Kepadatan Tikus di Sleman Tinggi, Warga Diminta Waspada Leptospirosis

oleh -
drkhamidah
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, M.M.R. (Foto: Ist.)

NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Memasuki musim hujan, masyarakat Kabupaten Sleman diminta lebih waspada terhadap ancaman leptospirosis. Penyakit yang ditularkan melalui bakteri dari urine hewan terinfeksi, terutama tikus, ini menjadi perhatian serius karena tingginya kepadatan populasi tikus di sejumlah lingkungan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mencatat, keberhasilan perangkap tikus atau Rodent Trap Success Rate mencapai 34,2 persen pada 2025 dan 2026. Angka tersebut menunjukkan kepadatan populasi tikus yang sangat tinggi.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, M.M.R., mengungkapkan kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama ketika curah hujan meningkat dan banyak genangan air.

Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bersama wartawan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (5/11/2026).

Menurut Khamidah, pergantian musim dapat memengaruhi risiko penularan berbagai penyakit. Selain leptospirosis, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare.

“Pergantian musim bukan berarti setiap penyakit pasti meningkat. Namun, perubahan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat dapat memengaruhi risiko penularan penyakit,” demikian imbauan Dinkes Sleman.

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Leptospira. Penularannya bisa terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi.

Bakteri tersebut dapat masuk melalui luka pada kulit maupun selaput lendir mulut, hidung, dan mata.

Risiko paparan meningkat ketika masyarakat beraktivitas di genangan air, saluran drainase, sawah, kebun, atau lokasi lain yang berpotensi tercemar urine tikus.

Karena itu, warga diminta menghindari kontak langsung dengan air banjir maupun genangan yang berisiko tercemar. Jika terpaksa beraktivitas di lokasi tersebut, gunakan sepatu bot dan sarung tangan tahan air.

Luka pada tubuh juga perlu ditutup menggunakan pelindung kedap air. Setelah beraktivitas, segera bersihkan tubuh dengan air bersih.

Dinkes juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan rumah, mengelola sampah dengan baik, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta mengendalikan populasi tikus.

Warga perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam mendadak, nyeri otot terutama pada betis, atau sakit kepala setelah terpapar lingkungan berisiko.

Leptospirosis tidak boleh dianggap sepele karena dapat berkembang menjadi penyakit berat apabila terlambat ditangani.

DBD Menurun, Pencegahan Tetap Diperlukan

Di sisi lain, perkembangan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Sleman menunjukkan tren penurunan hingga Oktober 2026, berdasarkan data sampai minggu ke-41.

Dinkes Sleman mencatat, kasus DBD mengalami penurunan sejak 2020 setelah penerapan teknologi Wolbachia. Namun, kasus kembali meningkat pada 2024 seiring fenomena El Nino yang juga berdampak pada peningkatan kasus secara nasional.

Upaya pengendalian terus dilakukan melalui surveilans kasus, pengendalian vektor, dan sosialisasi kepada masyarakat.

Selain teknologi Wolbachia, langkah pengendalian juga dilakukan melalui pemberian larvasida dan fogging berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi.

Masyarakat tetap diminta menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Warga juga dianjurkan menggunakan obat antinyamuk, memasang kasa pada ventilasi, dan rutin memeriksa keberadaan jentik di lingkungan rumah.

Waspadai ISPA dan Diare

Selain leptospirosis dan DBD, perubahan cuaca juga perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi risiko gangguan saluran pernapasan atau ISPA.

Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri. Penularannya dapat terjadi melalui percikan pernapasan, aerosol, serta kontak dengan tangan atau permukaan yang terkontaminasi.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta rajin mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga ventilasi rumah, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika mengalami gejala gangguan pernapasan atau berada di lingkungan berisiko.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi dan resep tenaga kesehatan. Sebab, tidak semua ISPA disebabkan oleh bakteri.

Sementara itu, penyakit diare perlu diantisipasi dengan memastikan air minum aman, menjaga kebersihan makanan, mencuci tangan menggunakan sabun, serta menggunakan jamban sehat.

Dinkes Sleman terus memperkuat pemantauan penyakit, surveilans kesehatan, deteksi dini, edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk, serta koordinasi dengan puskesmas dan berbagai sektor terkait.

Khamidah mengajak masyarakat tidak hanya menunggu munculnya kasus penyakit, tetapi mulai melakukan pencegahan dari rumah masing-masing.

Kewaspadaan terhadap gejala awal, menjaga kebersihan lingkungan, dan segera memeriksakan diri ketika mengalami keluhan yang mengarah pada penyakit serius menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan keluarga. (Jat)

No More Posts Available.

No more pages to load.