NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Kabupaten Sleman optimistis menembus jajaran kota film dunia melalui pengembangan ekosistem perfilman yang terhubung langsung dengan Hollywood. Bahkan, Sleman membidik posisi sebagai kota film pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.
Optimisme tersebut disampaikan Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Professor Muh Suyanto, saat memaparkan kesiapan Sleman menuju jaringan kota film UNESCO, Jumat (21/8).
Menurut Suyanto, peluang Sleman sangat terbuka karena hingga kini belum ada kota di Indonesia maupun Asia Tenggara yang menyandang posisi sebagai kota film. Kondisi itu dinilai menjadi keunggulan strategis bagi Sleman.
“Di Indonesia belum ada kota film, bahkan Asia Tenggara juga belum ada. Sehingga ini harapannya menjadi kelebihan Sleman,” ujar Suyanto.
Ia menjelaskan, dari sejumlah bidang yang belum masuk dalam jaringan kota kreatif, Sleman memilih film karena memiliki potensi talenta, institusi pendidikan, sumber daya manusia, serta dukungan pemerintah daerah.
Salah satu kekuatan tersebut adalah keberadaan Universitas Amikom Yogyakarta yang selama ini mengembangkan pendidikan di bidang animasi dan film. Suyanto menyebut terdapat hampir 500 anak dari keluarga kurang mampu yang mendapatkan kesempatan mengasah talenta, khususnya dalam bidang film, animasi, dan video.
Selain pendidikan, ekosistem perfilman Sleman juga diperkuat para pelaku industri. Dalam komite film, terdapat nama sineas Garin Nugroho sebagai penasihat, sementara Suyanto juga terlibat sebagai penasihat.
Bidik Pasar Hollywood
Suyanto menegaskan, konsep ekosistem film Sleman memiliki perbedaan dengan pola industri film Indonesia pada umumnya.
Jika film Indonesia biasanya diproduksi untuk pasar nasional kemudian dibawa ke Singapura dan pasar Asia Tenggara, Sleman justru ingin menempuh jalur berbeda dengan membawa karya langsung ke Hollywood dan pasar global.
“Sleman bagaimana? Sleman dibawa ke Hollywood, disebarkan ke seluruh dunia. Itu yang membedakan,” katanya.
Salah satu bukti kesiapan tersebut adalah film animasi Aji Saka: The King, The Flower of Life yang diproduksi melalui MSC Studio dengan dukungan talenta-talenta dari Sleman.
Film tersebut melibatkan 15 bintang Hollywood sebagai pengisi suara. Di antaranya Ryan Cooper, Lucy Liu, dan Kevin Durand.
Suyanto mengatakan, produksi Aji Saka juga melibatkan tenaga profesional Hollywood mulai dari pengembangan naskah hingga pascaproduksi. Naskah film dikoreksi oleh profesional Hollywood, sementara proses color grading ditangani Walter Volpatto yang memiliki rekam jejak dalam berbagai produksi film besar dunia.
Menurutnya, keterlibatan profesional Hollywood tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kualitas produksi Aji Saka mampu memenuhi standar industri film internasional.
Hollywood Mulai Melirik Film Sleman
Suyanto mengungkapkan, koneksi dengan industri Hollywood mulai membuka peluang investasi terhadap proyek-proyek film dari Sleman.
Selain Aji Saka, sejumlah proyek film lain juga disiapkan, antara lain Golden Snail (Keong Emas) dan Princess of Borobudur.
Ia menyebut sejumlah perusahaan besar seperti Paramount Pictures dan Netflix menjadi bagian dari ekosistem industri yang ingin dijangkau. Dengan demikian, Sleman tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga diarahkan menjadi pusat pengembangan industri film dan animasi.
“Dengan kita bisa ekspor film kita, ada investasi dari Hollywood, maka saya yakin semakin banyak anak-anak di Sleman yang kita butuhkan,” ujar Suyanto.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menjadikan Sleman sebagai “lembah film animasi Indonesia”, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda.
Pengembangan industri film juga diyakini memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Arus investasi, produksi, tenaga kreatif, hingga ekspor karya audiovisual dapat meningkatkan aktivitas ekonomi daerah.
Suyanto memberikan apresiasi terhadap komitmen Bupati Sleman Harda Kiswaya, Sekda Sleman, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendorong pengembangan sektor film.
Ia berharap dukungan tersebut semakin memperkuat langkah Sleman menuju jaringan kota film UNESCO sekaligus menjadikan daerah itu sebagai salah satu pusat industri film dan animasi berkelas dunia. (Jat)






