NASIONALNEWS.ID BANDAR LAMPUNG – Para pengemudi bus antar kota antar propinsi (AKAP) lintas Jawa Sumatera mengajukan usul menghapus sistem barcode (kode QR) di seluruh SPBU di lima provinsi Lampung , Sumatera Selatan, Jambi,Riau dan Sumatera Utara mengikuti langkah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang sudah menghapus sistem barcode diseluruh SPBU yang ada di Nangroe Aceh Darussalam.
“Kami menyambut baik gebrakan gubernur Aceh yang menghapus sistim barcode dalam memperoleh bahan bakar minyak diseluruh Aceh. Kearifan dan kebijakan itu dalam memudahkan semua warga termasuk kami yang bekerja disemua perusahaan bus” kata salah seorang driver bus Siliwangi Antar Nusa (SAN) kepada NasionalNews.id di Bandar Lampung, Kamis (10/7/2025) .
Perusahaan Organda SAN (Siliwangi Antar Nusa) adalah salah satu dari anggota IPOMI (Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia) yang mewadahi para pengusaha otobus muda di Indonesia yang bertujuan memajukan industri transportasi bus dan meningkatkan pelayanan transportasi dibawah komando Kurnia Lesani Adnan.
Pemandangan antrian panjang yang berlangsung dihampir semua SPBU di Lampung, Sumatera Selatan,Jambi dan Riau khususnya di Jalan Lintas Timur sudah berlangsung lama dan sampai sejauh ini belum terlihat solusi yang tepat yang seharusnya dilakukan aparat terkait.
“Menurut hemat kami sebaiknya sistim barcode perlu ditinjau ulang termasuk kesiapan instansi terkait yang mengelola bahan bakar minyak. Dua masalah inilah pangkal semuanya,” celetuk seorang driver dari PO Handoyo.
Sejak dihapuskan sistem barcode di seluruh Nangroe Aceh Darussalam diakui seorang warga yang berasal dari Desa Jagong Jeget Takengon Aceh Tengah dan dia sebagai pemilik perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo itu merasakan kemudahan dalam memasarkan hasil perkebunan kopi Arabika dengan tujuan ekspor melalui pelabuhan Belawan Medan.
“Sejak dihapusnya sistim barcode oleh Gubernur Aceh minyak solar malah berlebihan ditempat kami tidak demikian halnya sebelumnya,” kata Achmad Fuad (50) petani kopi Arabika asal Dusun Jagong Jeget Takengon kepada NasionalNews.id di sela-sela perjalanannya.
Achmad Fuad salah seorang warga pendatang asal Cilacap yang ikut program transmigrasi di Aceh pada tahun 1982, khususnya di Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Tengah, melibatkan pemindahan penduduk dari daerah (terutama Jawa) ke wilayah tersebut. Tujuannya adalah pemerataan penduduk dan pemanfaatan lahan. Di Aceh Tengah, transmigrasi ini terkonsentrasi di Kecamatan Jagong Jeget.
Terkait dengan cara mudah memperoleh BBM bersubsidi dengan cara mengelabui petugas SPBU dengan modus mengganti plat nomor kendaraan. Menurut salah seorang pengemudi bus yang ditemui NasionalNews.id disebuah SPBU di Pangkalan Kerinci Riau perbuatan itu terpaksa dilakukan tanpa sepengetahuan pemilik bus.
“Kami harus pandai mengatasi masalah bahan bakar pemilik bus tidak mau tau yang penting bus tetap jalan”,” pungkasnya. (M Ridar Harahap).









