Pasutri Lanjut Usia, Hidup di Semak Pinggir Jalan Daan Mogot

oleh -
img 20220825 wa0148
Foto: Mbah Darmanto (65) asal Kacangan-Solo, Jawa Tengah dengan Musiem (70) asal Cilacap Jawa Tengah

NASIONALNEWS.ID, JAKARTA – Kehidupan Pasutri Mbah Darmanto (65) asal Kacangan-Solo, Jawa Tengah dengan Musiem (70) asal Cilacap Jawa Tengah mewarnai potret kemiskinan kota Jakarta.

Pasalnya, mbah Darmanto mengaku sudah 40 tahun hidup di Jakarta yang hanya sehari-harinya berprofesi sebagai pemulung mencari rongsokan barang-barang plastik bekas, seperti botol dan gelas yang terbuat dari plastik.

“Saya bersama istri sudah 40 tahun hidup jadi orang kecil, sehari-hari cuma keliling cari barang-barang plastik di tempat sampah-sampah,” kata mbah Darmanto saat diwawancarai ditempat tinggal di semak-semak tanah kosong pinggiran jalan Daan Mogot, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (25/8/2022).

img 20220825 wa0151
Rongsokan bekas air mineral yang dikumpulkan pasangan pasutri lanjut usia

Mbah Darmanto mengaku, tinggal di semak-semak tanah kosong pinggiran jalan Daan Mogot Jakarta Barat ini sudah merasa nyaman, walau hanya dengan atap terpal dan alas balai yang dibuat dengan kayu seadanya.

“Saya tinggal disini nyaman walau hanya dengan atap terpal dan balai kayu seadanya. Hidup dan tinggal seperti ini sudah 2 tahun dan 38 tahun sesudahnya berpindah-pindah tapi masih diseputaran Jakarta Barat,” ujarnya.

Penghasilan:

Untuk penghasilan, kata mbah Darmanto, sehari bisa mendapat Rp. 20.000 kadang bisa Rp. 30.000. Itu tergantung perolehan barang plastik bekas dari seharian keliling ditempat-tempat sampah orang-orang kaya yang tinggal di perumahan mewah.

“Ya cukuplah untuk makan, saya hanya orang kecil gak punya apa-apa, disyukuri saja yang penting saya berharap Alloh memberi kesehatan saya dan Musiem istri saya,” kata mbah Darmanto.

img 20220825 wa0150
Tempat memasak di area semak-semak

Lebih jauh, mbah Darmanto menceritakan, suka duka hidup menjadi orang kecil seperti yang dialaminya ini sulit diterima oleh orang banyak. Masalah, siapapun orangnya dipastikan tidak mau hidup miskin serba kekurangan. Apalagi hidup di Jakarta, kalau tidak memiliki kemapuan, pengalaman (Skill) akan belangsak (sengsara). Karena di Jakarta sulit mencari orang yang punya belas kasihan sama orang bawah.

“Saya terlanjur saja saat itu nekat merantau di Jakarta, awalnya saya punya angan-angan bisa hidup mapan mengadu nasib di Jakarta. Gak taunya 40 tahun di Jakarta tak merubah nasib bisa menjadi orang hebat,” tuturnya.

Mbah Darmanto berharap, untuk Petugas Satpol PP, Polisi dan aparatur pemerintahan, kehidupan orang-orang kecil seperti yang dirinya dialami.

“Saya berharap semua pihak bisa memahami kehidupan orang-orang kecil yang ada di Jakarta yang sehari-harinya hanya berprofesi sebagai pemulung untuk hidup,” harapnya.

(Budi Beler)

No More Posts Available.

No more pages to load.