GRAMM HOTEL Yogyakarta Rutin Beri Ruang Dukung Seniman Lokal Pamerkan Karya di Lobby dan Resto

oleh -
oleh
img 20251003 wa0004

NASIONALNEWS.ID,YOGYAKARTA-Pameran Break First karya Anang Batas berlangsung di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo, Yogyakarta, pada 17 September 2025 hingga 16 November 2025. Karya-karya dapat dinikmati di area Lobby dan SMARA Resto.

Program pameran seni rupa yang digelar secara rutin ini merupakan wujud nyata GRAMM HOTEL yang mengedepankan otentisitas, kebersamaan, dan keberlanjutan. Dengan memberi ruang bagi seniman-seniman lokal Yogyakarta, hotel berupaya mendukung ekosistem seni sekaligus menghadirkan pengalaman bermakna bagi setiap tamu. Seni dipandang sebagai bahasa universal yang menyatukan berbagai latar, membangun dialog, dan menghadirkan inspirasi yang melampaui batas ruang serta waktu.

General Manager GRAMM Hotel by Ambarrukmo Aris Retnowati dalam sambutan pembukaan pameran Art Photograpaint Exhibition Break First, memajang karya-karya Anang Batas, menuturkan,

Pameran ini menjadi momen istimewa karena merupakan presentasi perdana karya seni rupa Anang Batas yang digelar di hotel kami. Melalui Break First, Anang memperkenalkan konsep Art Photograpaint, sebuah eksperimen visual yang memadukan ketajaman fotografi dengan kebebasan ekspresi cat akrilik. Inovasi ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan artistik Anang Batas, sekaligus membuka wacana baru tentang batas-batas medium dalam dunia seni rupa,” ujar Aris Retnowati Jumat (26/9/2025) usai membuka secara resmi gelar pameran.

Bagian dari Pameran Karya Seniman Lokal yang di pamerkan di GRAMM HOTEL

“Kami percaya bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menjembatani pengalaman personal dengan semesta yang lebih luas. Karena itu, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Anang Batas, kurator, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya pameran ini. Semoga karya-karya dalam Break First tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menggugah hati, memberi inspirasi, dan memperkaya kesadaran kita akan keindahan, kreativitas, dan kebersamaan,” imbuhnya.

Beberapa karya menampilkan pesan ekologis yang kuat, seperti “Surfing in the Rice Fields” dan “Searching Place to Surfing Plays”, yang menyandingkan laut dan sawah sebagai refleksi atas kerusakan ekosistem laut. Kerusakan ekosistem laut akibat polusi. Sementara karya Looking to the Future menampilkan burung pelatuk yang kontras dengan hutan gersang, menjadi peringatan atas ancaman hilangnya ruang hidup.

Dalam “Imagine Prambanan Temple Someday”, Anang menghadirkan paradoks Candi Prambanan yang megah berdiri di tengah hiruk pikuk modernitas, sebuah kritik halus terhadap urbanisasi yang kerap mengorbankan ruang sejarah dan budaya. Di sisi lain, karya-karya seperti “Little Yellow Bird” dan “A Father’s Love for His Child” merekam momen keindahan sekaligus menegaskan nilai universal tentang keseimbangan alam dan kasih sayang.

Adapula kolaborasi dengan maestro Nasirun melahirkan seri NangSirun, yang memadukan realitas fotografi dengan spiritualitas sapuan akrilik. Kolaborasi ini menjadi ruang perjumpaan dua seniman lintas medium yang memperluas lapisan makna dari sebuah karya seni.

(Ridar/*).

No More Posts Available.

No more pages to load.