NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Pendampingan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama warga Kampung Jurugsari, RW 57, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, resmi berakhir.
Namun, berakhirnya program bukan berarti gerakan pengelolaan sampah ikut berhenti. Justru, warga kini didorong melanjutkan secara mandiri teknologi pengolahan sampah organik yang dikembangkan bersama mahasiswa UGM.
Program tersebut merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) melalui Tim Tumandur. Penutupan digelar di Balai RW 57 Jurugsari, Senin (31/8/2026) sore.
Program bertajuk “Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK Kampung Jurugsari melalui Transformasi Limbah Organik menjadi Liquid Biofertilizer Berbasis Smart Compost Vessel menuju Agroregenerative Family Farm” ini mengajak warga mengubah sampah organik rumah tangga menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Melalui Smart Compost Vessel, sampah organik diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos. Pupuk tersebut kemudian digunakan untuk tanaman di pekarangan warga.
Dengan cara ini, sampah yang sebelumnya hanya menjadi limbah bisa kembali menjadi sumber daya. Sampah diolah menjadi pupuk, pupuk menyuburkan tanaman, dan tanaman bisa menghasilkan bahan pangan untuk keluarga.
Ketua Tim PKM-PM Tumandur UGM, Siti Nur Khasanah, menegaskan berakhirnya pendampingan mahasiswa bukan berarti program tersebut selesai sepenuhnya.
“Penutupan ini bukan berarti Program Tumandur benar-benar berakhir. Kami berharap setelah pendampingan dari tim selesai, masyarakat dapat terus menjalankan dan mengembangkan program secara mandiri sesuai dengan kebutuhan di lingkungan masing-masing,” ujar Siti.
Pendampingan Tumandur telah berlangsung sejak Juni 2026. Warga mendapatkan pelatihan pengolahan sampah organik menggunakan Smart Compost Vessel.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman sayuran bersama ibu-ibu PKK pada 30 Juni 2026 di Pusat Pelatihan Tumandur.
Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga mendampingi warga melakukan monitoring proses pengomposan dan pertumbuhan tanaman, memanen POC dan kompos, hingga mengaplikasikan pupuk pada tanaman.
Warga juga mendapat pelatihan merakit dan merawat sensor Smart Compost Vessel. Rangkaian kegiatan ditutup dengan panen serta pengolahan sayuran bersama.
Artinya, warga tidak hanya dikenalkan pada teknologi. Mereka juga diajak belajar dari awal sampai akhir, mulai dari mengelola sampah, menghasilkan pupuk, menggunakan pupuk untuk tanaman, hingga memanen hasilnya.
Ketua PKK Kampung Jurugsari, Rini, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan mahasiswa UGM. Menurutnya, program Tumandur sejalan dengan upaya warga RW 57 dalam menjaga lingkungan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tim PKM-PM Tumandur. Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena Program Tumandur sejalan dengan visi dan misi RW 57 Jurugsari. Harapannya, kegiatan dan pengetahuan yang telah diberikan dapat terus diterapkan oleh masyarakat,” kata Rini.
Apresiasi juga disampaikan Dukuh Joho, Retnaningsih. Ia menilai kerja sama mahasiswa dan masyarakat selama program berlangsung mampu menciptakan suasana yang saling mendukung.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Tim PKM-PM Tumandur yang telah memilih Jurugsari sebagai mitra. Kegiatan ini menciptakan suasana saling mendukung antara tim dan masyarakat,” ujarnya.
Retnaningsih juga membuka peluang kerja sama lanjutan terkait pengelolaan lingkungan di wilayah Padukuhan Joho.
Sementara itu, perwakilan Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Apri Nugroho, berharap hasil pendampingan UGM tidak berhenti setelah acara penutupan.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya karena telah memilih Jurugsari sebagai mitra dan berhasil merealisasikan program dengan lancar. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti setelah program ditutup, tetapi dapat terus berjalan dan dikembangkan oleh masyarakat,” ungkap Apri.
Untuk memastikan program tetap berjalan, Tim Tumandur juga memberikan perhatian pada mekanisme keberlanjutan. Salah satunya dengan mendorong pembentukan struktur kepengurusan atau penanggung jawab di tingkat masyarakat.
Penanggung jawab tersebut nantinya diharapkan bisa mengoordinasikan pengolahan sampah organik, pemanfaatan pupuk, sekaligus pemeliharaan Smart Compost Vessel.
Transfer pengetahuan juga diperkuat melalui Training of Trainers (ToT). Warga yang sudah mendapatkan pelatihan diharapkan mampu mengoperasikan dan merawat teknologi sekaligus mengajarkan pengetahuan tersebut kepada warga lainnya.
Dalam acara penutupan, Tim Tumandur juga menyerahkan perangkat program kepada mitra serta membagikan buku pedoman. Serah terima ini menjadi tanda bahwa pengelolaan program selanjutnya berada di tangan masyarakat.
Tim PKM-PM Tumandur UGM terdiri dari Siti Nur Khasanah dari Ilmu Tanah 2024 sebagai ketua, Rayhan Arva Pradipa dari Pariwisata 2024, Nafi’atush Sholikhah dari Ilmu dan Industri Peternakan 2023, Vina Ayu Lestari dari Elektronika dan Instrumentasi 2023, serta Naafianda Ra’uuf Prastya dari Bahasa Inggris 2024.
Program tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP. dari Fakultas Peternakan UGM.
Kini, setelah pendampingan mahasiswa berakhir, warga Jurugsari mendapat tantangan baru: menjaga agar inovasi tersebut tetap hidup.
Bukan hanya perangkat Smart Compost Vessel yang ditinggalkan, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, kader, dan sistem yang diharapkan mampu membuat warga terus mengolah sampah menjadi sumber daya.
Dengan begitu, sampah organik rumah tangga tak lagi sekadar persoalan lingkungan. Di tangan warga, sampah bisa menjadi pupuk, pupuk bisa menyuburkan tanaman, dan hasil tanaman bisa kembali mendukung kebutuhan pangan keluarga. (Jat)







