NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Kabupaten Sleman lolos seleksi nasional tahap II pengusulan nominasi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 bidang Film. Capaian ini menjadi langkah penting bagi Sleman untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong ekonomi kreatif berdaya saing global.
Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman, Harda Kiswaya, di Ruang Sembada Setda Sleman, Jumat (21/8/2026). Harda menegaskan, Sleman berkomitmen berkembang sebagai bagian dari jejaring kota film dunia melalui UCCN.
Menurutnya, film, animasi, dan video tidak hanya dipandang sebagai subsektor ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Sleman menargetkan terbentuknya ekosistem perfilman yang inklusif, berkelanjutan, kolaboratif, dan mampu bersaing di tingkat global.
“Menuju UCCN bukan sekadar mengejar predikat, tetapi bagaimana ekosistem film yang kita bangun benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Sleman,” kata Harda.
Harda mengatakan, Sleman memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan industri perfilman. Ekosistem tersebut mencakup studio animasi dan film, komunitas perfilman, perguruan tinggi, SMK, lembaga pelatihan, lokasi produksi, hingga bioskop dan televisi lokal.
Pada 2023, Sleman juga telah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia subsektor Film, Animasi, dan Video berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor SK/102/DI.01.00/MK/2023.
Sleman bahkan telah menjadi lokasi produksi sejumlah film, termasuk Beyond Skyline pada 2017. Selain itu, Sleman menjadi salah satu lokasi penting penyelenggaraan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan JAFF Market yang disebut sebagai pasar film pertama dan terbesar di Indonesia.
Harda menekankan, perkembangan industri film harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Salah satu fokus pemerintah adalah membuka kesempatan bagi anak-anak dan generasi muda, termasuk dari keluarga kurang mampu.
Melalui Program Sleman Pintar periode 2022–2025, Pemkab Sleman telah mengalokasikan pembiayaan lebih dari Rp13,5 miliar. Program tersebut melibatkan hampir 500 lulusan SLTA dalam pendidikan film, animasi, dan video.
Ke depan, program tersebut akan terus ditingkatkan agar generasi muda Sleman tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menjadi pencipta, pekerja kreatif, animator, pembuat film, dan pelaku industri kreatif.
“Anak-anak Sleman diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat menjadi pencipta, pekerja kreatif, animator, pembuat film, dan pelaku industri kreatif,” ujarnya.
Siapkan Infrastruktur Ekonomi Kreatif
Sleman juga terus memperkuat infrastruktur ekonomi kreatif. Salah satunya melalui Studio Alam Gamplong yang berkembang dari lokasi syuting film Sultan Agung dan Bumi Manusia menjadi destinasi yang memiliki nilai ekonomi, pariwisata, dan edukasi.
Selain itu, Sleman Creative Space di kompleks Taman Kuliner Condongcatur tengah diarahkan untuk direvitalisasi menjadi Sleman Creative Park dengan cakupan kegiatan ekonomi kreatif yang lebih luas.
Pemkab Sleman juga menyiapkan Taman Budaya Sleman sebagai kawasan budaya terpadu yang dapat menjadi ruang ekspresi dan komunikasi bagi komunitas film serta pelaku ekonomi kreatif.
Bentuk Komisi Film Daerah
Untuk memperkuat ekosistem perfilman, Pemkab Sleman berupaya membentuk Komisi Film Daerah Kabupaten Sleman. Lembaga ini nantinya menjadi instrumen kolaborasi dan fasilitasi antara pemerintah daerah dengan berbagai pemangku kepentingan perfilman.
Komisi Film Daerah diharapkan mampu menciptakan iklim produksi film yang kondusif, meningkatkan pemanfaatan potensi daerah sebagai lokasi produksi, memperkuat ekosistem perfilman, serta mengoptimalkan dampak ekonomi, sosial, budaya, dan promosi daerah.
Harda menegaskan, pengembangan perfilman tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian. Kolaborasi perlu dibangun antara pemerintah, industri, komunitas, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, masyarakat, dan media.
Dengan lolosnya Sleman dalam seleksi nasional tahap II UCCN 2027 bidang Film, pemerintah daerah ingin momentum tersebut digunakan untuk memperkuat posisi Sleman sebagai daerah yang ramah produksi film sekaligus mampu melahirkan karya untuk pasar internasional.
“Kami ingin Sleman tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk membuat film, tetapi juga menjadi tempat lahirnya karya-karya film yang mampu dibawa ke dunia,” tegas Harda.
Ia menambahkan, film merupakan bagian dari strategi pembangunan daerah, mulai dari ekonomi, pendidikan, pariwisata, kebudayaan, penciptaan lapangan kerja hingga penguatan daya saing.
“Film bukan sekadar karya seni,” ujarnya.
Harda berharap seluruh pemangku kepentingan menyatukan visi untuk menjadikan Sleman sebagai Kota Film UCCN. Target akhirnya bukan sekadar memperoleh predikat, melainkan membangun Sleman sebagai daerah yang terbuka, ramah produksi, kreatif, inklusif, produktif, dan memiliki daya saing global. (Jat)











