NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA – Ribuan warga kota Jogjakarta dan warga yang berdatangan dari penjuru Jawa, termasuk wisatawan dari berbagai negara tumpah ruah menyaksikan langsung sebuah acara cukup sakral Kirab Budaya Jamasan Pusaka Kyai Condro.
Acara peringatan 200 tahun pecahnya Perang Jawa yang diadakan di Kelurahan Tegalrejo, Kota Jogjakarta hari Minggu, (20/72025).
Acara ini melibatkan kirab pusaka berupa tongkat Kyai Cokro peninggalan Pangeran Diponegoro sang pemimpin perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda yang berlangsung tahun 1825-tahun 1830.Kirab ini merupakan bagian dari upaya warga untuk melestarikan budaya dan mengenang heroiknya perang besar itu.
Cokro adalah senjata Dewa Wisnu untuk membuat kedamaian di dunia. Kiai Cokro sebenarnya diperoleh Diponegoro dari pemberian warga Yogyakarta sekitar tahun 1815 saat Diponegoro berkelana ke gua-gua, ke makam leluhur, dan ke pesantren satu ke pesantren lain, sebelum Perang Jawa (1825-1830) pecah.
Saat Diponegoro dalam pemanggangan di Makassar (1833-1855), tongkat Kiai Cokro pada tahun 1834 oleh Notoprojo, cucu Nyi Ageng Serang diberikan kepada Gubernur Jenderal Jean Chretien Baud (menjabat 1834-1836). Tentu saja pemberian itu sebagai hadiah untuk mengambil hati gubernur jenderal yang baru itu.
Setelah 181 tahun, tongkat itu dikembalikan oleh keturunan Baud ke Indonesia pada tahun 2015. Ada anggapan bahwa siapa pun yang pernah memegang tongkat Kiai Cokro akan menjadi pemimpin.
Sebelum acara jamasan kiai Cokro dan belasan buah keris dan tombak dilakukan prosesi penyerahan kiai Cokro yang tersimpan didalam museum Diponegoro yang dibawa Pasukan bregodo dengan diiringi tarian pembuka golek ayun ayun dilanjutkan penjemputan pusaka Kiai Cokro.
Untuk memeriahkan acara jamasan pusaka Kiai Cokro peserta kirab yang mengenakan kostum ala Pangeran Diponegoro dengan mengendarai kuda.
cukup menarik perhatian tak kala ditampilkan bagaimana Pangeran Diponegoro dalam upaya menyelamatkan diri dari kepungan bala tentara musuh dengan cara menjebol tembok.
R.Y Ng Budhi Santoso menjelaskan perang ini pecah usai ratusan pasukan Belanda menyerang kediaman masa kecil sang Pangeran di Jalan HOS Cokroaminoto TRIII/430, Tegalrejo. Lokasi itu kini beralih fungsi menjadi Museum Monumen Pangeran Diponegoro.
Pasukan Belanda menyerang dan mengepung Diponegoro setelah sebelumnya banyak sekali konflik antara dua kubu itu.
“Situasi pada waktu itu kan Tegalrejo ini dikepung tentara Belanda, akhirnya Beliau kewalahan. Akhirnya beliau memutuskan untuk melarikan diri dengan menjebol tembok yang ada di belakang,” papar Budhi Santoso yang juga kerabat dekat Pangeran Diponegoro itu.
Momen pelarian diri sang Pangeran itu lah yang hingga kini masih ada peninggalannya, yakni tembok sisi barat rumah yang dijebol Diponegoro untuk lolos dari kepungan Belanda. (Ridar)








