NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA – Saparan Wonolelo merupakan salah satu upacara adat menyambut datangnya bulan Sapar dalam penanggalan Jawa Islam kembali digelar berlangsung di Dusun Pondok Wonolelo Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman, YOGYAKARTA.
Upacara Saparan Wonolelo biasanya diawali dengan pengajian akbar sebagai upaya untuk meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama islam untuk wilayah Sleman Timur Yogyakarta.

Acara pembukaan Saparan Wonolelo tahun 2025 berlangsung hari Jum’at tanggal 18 Juli kegiatan 2025 dengan acara Pondok Wonolelo Bersholawat dipimpin Al Habib Mushalla Syayyidi Baraghah L.C dan haul Ki Ageng Wonolelo.
Berbagai kegiatan akan diselenggarakan dari tanggal 18 Juli 2025 sampai tanggal 2 Agustus 2025.
Kegiatan antara lain hiburan, jatilan pergelaran wayang kulit semalam suntuk.Puncak acara yang ditunggu tunggu ribuan warga yang berdatangan dari segenap penjuru kota dan luar kota Jogjakarta Kirab pusaka , Kirab Keprajuritan dan gunungan apem.
Gunungan apem merupakan bagian dari tradisi upacara adat Saparan Ki Ageng Wonolelo di Wonolelo, Sleman, Yogyakarta.
Tradisi ini memperingati Ki Ageng Wonolelo, seorang tokoh penyebar agama Islam, dan melibatkan kirab gunungan apem serta penyebarannya kepada masyarakat.
Apem, yang terbuat dari tepung dan kelapa, dipilih sebagai simbol sedekah dan sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Wonolelo yang dikenal memberi apem setelah pulang haji.
Selain gunungan apem, dalam tradisi Saparan juga dilakukan kirab pusaka yang disimpan di berbagai tempat, seperti:
Kitab Al-Quran tulisan tangan (disimpan di Kalasan)
Bongkahan mustaka masjid (disimpan di Cangkringan)
Bandil (disimpan di Jatinom)
Kopiah (disimpan di Umbulmartani)
Tombak, tongkat, dan baju ontokusumo (disimpan di Pondok Wonolelo).
Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo, dengan gunungan apem sebagai daya tarik utamanya, adalah perpaduan antara nilai-nilai budaya, religi, dan ekonomi yang hidup di masyarakat Wonolelo. (Ridar)











