NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi berakhir di Lapangan Beran, Kompleks Pemda Sleman, Sabtu malam (19/9). Namun, penutupan festival ini membawa pesan bahwa kebudayaan Yogyakarta tidak boleh berhenti ketika panggung pertunjukan selesai.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X menutup langsung rangkaian FKY 2026. Acara tersebut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, Wakil Bupati Sleman, jajaran Forkopimda se-DIY, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, budayawan, seniman, serta ribuan warga.
Prosesi penutupan dimulai dari Gerbang Utama FKY. Paku Alam X bersama Kepala Dinas Kebudayaan DIY dan Bupati Sleman mencabut bilah bambu yang kemudian diserahkan kepada seniman FJ Kunting.
Bilah bambu itu selanjutnya diarak menuju Panggung Taling (Utama). Iring-iringan dipimpin penari edan-edanan dan FJ Kunting sebagai cucuk lampah, disusul rombongan Wagub DIY, Bupati Sleman, panitia, serta Panji FKY.
Suasana semakin terasa kental dengan nuansa tradisi ketika rombongan memasuki panggung utama. Alunan gamelan instrumental dari kelompok musik Kiai Kanjeng menyambut kedatangan mereka.
Di atas panggung, Paku Alam X membacakan sambutan Gubernur DIY. Pesan utamanya sederhana, yakni berakhirnya festival bukan berarti berakhir pula perjalanan kebudayaan.
“Rangkaian FKY 2026 telah sampai di penghujung. Namun seperti aksara, berakhirnya sebuah rangkaian bukan berarti berakhir pula maknanya,” kata Paku Alam X.
Menurutnya, selama FKY berlangsung, masyarakat diajak melihat Yogyakarta lewat berbagai bentuk, mulai dari gerak, bunyi, karya, ruang hidup, tradisi hingga perjumpaan antarmanusia.
“Kebudayaan tidak pernah hadir dalam satu bentuk saja. Ia hidup karena terus dibaca, dirasakan, ditafsirkan, dan diwariskan,” lanjutnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi harapan agar FKY tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Festival diharapkan meninggalkan jejak dan membuka ruang bagi lahirnya karya serta gagasan baru dalam kebudayaan Yogyakarta.
Panji FKY Dikembalikan
Penutupan juga ditandai dengan penyerahan kembali Panji FKY secara simbolis. Bupati Sleman Harda Kiswaya menyerahkan Panji FKY untuk kemudian dikembalikan kepada Paku Alam X.
Momen tersebut berlangsung khidmat. Suasana semakin haru ketika tembang “Lir-Ilir” dilantunkan secara kolaboratif oleh Kiai Kanjeng dan dinyanyikan bersama para hadirin.
Setelah prosesi resmi selesai, masyarakat masih disuguhi berbagai pertunjukan kesenian dan hiburan rakyat.
Ribuan warga pun menikmati malam terakhir FKY 2026. Panggung boleh ditutup, tetapi pesan yang dibawa festival tetap diharapkan berjalan bersama masyarakat: menjaga kebudayaan dengan terus mengenal, merasakan, menafsirkan, dan mewariskannya. (Jat)






