dan mana yang perlu diharamkan. Sebagian dianggap menyesatkan,” ujar Okky.

Dalam pemaparannya, Okky bercerita mengenai pengalaman dan pengamatannya terhadap kinerja dan kapasitas dari seorang pucuk pimpinan. Dari masa kesultanan, revolusi, orde baru hingga saat ini.

“Menjadi bangsa yang merdeka tapi, belum tentu setiap orang memiliki kemerdekaan terhadap pikirannya. Meski penjajahan sudah berpindah tangan namun mereka membiarkan sifatnya untuk mengatur pemikiran,” begitu Okky memulai prolognya.

“Semua yang tak sepaham akan disingkirkan dan yang berlawanan akan segera dibungkam.
Kekuasaan selalu bekerja untuk menciptakan hantu-hantu, mitos dan hal-hal palsu yang dipercaya hingga ter-internalisasi,” ujarnya lagi.

Menurutnya, pada tiap periode kekuasaan, penghianatan atas suara yg mencari pencari kebenaran masih terus dilakukan oleh kelompok intelektual. Namun, atas nama pengaruh dan tawaran jabatan, mereka bukan hanya tunduk menyiapkan diri kepada kekuasaan tapi, juga menjadi bagian penting dalam memproduksi propaganda dan mitos-mitos.

“Inilah intelektual martabak yang sesungguhnya,” kata Okky.

Menurutnya, dalam Martabak politik, inovasi dan kebijakan pemimpin dianggap sebagai tarian rasa kekinian yang tak menyentuh substansi, apalagi perubahan struktural. Martabak ini tak perlu kompetensi dan diksi karena yang dihitung hanya untung rugi.

Secara keseluruhan teks pidato Okky menggambarkan tentang hasrat untuk berkuasa terus dilakukan tanpa martabat. Segala upaya digunakan untuk memperlakukan jabatan sebagai sebuah warisan yang bisa diteruskan oleh anak, cucu, ipar, hingga keturunannya.

Usai Okky mengantarkan pandangannya, MC kembali mengundang Amien tuk beraksi membaca puisi berjudul Demokrasi Sakit Gigi.
Dari puisi-puisi yang dibaca Amien semua banyak bercerita tentang kritik dan kemapanan.

img 20240205 085431
Sujiwo Tejo dengan Saxophone-nya

Selanjutnya sebagai pembicara kedua Ki Sujiwo Tejo naik ke podium. Membawa sebuah alat musik tiup, Ki Tejo memainkan potongan nada dari lagu summer time lewat saxophone terlebih dahulu sebelum berpidato.

“Bagi seorang seniman Kata-kata tanpa nada adalah hampa. Apa yang akan membekas pada seseorang itu adalah bukan kesan kognitifnya tapi, ada pada nadanya,” ujar budayawan nyentrik ini.

“Nada jauh lebih abadi, jauh lebih sampai karena kata-kata kecuali untuk ilmuan, hanyalah sampah” sergahnya.

Dalam pergaulan kesehariannya Ki Tejo mengaku dirinya selalu memegang prinsip biasa-biasa saja. Terutama setelah melihat kondisi keadaan bangsa ini yang kian tak sesuai dengan tujuan bernegara. Ia menyebut beberapa seniman saat ini sempat kecewa (bahkan menangis) pada kepemimpinan pemerintahan era Jokowi. Nama Butet Kartaredjasa, Eros Djarot hingga Gunawan Mohamad disebutnya.

“Mereka yang menangis itukan karena menganggap kekuasan Jokowi berbeda diawal dengan dimasa akhir,” ungkap pria yang pernah menjadi wartawan Kompas ini.

Dari fenomena yang ada Ki Tejo berujar, “Saya dari 2014 biasa saja melihat pemerintahan dan kekuasaan Jokowi. Jadi, sekarang pun perasaan saya biasa saja. Tidak pernah ada rasa kecewa dengan pemerintahan yang selama ini dipimpinnya.”

Ki Tejo mengungkapkan hal seperti itu karena sedari dulu dirinya tak pernah merasakan diundang Jokowi ke istana. Meski begitu Ia biasa saja. Sementara di luar sana banyak orang yang justru mengagung-agungkan.
Alih-alih minta diundang, Ki Joko Justru malah pernah menulis di platform Twitter dengan judul, “Pemimpin tangan besi mematikan nyali tetapi pemimpin yang dinafikan akan mematikan nalar”

Sebagai ending dari pidatonya, Ki Tejo berharap semua orang agar tidak ada lagi memiliki kecemasan-kecemasan dalam dirinya. Maka dari itu pergunakan hati nurani.

“Saya berharap forum ini tidak terlalu pesimistis seandainya Kita semua mau bangkitkan hati nurani,” katanya.

Ki Tejo juga menghimbau agar pada tanggal 14 Februari nanti setiap orang untuk membangkitkan lagi kesadaran kesadaran luhurnya (hati nurani).

Sebelum menyelesaikan pidatonya, Ki Tejo memanggil Amien Kamil kembali untuk mengajaknya duet di atas panggung dalam membacakan puisi karya dari WS Rendra tentang hati nurani. Di atas panggung kedua orang sahabat yang mahir memainkan kata dan gerak ini mampu menjadikan suasana di ruangan BBJ ini riuh dan semarak.

img 20240205 085418
Dr Mohamad Sobari Budayawan Senior

Sementara Sebagai pembicara terakhir adalah Dr Mohammad Sobary. Dalam kalam kata pertamanya Sobary tak mau memperdebatkan antara kebudayaan dan peradaban. Menurutnya
Kebudayaan itu sebagai sebuah sistem atau simbol.

Sebagai sebuah sistem, Kebudayaan itu suatu entitas yang sudah rusak yang lengkap dalam dirinya. Mereka tak ubahnya lirik dan lagu, sama. Namun entitas ini kadang bisa menyatu.

“Saya senang lirik tapi tidak begitu halnya dengan lagu” tegasnya lagi.

Dalam pidato ini Sobary hanya ingin membicarakan lirik saja bukan lagu. Lirik menurutnya bisa didefinisikan sebagai.pesan juga ajaran. Lirik merupakan tempat di mana orientasi nilai. Lirik merupakan tempat perjuangan mewujudkan orientasi dalam hidup.
Dalam kesimpulannya lirik bisa dibuat lagi agar lebih esensial, lebih powerful daripada tembang.

“Lirik bukan puisi. Kang Sobary yg menyebut bahwa puisi memiliki arti yang lain lagi.

Nah, dalam menyikapi kondisi bangsa saat ini, Kang Sobary menilai lirik sebagai sebuah nilai budaya. Musikalisasi puisi adalah bentuk dari ketidakpuasan orang terhadap lirik yang ada.

‘Lirik bisa membangkitkan semangat dan Etika akan melahirkan budi pekerti,” kata dokter menyukai lirik-lirik dari grup musik The Beatles ini.
Lirik dalam sebuah lagu bisa merupakan sebagai salah satu bentuk dari sebuah perlawanan. Kebudayaan sebagai suatu sistem nilai tentunya memiliki kelengkapan psikologi moral dan etika.

“Inti dari kebudayaan adalah jadilah manusia baik. Etika nanti akan melahirkan Budi pekerti. Budi Pekerti adalah barang yang dibangun di atas jatuh bangunnya ajaran tentang etika.

“Kebudayaan itu jatuh bangun. Jangan ditangisi karena itu sebuah proses dialektis. Selalu akan ada harapan baru. Harapan adalah roh kehidupan. Jadi jangan bersedih karena selalu akan ada harapan baru,” katanya

“Jatuh bangun suatu kekuasaan itu dialami sepanjang sejarah Indonesia,”

“Orang mengeluh dan merasa sedih ketika Soekarno jatuh dari kekuasaan. Begitu juga ketika kekuasaan Soeharto runtuh oleh air mata dan darah,” kata Kang Sobary.

Kalau kekuasaan itu diumpamakan matahari, bukan hanya ada satu orang merasakan panasnya matahari, jutaan orang juga merasakan panas yang sama,” tukas budayawan itu.
apa yang dirasakan oleh seseorang di tengah suasana politik sekarang ini, bisa dirasakan oleh banyak orang juga,” ungkapnya.

“Makanya kalau suasana politik (Indonesia) seperti sekarang ini, ya itu dialektis, biasa saja. Kekuasaan itu memang ada kalanya jatuh dan bangun,” tukasnya.

Acara ini sangat penting sebagai bekal arahan dan referensi untuk bagaimana kita bertahan hidup. Acara ini diinisiasi oleh teman-teman media massa dan aliansi jurnalis video (AJV) .
__________________________________________Amex

No More Posts Available.

No more pages to load.