NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia mencapai surplus sebesar US$1,27 miliar.
Angka ini naik sebesar US$0,32 miliar dibandingkan bulan sebelumnya dari US$0,95 miliar.
Surplus Februari 2026 didukung kinerja sektor nonmigas yang surplus sebesar US$2,19 miliar dan defisit sektor migas sebesar US$0,92 miliar.
“Capaian surplus selama 70 bulan berturut-turut mencerminkan fundamental perdagangan Indonesia yang tetap kuat,” kata Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan).
Neraca perdagangan Indonesia periode Januari 2026–Februari 2026 surplus sebesar US$2,23 miliar.
Angka ini berasal dari surplus nonmigas sebesar US$5,42 miliar.
Jadi, bisa menutup defisit migas sebesar US$3,19 miliar.
Surplus terbesar selama dua bulan pertama 2026 diperoleh dari Amerika Serikat (AS) sebesar US$3,11 miliar.
Angka ini diikuti India sebesar US$2,29 miliar dan Filipina USD 1,54 miliar.
Sementara itu defisit terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar US$4,99 miliar.
Menyusul, Australia sebesar US$1,69 miliar dan Singapura sebesar US$1,48 miliar.
Untuk periode Februari 2026, kinerja ekspor Indonesia sebesar US$22,17 miliar atau tumbuh sebesar 0,05% dibandingkan Januari 2026.
Angka ini naik sebesar 1,01% dibandingkan Februari tahun lalu.
Pertumbuhan ini didorong ekspor nonmigas yang naik 1,30% saat penurunan ekspor migas sebesar 4,25%.
Kemudian, sepanjang Januari 2026–Februari 2026 total ekspor mencapai sebesar US$44,32 miliar.
Angka ini tumbuh sebesar 2,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerjanya ditopang ekspor nonmigas yang naik sebesar 2,82% menjadi US$42,35 miliar.
Sementara itu ekspor migas turun sebesar 9,75% menjadi US$1,97 miliar.
Struktur ekspor Indonesia secara kumulatif didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 83,61% terhadap total ekspor.
Sektor pertambangan dan lainnya menyumbang sebesar 10,08%, sektor migas sebesar 4,45% dan pertanian sebesar 1,86%.
Pertumbuhan ekspor nonmigas pada Januari 2026–Februari 2026 didorong ekspor sektor industri pengolaha sebesar 6,69%.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun sebesar 25,99% dan sektor pertambangan dan lainnya turun sebesar 16,34%.
Komoditas nonmigas mencapai pertumbuhan ekspor tertinggi antara lain timah dan barang daripadanya (HS 80) naik sebesar 89,01%.
Kemudian, nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik sebesar 55,97% serta lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) tumbuh sebesar 28,79%.
“Peningkatan ekspor sejumlah komoditas utama tidak terlepas dari faktor harga di pasar global,” ucapnya.
“Harga timah tercatat melonjak 59,87 persen dan nikel naik 13,88 persen selama Januari–Februari 2026. Peningkatan harga ini mendorong kenaikan nilai ekspor kedua komoditas tersebut,” ucap Budi Santoso.
Sementara itu peningkatan ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) lebih didorong oleh permintaan global.
Laporan World Commodity Price Data bertajuk The Pink Sheet pada 3 Maret 2026) menyebutkan saat penurunan harga minyak kelapa sawit (palm oil) sebesar 4,27%.
Volume ekspor naik sebesar 34,46%. Dari sisi pasar ekspor bahwa Tiongkok, AS, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia.
Total nilai mencapai US$18,57 miliar atau 43% dari total ekspor nonmigas nasional.
Namun, pertumbuhan ekspor tertinggi terjadi di pasar nontradisional.
Uni Emirat Arab meraih kenaikan sebesar 68,62%, diikuti Spanyol sebesar 54,63%, dan Mesir sebesar 38,77%.
Sementara itu ekspor ke Asia Tengah lainnya meliputi Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan naik sampai sebesar 146,11%.
Hal ini disusul Kawasan Karibia sebesar 22,26% dan Afrika Utara sebesar 22,14%.
Kinerja impor Indonesia pada Februari 2026 sebesar US$ 20,89 miliar. Secara bulanan, nilai ini terkontraksi 1,45% dibandingkan Januari 2026.
Namun, masih tumbuh sebesar 10,85% dibandingkan Februari 2025.
Peningkatan impor secara tahunan terutama didorong impor nonmigas yang tumbuh sebesar 18,24% di tengah penurunan impor migas sebesar 30,36%.
Selanjutnya, secara kumulatif Januari 2026–Februari 2026 total impor mencapai US$42,09 miliar atau naik sebesar 14,44% dari Janurari 2025—Februari 2025.
Kenaikan ini ditopang impor nonmigas sebesar 17,49%, sedangkan impor migas terkoreksi sebesar 3,50%.
Dilihat dari golongan penggunaan barangnya, seluruh komponen impor meraih pertumbuhan.
Impor barang modal naik paling tinggi sebesar 34,44%.
Hal ini diikuti barang konsumsi sebesar 15,60% dan bahan baku atau penolong sebesar 9,27%.
Budi Susanto meneruskan kenaikan impor barang modal dan bahan baku atau penolong pada Januari 2026-Februari 2026 merupakan indikator positif bagi industri nasional.
“Hal ini selaras dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia yang meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2024, memberikan sinyal positif bagi kinerja perdagangan Indonesia di kemudian hari,” ujar Budi Santoso.
Dari sisi komoditasnya, kenaikan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang naik sebesar 869,38%.
Selain itu impor logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik sebesar 91,85% serta garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh sebesar 63,62%.
Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Australia, dan Singapura dengan kontribusi gabungan mencapai sebesar 53,47%.
Di sisi lain, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi, antara lain, Prancis yang naik sebesar 258,88%, Uni Emirat Arab sebesar 138,26%, dan Singapura sebesar 102,75%.






