NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Misteri dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa di Kapanewon Turi, Sleman, mulai menemukan titik terang. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya cemaran bakteri pada makanan yang dibagikan kepada siswa.
Sampel nasi dan bola-bola daging goreng yang diambil dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto ditemukan mengandung Bacillus cereus.
Sementara itu, sampel nasi yang diambil dari SMPN 3 Turi dinyatakan mengandung Staphylococcus aureus. Namun, sampel bola-bola daging goreng dari sekolah tersebut negatif terhadap Escherichia coli, Staphylococcus aureus, maupun Bacillus cereus.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan hasil laboratorium tersebut telah dicocokkan dengan data epidemiologi dan investigasi pangan.
“Bacillus cereus saat ini merupakan etiologi yang paling mungkin terkait kejadian tersebut,” kata Khamidah saat dikonfirmasi, Rabu (16/9).
Meski begitu, Dinkes Sleman belum menetapkan Bacillus cereus sebagai penyebab definitif. Pemeriksaan lanjutan masih dilakukan untuk menggabungkan seluruh bukti yang ada.
“Penetapan etiologi definitif masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dan integrasi seluruh bukti yang tersedia,” ujarnya.
Dari data terakhir, sebanyak 135 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan SPPG Wonokerto.
Sebanyak 23 orang memilih berobat secara mandiri, sedangkan 112 orang mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan. Dari jumlah tersebut, dua orang harus menjalani rawat inap, sementara lainnya menjalani rawat jalan.
Keluhan yang paling banyak muncul antara lain pusing, mual, sakit perut, sakit kepala, badan lemah, muntah, dan diare.
Pada hari kejadian, Senin (7/9), sebanyak 867 porsi MBG telah dibagikan ke enam satuan pendidikan.
Keenamnya yakni SD Muhammadiyah Balerante, SMPN 3 Turi, SD Tarakanita Ngembesan, TK Indriyasana Ngembesan, SMK Muhammadiyah 1 Turi, dan SLB Tunas Kasih 2 Turi.
Hingga Jumat (11/9), Dinkes Sleman telah meminta keterangan dari 680 responden. Dari jumlah itu, 540 orang mengaku sempat mengonsumsi MBG, sedangkan 140 responden tidak mengonsumsinya.
Kepala SPPG Wonokerto, Rifqi Dimas Pratama, menyampaikan permohonan maaf kepada para penerima manfaat yang terdampak kejadian tersebut.
Menurutnya, kejadian ini menjadi bahan evaluasi agar proses penanganan bahan makanan ke depan dilakukan lebih ketat.
“Ini menjadi catatan bagi kami supaya lebih ketat dalam penanganan bahan makanan,” ujarnya.
Sejumlah langkah perbaikan mulai dilakukan. SPPG Wonokerto memberikan pemahaman kepada para relawan mengenai pemicu munculnya bakteri serta menghadirkan chef bersertifikat untuk memberikan mentoring.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) selama bekerja juga kembali didisiplinkan. Selain itu, pemeriksaan laboratorium terhadap air dilakukan secara berkala dan proses pengolahan bahan pangan mulai diterapkan dengan pencatatan yang lebih tertib.
Pihak SPPG juga mengaku melakukan pendampingan kepada para korban, termasuk menyambangi rumah mereka secara bertahap untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan setelah kejadian. (Jat)






